Kini hadir layanan yang memudahkan urusan tiket dan hotel di Indonesia dan dunia

Atasi Masalah Anda Bersama Kami

Atasi Masalah Anda Bersama Kami
Silakan konsultasikan kesulitan Anda di: 081388662585

Thursday, May 30, 2013

Contoh BAB I SKRIPSI dan atau TESIS



Varibel Penelitian:
HUBUNGAN SEMANGAT MISI GURU PAK DAN KUALITAS PAK TERHADAP PENGINJILAN DI SMA BUAH SEMANGKA BERDAUN SIRIH
Berdasarkan judul ini maka variable yang diteliti adalah:
X1        : Semangat Misi Guru PAK
X2        : Kualitas PAK
Y         : Penginjilan di SMP/SMA/SMK ..
Hubungan       : Kata Hubungan atau pengaruh pada judul skripsi atau tesis menegaskan tentang jenis studi yang dipakai. Jadi kata hubungan pada judul di atas menegaskan bahwa jenis studi yang dipakai adalah penelitian korelasi. Suatu penelitian yang berusaha mencari tahu apakah ada hubungan atau tidak antara variable-variabel yang diteliti, antara variable bebas dan terikat. Dalam hal ini apakah ada hubungan yang positif dan signifikan antara semangat Misi Guru PAK terhadap Penginjilan, ada hubungan yang positif dan signifikan antara Kualitas PAK yang dilakukan guru PAK dengan Penginjilan di Sekolah. Apakah semangat misi Guru PAK dan Kualitas PAK secara bersama-sama memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap Penginjilan. Artinya bila Guru PAK mempunyai semangat misi maka guru PAK akan memperhatikan Penginjilan di sekolah. Bila Guru PAK melaksanakan Pembelajaran Agama Kristen secara berkuliatas maka akan memiliki hubungan denga Penginjilan (peserta didik memahami dan percaya Yesus Kristus).
Perlu diketahui bahwa studi korelasi tidak mutlak memakai kata “hubungan” atau “pengaruh” di depan judul. Bila tidak ada kata ini di judul maka dalam Bab III bagian metodologi harus dijelaskan bahwa metodologi yang dipakai adalah metodologi kuantitatif dengan jenis studi korelasi yaitu usaha untuk mencari tahu adakah hubungan antar variable yang diteliti, tetapi bila meneliti sebab akibat antara variable-variabel yang diteliti maka pakailah kata pengaruh (tapi ingat ada unsure ekperimen).

BUAH SEMANGKA BERDAUN SIRIH dalam judul di atas hanya bersifat eupemisme. Jadi tidak ada nama SMA BUAH SEMANGKA BERDAUN SIRIH

Contoh Latar Belakang Masalah dari Judul di atas dapat dilihat sbb:


BAB I[1]
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Guru Pendidikan Agama Kristen di sekolah adalah orang-orang yang secara professional melakukan salah satu tugas gereja yaitu Pendidikan Agama. Tentang tugas ini E.G. Homrighausen dan I.H. Enklaar menyatakan: “PAK adalah salah satu dari tugas gereja yang banyak itu jadi bukan satu-satunya tugas gereja, melainkan satu di antara yang lain”.[2] Selanjutnya kedua ahli ini menegaskan, “…PAK merupakan suatu fungsi gereja yang amat penting, perlulah kita menitikberatkan bahwa PAK itu adalah pendidikan yang seharusnya ditanggung dan dilaksanakan oleh gereja sendiri”.[3] Di Indonesia PAK tidak hanya menjadi tanggungjawab Gereja tetapi juga oleh pemerintah. Akan hal ini ada sisi positifnya yaitu biaya yang ditanggung gereja untuk pelaksanaan PAK di sekolah menjadi berkurang karena pemerintah menggaji guru Agama Kristen yang telah menjadi guru dengan status pegawai negeri, sedangkan Guru PAK yang berstatus swasta dan mengajar di sekolah diberi honor oleh Yayasan dan atau oleh pemerintah melalui dana bantuan pemerintah.
Di atas telah dikatakan bahwa PAK adalah salah satu tugas gereja. Pernyataan ini dapat dipahami dalam konteks bahwa gereja adalah tubuh Kristus maka apa yang dilakukan dan diajarkan Gereja bersumber dari Yesus Kristus. Jadi tugas gereja adalah tugas yang dimandatkan oleh Yesus Kristus. Jelaslah bahwa Guru PAK melakukan salah satu tugas mulia dari Yesus Kristus yaitu mengajar. Yesus Kristus semasa hidup dan pelayanan-Nya di bumi melakukan tugas mengajar (bnd. Mat.5:2, 9:35, 26:55, 21:23, Luk. 12:1). Dalam ayat-ayat ini memaparkan kegiatan pelayanan Yesus dalam hal mengajar, Yesus dari kota ke desa dan dari desa ke kota melakukan tugas mengajar, memberitakan Injil kerajaan Allah dan melenyapkan kelemahan atau mujizat-mujizat. Seperti menyembuhkan, mengusir roh jahat dan lain-lain.
Merujuk pada paparan di atas maka pekerjaan mengajar yang dilakukan Guru adalah tugas yang mulia. Oleh karena itu, pekerjaan mengajar mesti dilakukan secara sungguh-sungguh. Guru Pendidikan Agama Kristen yang melaksanakan tugas pengajaran Agama Kristen di sekolah-sekolah Negeri maupun swasta tidak hanya sebatas menyampaikan materi Pengajaran Agama Kristen tetapi lebih dari pada itu Guru PAK harus berhati misi yaitu punya semangat memberitakan Injil yaitu kabar keselamatan kepada peserta didik. Sering Guru Agama Kristen di sekolah hanya sebatas mengajar dalam arti mentrasfer pengetahuan saja, tidak peduli dengan misi Kristen yaitu menyampaikan berita Keselamatan dari Yesus Kristus kepada peserta didik yang diajarnya. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya semangat misi dalam diri Guru Pendidikan Agama Kristen. Para Guru PAK harus berada dalam misi-Nya Tuhan atau mission dei. Allah mengutus anak-Nya dan anak-Nya mengutus Gereja untuk menyampaikan kabar keselamatan.
Semangat misi yang harus dimiliki Guru Pendidikan Agama Kristen adalah kecintaan akan orang-orang berdosa yang perlu mendengar berita Injil Yesus Kristus. Akan hal ini E.G. Homrighausen dan I.H. Enklaar menyatakan “Injil Yesus Kristus harus diberitakan sedemikian rupa hingga memulihkan manusia. Injil hendak mentobatkan orang. Injil mengadili manusia dan menyelamatkannya”.[4]   Kedua ahli pendidikan ini melanjutkan dengan menyatakan “penginjilan itu tidak lain dari pada membawa Yesus Kristus kepada sesame kita, sehingga mereka dapat berjumpa muka, dalam suatu pertemuan perorangan yang mesra”.[5] Yang dimaksud dengan mesra disini yakni perjumpaan dengan Yesus Kristus itu membuat orang yang menerima Yesus mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Suatu kebahagiaan yang tidak ada bandingnya. Masalah yang terjadi yaitu bahwa tidak banyak Guru PAK yang menaruh perhatian pada kecintaan memperkenalkan Yesus kepada orang lain, kepada peserta didik yang Kristen maupun yang bukan Kristen.[6] Hal ini bukan Kristenisasi tetapi hak menawarkan kabar keselamatan itu kepada peserta didik. Jadi pekaran Injil adalah tugas gereja yang dalam hal ini salah satunya dilakukan melalui Pendidikan Agama Kristen.
Pendidikan Agama Kristen yang dilaksanakan di sekolah juga harus menunujukkan kualitas yaitu perubahan yang dihasilkan melalui Pendidikan Agama Kristen. Perubahan itu teralami dalam diri peserta didik yang mengikuti PAK di sekolah. Untuk kualitas PAK di sekolah maka perlu tujuan PAK yang secara jelas akan dicapainya. Untuk mencapai kualitas PAK maka perlu ditopang dengan materi pengajaran. Materi pengajaran Agama Kristen bersumber dari Alkitab. Pengajaran firman berkuasa merubah hidup peserta didik. Inilah kualitas PAK itu yaitu PAK di sekolah harus memberi perubahan yaitu pertobatan dalam diri peserta didik. Perubahan itu meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Firman Tuhan menegaskan bahwa seseorang harus mengasihi Tuhan dengan segenap akal (segenap kognitifnya), segenapk budi (segenap psikomotorik), segenap hati (segenap afektif). Kenyataan yang terjadi adalah bahwa peserta didik terpuruk dalam berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan PAK yang dilaksanakan di sekolah.
Penginjilan adalah tugas gereja. Penginjilan dapat dipahami sebagai upaya Gereja membangun tubuh Kristus dengan cara bersekutu, menyembah, dan melayani Dia secara utuh. Oleh sebab itu, orang percaya perlu memahami bahwa penginjilan itu merupakan bagian dari upaya membangun tubuh Kristus.[7] Pemahaman ini sangat penting karena penginjilan tidak dapat dipisahkan dari pribadi dan karya Tuhan Yesus Kristus. Para murid diperintahkan Yesus untuk mewartakan Injil (kabar baik), dalam perintah ini terdapat amanat didaktik yaitu “menjadikan orang-orang untuk menjadi murid Yesus Kristus, atau menjadi murid-Ku (Mat. 28:18-20; bnd. Kis. 1:8).
Guru PAK sebagai bagian dari anggota gereja ikut terlibat dalam kegiatan penginjilan. R. C. Sproul menyatakan, “Semua anggota Gereja hendaklah menjadikan Amanat Agung sebagai tujuan hidup dan bertanggung jawab untuk menjalankannya dengan setia”.[8] Searah dengan pemahaman ini, Billy Graham menyatakan: setiap orang Kristen harus mewartkan Injil Yesus Kristus, yaitu berita damai sejahtera kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Ini berarti setiap orang Kristen harus menjadi sarana untuk menyalurkan damai Yesus Kristus ke dalam hati orang-orang.[9] Sifat Injil Yesus Kristus adalah universal, berita itu berlakuk bagi siapa saja. Semua orang dari suku bangsa manapun mesti  mendengarkan Injil Yesus Kristus.[10]
Berdasarkan pemaran di atas maka dirumuskan tiga variable penelitian yaitu: semangat misi Guru PAK (X1) dan kualitas Pendidikan Agama Kristen (X2) terhadap Penginjilan di SMA  Buah Semangka Berdaun Sirih.[11]

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan  latar belakang  masalah di atas, maka penulis mengidentifikasi beberapa pokok masalah sbb:
1.      Apakah hubungan antara semangat misi Guru PAK dengan penginjilan di SMA ………?
2.      Bagaimana seorang Guru PAK sebagai penginjil dapat melaksanakan tugasnya secara baik di sekolah?
3.      Apakah penginjilan adalah tugas dan tanggung jawab Guru PAK?
4.      Apakah kualitas PAK memiliki hubungan dengan penginjilan di SMA ……..?
5.      Apakah semangat misi dan kualitas PAK secara bersama-sama mempengaruhi penginjilan di SMA ………………?

C.    Batasan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka menjadi jelas bahwa ada beberapa masalah yang tidak dapat diselesaikan secara menyeluruh. Oleh karena itu maka penelitian ini dibatasi pada masalah no. 1 dan 4 dengan variable terikat penelitian ini yaitu Penginjilan di SMA Buah Semangka Berdaun Sirih. Jelasnya penelitian ini dibatasi pada variable berikut:
1.      Semangat Misi Guru PAK
2.      Kualitas PAK
3.      Penginjilan di SMA Buah Semangka Berduan Sirih


D.    Rumusan Masalah
Demi terarahnya penelitian ini maka rumusan masalah berdasarkan batasan masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Seberapa besar hubungan semangat misi Guru PAK terhadap Penginjilan di SMA ……..?
2.      Seberapa besar hubungan kualitas PAK terhadap Penginjilan di SMA ………..?
3.      Seberapa besar hubungan antara semangat misi Guru PAK dan Kualitas PAK baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap Penginjilan di SMA …….?

E.     Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan skripsi ini, adalah:
1.      Untuk menjelaskan seberapa besar hubungan semangat misi Guru PAK terhadap Penginjilan di SMA ……..?
2.      Untuk menjelaskan seberapa besar hubungan kualitas PAK terhadap Penginjilan di SMA ……….?
3.      Untuk menjelaskan seberapa besar hubungan antara semangat misi Guru PAK dan Kualitas PAK baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap Penginjilan di SMA ……..?

F.     Kegunaan/Pentingnya Penelitian

1.      Memberikan kontribusi bagi Gereja untuk digunakan sebagai bahan pembinaan warga Gereja.
2.      Memberikan kontribusi bagi disiplin ilmu teologi, khususnya penginjilan dalam kaitannya dengan tugas seorang guru PAK.
3.      Memberikan kontribusi bagi civitas akademika STT ……... (tempat mahasiswa akan menyelesaikan studi)




SEMOGA MENGINSPIRASI YANG SEDANG MENCARI JUDUL DAN MEMBUAT MASALAH PENELITIAN
BAB I
PENDAHULUAN

Silakan memberi komentar di tempat komentar. Komentar tidak Bersifat SARA.


[1] Bab I dari Judul Hubungan Semangat Misi Guru PAK dan Kualitas PAK terhadap Penginjilan di SMA …..
[2] E.G.Homrighausen dan I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 20
[3] Ibid
[4] Ibid, hlm. 178
[5] Ibid
[6] Aspek ini bukanlah tuduhan yang tidak beralasan tetapi ketika diamati atau diadakan wawancara dan pengamatan akan ditemukan bahwa tidak banyak guru PAK yang bersemangat misi. PAK hanya dilakukan untuk mendapat honor.
[7] Midia KH. Sirait, Menjadi Gereja Misioner (Jakarta: tp, 1999), hlm. 14
[8] R. C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: SAAT, 1997), hlm. 286
[9] Billy Graham, Beritakanlah Injil dengan Kasih (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1999), 164-165
[10] Stephen Tong, Teologi Penginjilan (Jakarta: LRII, 1988), 20
[11] Tidak ada SMA Buah Semangka Berdaun Sirih, hanya sekedar istilah namun punya makna tersendiri, pembaca hendaklah memahami dalam gayanya.

1 comment:

  1. Salam Kasih,,,

    Saya BETIELI GULO, Mahasiswa M.PAK UKI angkatan 2012 sekrang semester III,
    sedang bergumul untuk menulis Tesis,, setelah membaca contoh penulisan tesisi berJudul HUBUNGAN MISI GURU...
    Saya tertarik untuk menggembangkan...
    Apakah Bapak Yonas Muanley mengijinkannya? dan Apakah Judul ini pernah diangkat menjadi sebuah Karya ilmiah?

    terima kasih, partisipasinya, saya menunggu konfirmasi dari Bapak...

    Salam Kasih
    Betieli Gulo
    Email: tiel.gulo@yahoo.com

    ReplyDelete

Teori Masalah Penelitian

Teori Penyusunan Penelitian Mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi)

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”.

Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52)

Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu:

Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya

Apa yang benar-benar terjadi

Penyimpangan/masalah

Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah

Jemaat malas beribadah

Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah

Contoh deskripsi Masalah:

Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau

Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)
Cukup yakin (3)
Kurang yakin 2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di

Bab I untuk poin: Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.