Silakan Baca Postingan baru 2016. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste maka saya akan melaporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste diketahu melalui www.google.co.id/. Selamat Berkarya

IKLAN

Kini hadir layanan yang memudahkan urusan tiket dan hotel di Indonesia dan dunia

Atasi Masalah Anda Bersama Kami

Atasi Masalah Anda Bersama Kami
Silakan konsultasikan kesulitan Anda di: 081388662585

Monday, May 16, 2016

Contoh Bab I dan II Skripsi

Contoh Latar Belakang Masalah Bab I dan II Kajian Teori

Bagi mereka yang berminat untuk mendapatkan bahan-bahan refrensi yaitu contoh pembuatan Bab I, khususnya latar belakang masalah dan kajian teori Bap II maka dapat memesannya dengan menyediakan ongkos mengkonsep, mengetik dan biaya pemeliharaan web dan koneksi internet dengan harga perjudul Rp -......,00 (satu judul/variabel penelitian mulai dari Bab I dan II). Jika berminat mendapatkan maka dapat menghubungi kami. Setelah itu bahan akan dikirim ke pemesan setalah pemesan membayar biaya pembuatan contoh-contoh karya ilmiah. Bahan (Bab I dan II) yang dikirim bukan pelagiat tetapi karya sendiri/pemilik weblog. Bahan yang dikirim dapat membantu Anda mengerjakan bab I dan II.

BAB II
Kajian Teoritis-Teologis, Kerangka Berpikir dan Hipotesis

A. Kajian Teoritis-Teologis

Kajian teoritis teologis yang dimaksud disini yakni pembahasan tentang variabel yang diteliti. Setiap variabel dijelaskan dengan memakai teori (pendapat para ahli/penulis buku) yang bersifat umum. Kemudian dibangun sebuah kajian teologis terhadap variabel yang dibahas.
Misalnya dalam contoh ini, dibahas tentang variabel Keteladanan Guru dan Pembentukan karakter peserta didik. Berdasarkan pada dua variabel ini maka perlu dibahas secara teoritis dan teologis tentang keteladanan guru dan pembentukan karakter peserta didik.

Contoh:
1. Pengertian Keteladan Guru PAK

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keteladanan atau teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh. Keteladan itu berupa perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya (Tim Penyusun, 2007:1427). Sedangkan Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen adalah sejumlah perilaku atau kebiasaan Guru PAK yang dapat dijadikan sebagai contoh untuk diikuti peserta didik. Karakter guru merupakan kebiasaan yang terbentuk dalam diri guru karena pengalaman relasi dengan TUHAN, pemahaman terhadap isi Alkitab yang diajarkan Guru PAK, kebiasaan baik yang terbentuk karena lingkungan. Dalam hal ini seorang Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki sejumlah sifat mulia dalam dirinya. Sifat mulia inilah yang menjadikan guru menjadi teladan bagi peserta didik.

Di atas merupakan contoh teori tentang pengertian Keteladanan Guru PAK

2. Jabatan Guru Pendidikan Agama Kristen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar dan dimaknai sebagai tugas profesi. Sedangkan menurut Ornstein dan Levine (dalam Soetjipto, 2007:15-16) menyatakan jabatan guru memerlukan bidang ilmu dan keterampilan yang menopang dalam melaksanakan tugas pengajaran dan pendidikan. Oleh karena itu seorang guru memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang, menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan.
Bila jabatan guru dihubungkan dengan profesional maka tugas guru PAK Guru memerlukan keahlian khusus. Dalam hubungan dengan keteladanan maka profesionalisme guru terlihat dari keteladanannya dalam mengajar peserta didik yakni keteladanan dalam pelayanan, yang khas, diakui, dan dihargai oleh masyarakat dan pemerintah. Keteladanan melalui kegiatan profesional nampak dalam pelayanan kependidikan yang dilaksanakan oleh Guru PAK. Bila Guru PAK memberi layanan menguasai betul materi yang diajarkannya dan mempunyai citra yang baik di masyarakat dan dapat menunjukkan bahwa guru layak menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat yang ada disekelilingnya.

B. Kerangka Berpikir

Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen merupakan sejumlah kebiasaan baik yang terbentuk dalam diri Guru Pendidikan Agama Kristen yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik ke arah perilaku yang lebih baik. Semakin baik Guru PAK menampilkan sifat-sifat unggul dalam dirinya maka karakter tersebut akan mempengaruhi peserta didik.

C. Hipotesis

Jika guru PAK menunjukkan keteladanan maka peserta didik akan mengalami perubahan dalam karakter. Artinya semakin baik guru PAK menunjukkan teladan maka semakin terbentuk sifat-sifat unggul dalam diri peserta didik.

No comments:

Post a Comment

yes

Teori Masalah Penelitian

Teori Penyusunan Penelitian Mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi)

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”.

Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52)

Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu:

Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya

Apa yang benar-benar terjadi

Penyimpangan/masalah

Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah

Jemaat malas beribadah

Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah

Contoh deskripsi Masalah:

Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau

Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)
Cukup yakin (3)
Kurang yakin 2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di

Bab I untuk poin: Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.