Silakan Baca Postingan baru 2016. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste maka saya akan melaporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste diketahu melalui www.google.co.id/. Selamat Berkarya

IKLAN

Kini hadir layanan yang memudahkan urusan tiket dan hotel di Indonesia dan dunia

Atasi Masalah Anda Bersama Kami

Atasi Masalah Anda Bersama Kami
Silakan konsultasikan kesulitan Anda di: 081388662585

Tuesday, May 7, 2013

Variabel Penelitian Misiologi dan Teologi

   Berikut ini saya berikan beberapa judul tesis:



1.      Motivasi Misi Kristosentris, Motivasi Misi Theosentris, Motivasi Misi Ekklesiosentris Terhadap Pelayananan Misi Rasa Indonesia 
Penjelasan:
Motivasi Misi Kristosentris             = X1
Motivasi Misi Theosentris              = X2
Motivasi Misi Ekklesiosentris          = X3
Pelayanan Misi Rasa Indonesia     = Y

Pelayanan Misi Rasa Indonesia adalah pelayanan yang mempertimbangkan kemajemukan Indonesia, khususnya kemajemukan agama. Bagian ini menjadi kendala terbesar dalam relasi religius. Apakah agama lain menjadi musuh atau rekan teologis dalam kebersamaan menuju tujuan yang sama. Adakah keselamatan dalam agama-agama lain, selain agama Kristen. Adakah keselamatan di luar Yesus (model misi theosentris), atau tetap setia pada misi Kristosentris, keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus. Jika demikian bagaimana yang banyak di antara yang satu? Apakah yang banyak memperlengkapi yang satu. Rekan-rekan misiologi pasti lebih banyak memahami misi dalam masyarakat majemuk.

2.      Pengaruh kuasa Dalam Nama Yesus, Dalam Nama Tuhan, Dalam Nama Allah Terhadap Kesembuhan Orang yang dirasuk setan

Penjelasan Variabel:

X1       : “Dalam nama Yesus” (Tuhan Yesus)
X2       : “Dalam nama Tuhan”
X3       :  “Dalam nama Allah” (Tuhan Allah)
Y         : “Kesembuhan dari Kerasukan Setan (Gila)

Suatu saat saya merenung ada apa dengan nama Yesus, ada kelompok tertentu alergi dengan nama Yesus, memandang Yesus hanya sebagai manusia yang bermoral tinggi, atau hanya nabi dan tidak lebih dari itu. Kemudian dalam pergumulan masyarakat majemuk, beberapa teolog mengusulkan pendekatan teosentris ketimbang Kristosentris. Alasannya bahwa semua agama menuju pada tujuan yang sama, yaitu sama-sama bicara tentang pencipta langit dan bumi yang diberi nama berbeda-beda, misalnya orang Indonesia memakai kata Tuhan. Jadi menurut kelompok teosentris, pendekatan inilah yang lebih memadai karena akan diterima oleh semua agama. Jika demikian “ada apa dengan kuasa dalam nama Yesus”? Mulai dari pengalaman Petrus, Pengalaman Penginjil-penginjil yang memakai Nama Yesus untuk mendoakan dan menengking setan, pengalaman orang-orang awam (anggota persekutuan doa) mendoakan orang sakit dalam nama Yesus dan sembuh, mengusir setan dan lain-lain. Kita dapat meneliti secara empiris pengalaman-pengalaman orang-orang yang mengalami mujizat kesembuhan atau melakukan mujizat kesembuhan dalam nama Tuhan Yesus. Bila hendak meneliti itu, maka janganlah datang ke teolog-teolog yang tidak mengalami, ini sama dengan “penelitian tentang enaknya minum kopi. Jangan meneliti tentang orang-orang yang tidak minum kopi, tetapi datangilah atau sebarlah angket ke orang-orang yang minum kopi, pastilah mereka katakan: minum kopi itu enak. Demikian juga kesembuhan dalam nama Tuhan Yesus. 

Untuk X1        : Kuasa dalam nama Yesus sebaiknya dieksegesis teks-teks yang berhubungan dengan pengalaman kesembuhan. Misalnya teks yang menggambarkan tindakan Petrus menggunakan nama Yesus dan orang lumpuhpun berjalan.

Semoga ini menginspirasi yang sedang bergumul dalam variabel penelitian misiologi dan teologi 


Mungkin Anda orang super sibuk sehingga sulit konsentrasi mengerjakan penelitian maka kami bersedia dihubungi untuk berdiskusi, agar Anda dapat inspirasi menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasi anda. Jika anda membutuhkan bantuan, konsultasi masalah penelitian skripsi, tesis maka kami dengan senang hati memberi bantuan sesuai kemampuan. Kami sedang mempersiapkan untuk konsultasi disertasi, khususnya Pendidikan Kristen. Khusus untuk disertasi hanya dibatasi sampai 5 variabel. Bagi yang berminta diskusi dan konsultasi, silakan hubungi kami di: 081388662585 



BAGI MEREKE YANG SUPER SIBUK,

PUNYA IDE-IDE YANG CEMERLANG TENTANG VARIABEL PENELITIAN TETAPI TERKENDALA DENGAN KESIBUKAN KAMI DAPAT MEMBANTU ANDA DALAM HAL MEMBERI KONSULTASI PENULISAN DAN PENELITIAN
SKRIPSI DAN TESIS
KONSENTRASI:
TEOLOGI KEPENDETAAN,
MISIOLOGI DAN
KEPEMIMPINAN GEREJA

Kerangka Penelitian Kuantitatif:
BAB I Pendahuluan
BAB II KAJIAN TEOLOGIS-TEORITIS/TEORITIS
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA
BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN REKOMENDASI
Kerangka Penelitian Kualitatif:
BAB I PENDAHULUAN
BAB II KAJIAN TEORI
BAB III METODOLOGI
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN
BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN REKOMENDASI

YANG BERMINAT
Hubungi kami di: 081388662585


No comments:

Post a Comment

yes

Teori Masalah Penelitian

Teori Penyusunan Penelitian Mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi)

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”.

Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52)

Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu:

Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya

Apa yang benar-benar terjadi

Penyimpangan/masalah

Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah

Jemaat malas beribadah

Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah

Contoh deskripsi Masalah:

Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau

Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)
Cukup yakin (3)
Kurang yakin 2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di

Bab I untuk poin: Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.