Silakan Baca Postingan baru 2016. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste maka saya akan melaporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste diketahu melalui www.google.co.id/. Selamat Berkarya

Atasi Masalah Anda Bersama Kami

Atasi Masalah Anda Bersama Kami
Silakan konsultasikan kesulitan Anda di: 081388662585

Accesstrade

Thursday, July 28, 2016

Contoh Kajian Bab II Tesis Magister Teologi

BAB II
KAJIAN TEOLOGIS PENDAMAIAN MENURUT
SURAT KOLOSE

A. Definisi Teologi Pendamaian

Pendamaian menunjukkan adanya suasana hubungan yang harmonis atau serasi antara dua atau lebih dari dua pihak. Perdamaian menunjukkan keadaan damai atau suasana yang menentramkan. Pemahaman seperti ini dapat dimaklumi karena secara umum, pendamaian berasal dari kata dasar damai. Damai adalah suasana di mana tidak terdapat permusuhan. Damai menunjuk pada hubungan yang serasi antara dua pihak atau lebih. Damai juga dapat menunjuk pada suasana tenang. Adanya suasana yang Indah dapat pula digambarkan sebagai keadaan yang damai. Di Indonesia, ada kata yang menunjukkan suasana tersebut, kata itu yakni “damai sejahtera”. Kata ini dipakai untuk menggambarkan suatu suasana yang sungguh-sungguh aman dan tentram.(A.A.Yewango, 1983:1-2)
Selain kata Indonesia di atas, ada pula kata Inggris yang menggambarkan pendamaian. Kata yang dimaksud yaitu “peace”. Kata ini memiliki pengertian: bebas dari atau berhenti dari peperangan, bebas dari ketidak teraturan sipil, ketenangan dan kesentosaan. Jadi, berdasarkan uraian ini, damai memiliki pengertian: kesentosaan di antara sesame (hubungan social yang harmonis), kesentosaan alam (hubungan manusia dengan alam), kesentosaan batiniah (kesejahteraan batin manusia). (A.A.Yewango, 1983:1-2). Dengan kata lain damai adalah suatu suasana, sedangkan pendamaian adalah suatu proses yang sedang berlangsung menuju suasana damai. Apabila ada dua pihak yang bermusuhan dan ada usaha untuk melupakan permusuhan maka hal ini disebut proses pendamaian.
Pengertian pendamaian dalam paparan di atas bersifat umum, jika demikian apa pengertian pendamaian menurut Alkitab dan hal apa yang melatarbelakangi akan kebutuhan pendamaian? Dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru terdapat kesaksian tentang adanya permusuhan antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Dalam kitab Kejadian disaksikan bahwa manusia berbuat dosa (bermusuhan) dengan Allah.
Dalam konteks iman Kristen, keadaan harmonis antara manusia dengan Allah, sesame dan lingkungan dapat diperhatikan dalam narasi Kejadian 1 dan 2. Dalam narasi ini, penulis kitab Kejadian memaparkan bahwa manusia berada dalam keadaan ketaatan pada Allah, manusia diberi kuasa mengusahakan dan memelihara lingkungan, tidak ada pelanggaran antara manusia dan sesamanya. Akan tetapi dalam narasi Kejadian 3, dipaparkan bahwa manusia kurang harmonis lagi dengan Allah (bersembunyi), alama terkutuk karena kesalahan manusia, manusia mulai membunuh sesamanya (pembunuhan Habel oleh kain). Pelanggaran demi pelanggaran terjadi, menara Babel dan peristiwa lainnya menunjukkan bahwa manusia berada dalam suasana kurang harmonis, permusuhan. Kekurangan harmonisan ini disebabkan karena manusia telah berdosa.
Benarkah manusia berada dalam keadaan kurang harmonis dengan Allah, sesame dan alam semesta sehingga dibutuhkan pendamaian? Hal ini akan Nampak dalam uraian tentang pengertian dosa menurut Alkitab.
Menurut Alkitab, dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Beberapa kata Yunani yang dipakai untuk dosa. Pertama, parabasis yang memiliki arti “melawati, melanggar”. Berdasar pada arti kata ini maka dosa adalah perbuatan manusia melewati atau melanggar sabda-Nya. Dengan demikian dosa adalah kegagalan untuk selaras dengan standar Allah.
Kedua, “hamartia” berarti “meleset dari sasaran”, meninggalkan jalan kebenaran. Berdasarkan pengertian kata ini maka dosa adalah tindakan manusia yang meleset dari sasaran, atau meninggalkan kebenaran. Yang benar adalah TUHAN. Bersalah berarti meninggalkan TUHAN. Semua orang telah meleset dari standar Allah dan terus gagal untuk mencapai standar itu. Standar itu dapat dipahami dalam firman-Nya kepada manusia pertama, dan khusus untuk bangsa Israel Allah telah memberikan hukum Musa untuk menjadi standar (Rom. 4:15). Dosa adalah pemberontakan pada Allah. Ketiga, “anomia”, yang berarti “tanpa hukum” (I Yoh. 3:4). Dosa adalah tindakan yang salah pada Allah dan manusia. Rom 1:18 menunjuk pada “segala kefasikan dan kelaliman manusia”.(Paul Ens, 2003:383)
Keempat, “paraptoma” menunjuk pada langkah yang salah yang dikontraskan dengan yang benar ( Rom. 4:25, Gal. 6:1, Ef. 2:1). Kelima, “parabasis” berarti melanggar keluar, suatu penyimpangan dari iman yang benar (Rom. 2:23, 4:15, Gal. 3:19). Keenam, Anomia berarti tanpa hukum atau pelanggaran (II Kor. 6:14, II Tes. 2:3).
Menurut Paul Enns, dosa adalah sebuah hutang, mengusulkan obligasi manusia dan ketidak mampuan manusia untuk membayar hutang itu (Ef. 1:7, Kol. 1:14). Dalam pemahaman ini, dosa merupakan bentuk penyimpangan dari jalan yang benar; Allah telah menjadikan hukum Musa sebagai standar, tetapi orang tidak mencapai standar-Nya (Paul Ens, 2003:383) (bnd. Rom. 2:14, 15,23; 4:15).
Manusia berdosa adalah adalah manusia yang tanpa hukum dan menjadi pemberontakan (Rom. 11:30; Ef. 2:2, 5:6; Kol. 3:6,) yang menyangkut tindakan eksternal maupun sikap internal. Rom. 1:29-31 mengombinasikan tindakan dan sikap; tindakan itu adalah pembunuhan, immoralitas, kemabukan, dan homoseksualitas sedangkan sikap adalah iri hati, kebodohan, dan tidak beriman. Manusia berdosa adalah manusia yang diperbudak dosa, manusia yang tidak percaya (Rom. 6:16-17) manusia yang tanpa kebenaran (Rom. 1:8) dan menggantikannya dengan kebohongan.
Manusia berdosa tidak berada dalam pendamaian. Manusia butuh pendamaian. Pendamaian adalah suasana keharmonisan. Dalam kesaksian kitab suci, khususnya dalam Kitab Kejadian dinyatakan bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa manusia berada dalam keharmonisan antara manusia dengan Tuhan dan alam yaitu tempat manusia berdiam. Akan tetapi setelah manusia berdosa maka manusia mengalami permusuhan dengan Tuhan dan alam.
Permusuhan manusia dengan Allah yaitu bahwa manusia hidup tidak lagi berdasarkan kehendak Tuhan tetapi kehendak manusia yang dikuasai dosa. Sedangkan permusuhan dengan alam yaitu bahwa tanah terkutuk karena kesalahan Adam (manusia). Hal ini disaksikan dalam Kejadian 3:17-18. Manusia juga bermusuhan dengan sesamanya, Kain membunuh adiknya (Kej.4). Kejahatan manusia semakin bertambah sampai dimusnakan dengan air bah (Kej. 7). Menara Babel menujukkan bagaimana manusia menunjukkan permusuhan dengan Tuhan dengan jalan tidak menuruti perintah Tuhan, membangun menara Babel untuk mencari nama dan dengan tujuan agar manusia tidak terserak, sedangkan Tuhan menghendaki agar manusia dapat mendiami bumi (Kej. 11).
Permusuhan antara manusia dengan Tuhan terus berlangsung sepanjang zaman. Sejak Adam dan Hawa, terpilihnya Israel sebagai sebuah bangsa. Permusuhan itu tetap berlangsung, permusuhan itu diwujudkan dengan tindakan memberontak atau tidak menuruti firman Tuhan. Kondisi demikian menghantar manusia pada status “bermusuh” dengan Allah dan butuh pendamaian. Dalam Perjanjian Lama pendamaian itu dilaksanakan dalam bentuk korban binatang. Andreas A. Yewango mengutip definisi dosa menurut Anselmus, dengan menyatakan bahwa:

“dosa adalah suatu pelanggaran yang berat. Oleh dosa itu, maka kehormatan Allah direbut. Tetapi kehormatan Allah itu harus dikembalikan kepada Allah … atau kalau tidak, maka manusia harus ditempatkan di bawah penghukuman Allah. Penghukuman itu berarti binasanya manusia, sedangkan Allah mempunyai rencana dengan manusia”.

Yewango melanjutkan pemahaman Anselmus tentang pendamaian dengan menyatakan bahwa menurut Anselmus, manusia tidak sanggup mengembalikan kehormatan Allah. Oleh karena itu maka Allah sendiri yang memikul hukuman itu. Akan tetapi bagaimana mungkin Allah menghukum Allah, sedangkan yang melakukan dosa adalah manusia. Bagaimana itu dapat diwujudkan Allah?. (Yewango, 1983:21). Dosa adalah sebuah hutang, dan manusia tidak mampu membayar hutang itu (bnd Ef. 1:7, Kol. 1:14).
Dalam teori pendamaian muncul beragam pandangan tentang pendamaian. Misalnya Aulen mengemukakan tiga tipe pendamaian yaitu, (1) tipe klassik yang menyatakan: Allah memperdamaiankan dunia ini atas kuasa kejahatan dan kemenangan Kristus, (2) tipe Latin, atau yang biasa dikenal dengan teori satisfaktio yang dipelopori oleh Anselmus, yaitu bahwa Allah sendiri harus didamaikan oleh perbuatan pengorbanan Yesus Kristus. Ada denda yang harus dibayar. Denda itu harus dibayar untuk mengembalikan kehormatan Allah yang telah dirampas manusia. (3) tipe humanis yaitu suatu kelompok yang disebut dengan “protestantisme baru” dengan tokoh-tokoh seperti: F. Schleirmacher, Albert Ritschl, Adolf von Harnack, E. Troeltsc, mereka menyatakan: Allah sendiri muncul sebagai yang mendamaikan, mengasihi dan oleh karena kasih-Nya terhadap manusia maka Ia mendamaikan diri-Nya. (Yewango, 1983:21). Menurut teori ini, karena manusia tidak mampu maka Allah sendiri meredam murkanya atau mendamaikan diri-Nya.
Ajaran tentang pendamaian memiliki hubungan dengan penebusan yang juga memiliki masalah yang rumit yaitu kepada siapa hutang dosa itu dibayar? Apakah kepada Allah atau kepada Setan?. Pokok ini penting tetapi bukanlah isu utama dari penelitian tentang pendamaian. Penulis menyadari bahwa pokok ini juga disinggung dalam tulisan Paulus, khususnya dalam Efsus dan Kolose (bnd. Ef. 1:7, Kol. 1:14). Manusia berdosa berada dalam posisi berseteru atau bermusuhan dengan Allah. Antara Allah dan manusia perlu didamaikan. Allah murka atas manusia karena manusia tidak mengindahkan sabda-Nya. Oleh karena itu manusia membutuhkan pendamaian. Untuk memenuhi pendamaian maka dalam Perjanijian Lama manusia yang berdosa harus mempersembahkan korban sehingga manusia berdosa didamaikan dengan Allah. Ini berarti untuk mewujudkan pendamaian itu harus ada korban. Korban tersebut dalam bentuk binatang.
Kebutuhan akan perdamaian inilah maka dalam Perjanjian Lama terdapat pengajaran dan praktik tentang persembahan korban. Dalam akhir dari kitab Keluaran, terdapat penjelasan tentang korban-korban yang dilakukan di tempat maha suci (pasal 1-7). Korban Perjanjian Lama dalam Kitab Imamat dan penggenapan makna korban dalam Perjanjian Baru. Dalam kitab Imamat terdapat ajaran tentang pemulihan hubungan dengan Allah yaitu peraturan mengenai korban dan penyucian atau penebusan Dosa. Peraturan ini mesti dipatuhi umat pilihan-Nya. Dalam akhir kitab Imamat terdapat ajaran tentang hidup sebagai umat Allah.(Dennis Green, 1992:35). Dalam Perjanjian Baru pengorbanan Kristus membawa penyucian yang menyeluruh, oleh karena itu hukum-hukum mengenai korban dan upacara penyucian tidak lagi berlaku. Jika demikian, semua hukum itu sangat berguna untuk menjelaskan apa arti kematian Kristus bagi orang percaya. Dalam surat-surat Paulus membicarakan “pendamaian” dengan rujukan tunggal pada Yesus Kristus. Apa maksud paulus dengan “pendamaian”?.
Berdasarkan penjelasan di atas menjadi jelas bahwa dosa menjadi penyebab permusuhan sehingga dibutuhkan pendamaian. Untuk pendamaian itulah maka dalam Perjanjian Lama ada praktik korban persembahan dalam bentuk korban hewan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, korban pendamaian itu adalah Yesus Kristus. Jadi, teologi pendamaian adalah studi tentang rekonsiliasi hubungan antara manusia dan Allah, sesame dan lingkungan.

B. Sumber Pendamaian

John Murray menyatakan: “pernyataan kasih Allah merupakan penyebab atau sumber pendamaian”. Kasih Allah harus memakai pendamaian untuk merealisasikan hasil akhir dan menggenapkan maksud-Nya yaitu melalui pengorbanan Anak-Nya yang telah menumpahkan darah yang mulia (John Murray, 2010:5)
Anselmus dari Canterbury bertanya: “Apakah keharusan dan alasannya untuk melakukan restorasi/pendamaian ini? Ia menjawab bahwa Allah yang Maha kuasa mengenakan natur manusia yang rendah dan lemah untuk menjadi pendamaian antara Allah dan manusia serta alam semesta (Hugh Martin, 1987:19)
Jadi, sumber pendamaian adalah kasih Allah. Di dalam Allah tidak ada kekacauan, permusuhan, perselisihan, pemberontakan. Dengan demikian sumber pendamaian adalah Allah. Untuk mewujudkan pendamaian itu maka Allah mengutus anak-Nya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pendamaian dengan Allah, sesame dan lingkungan. Selain itu, pendamaian itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui karya Roh Kudus. Berdasarkan Efesus 1:20 maka sumber pendamaian adalah Yesus Kristus, dan Efesus 2:14-17 Karena Dialah damai sejahtra kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan …

C. Dasar Pendamaian

Dalam Roma 5:10 Paulus menyatakan bahwa yang menjadi dasar pendamaian antara Allah dan manusia adalah Yesus Kristus. Paulus menyatakan: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamtkan oleh hidup-Nya.” Ayat selanjutnya menyatakan , … sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu” (Rom. 5:11). Berdasarkan firman Tuhan di atas maka dapat dikatakan bahwa dasar pendamaian manusia berdosa dengan Allah adalah Kristus. Paulus menyatakan “sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”. (Rom. 5:1)
Dalam Efesus 2:13 Paulus mendasari dasar pendamaian pada Karya Yesus Kristus dengan rujukannya pada darah Kristus. Yesus adalah damai sejahtera orang yang percaya kepada-Nya. Yesus Kristus itu telah mempersatukan kedua belah pihak dan yang telah merobohkan tembok pemisah yaitu perseteruan

D. Mediator Pendamaian

a. Dia adalah Gambar Allah
Kolose 1:15-20 memaparkan Kristus dan pekerjaan-Nya. Pokok yang menjadi perhatian dalam perikop ini yaitu Kristus adalah penting atau lebih utama dari segala sesuatu. Dalam teks ini mendeskripsikan tentang apa yang dilakukan , yaitu Kristus turut hadir dalam penciptaan alam semesta, dan Kristus juga yang mendamaikan segala sesuatu dengan Allah. Kesaksian demikian membuat para ahli menyebut ayat 15-20 sebagai sebuah nyanyian atau “kidung” yang menggambarkan tentang pribadi dan karya Kristus. Tidak dapat dipastikan apakah nyanyian ini dikarang oleh Rasul Paulus dalam surat ini (Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 2002:22)
Menurut Dunn, Kolose 1:15-20 dalam pengertian tertentu memang bisa disebut “himne Kristus”, namun tidak boleh dimengerti sebagai “himne bagi Kristus” karena sebenarnya himne ini tidak dimaksudkan sebagai pemujaan terhadap Kristus, tetapi pemujaan terhadap Allah karena Kristus.( James D.G. Dunn, 2010:41). Larry R. Helyer menyatakan isu mengenai asal usul “himne Kristus”, dalam Kolose 1:15-20, dapat dihubungkan dengan Paulus. Artinya komposisi hymne berasal dari Paulus. Dengan kata lain, menurut Heyler, asal-usul “himne Kristus”dalam Kolose 1:15-20, Helyer percaya bahwa keseluruhan komposisinya berasal dari Paulus (Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 2002:22)
Frasa “Gambar Allah” dalam teks yang lain yaitu 2 Kor. 4:4, Yesus Kristus disebut sebagai gambar Allah. Hal yang hendak disampaikan dalam teks ini yakni dalam Kristus manusia dapat melihat/ mengetahui bagaimana kehendak dan sifat-sifat Allah. Dalam konteks ini yang dtekankan adalah keserupaan kehendak dan sifat-sifat Allah dengan Kristus, bukan keadaan fisik yang dapat dilihat (Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 2002:22)
Menurut Ridderbos Kristus sebagai gambar Allah mempresentasikan ulasan yang lebih bersifat sintesis, yaitu kesimpulan menyeluruh atas lontaran-lontaran Paulus mengenai topik ini dalam sejumlah teks dalam surat-suratnya. Dari sekian banyak teks yang berbicara mengenai topik ini, Ridderbos memberi perhatian khusus terhadap 2 Korintus 4:4; Kolose 15; dan Filipi 2:6. Menurut Ridderbos, teks-teks ini mengggemakan tema penciptaan dalam Kejadian 1 dan yang ia sebut sebagai “theologi Adam”. Melalui pengungkapannya mengenai “gambar Allah” bagi Kristus, Paulus mengajarkan tentang kemuliaan Kristus dan bahwa Kristus telah menyandang “praeksistensi-Nya bersama Allah, sebelum Ia menyatakan diri untuk melakuan karya penebusan”. Di sini, Ridderbos menolak pandangan sejumlah sarjana yang merujuk latar belakangnya pada pandangan Gnostik atau pun pandangan Philo mengenai “gambar Allah” (Ridderbos, 64)
Mungkin saja timbul pengertian yang salah jika “gambar” diterjemahkan secara harfiah, karena istilah “gambar” dapat ditafsirkan sebagai berhala atau gambar (patung orang suci. Karena itu, istilah dapat juga diterjemahkan sebagai “keserupaan” atau “yang menyerupai”, “yang seperti”.( Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 2002:22)
Istilah tidak kelihatan menunjuk kepada Allah. Untuk menunjukkan bahwa Kristus adalah gambar yang kelihatan dari Allah yang tidak kelihatan, maka kita dapat mengungkapkannya sebagai berikut: “Allah tidak dapat dilihat, tetapi sifat-sifat-Nya dapat dilihat dengan nyata alam Kristus” atau dalam bentuk aktif “Orang tidak dapat melihat Allah tetapi dat melihat/mengetahui/mengalami sifat-sifat-Nya sevara nyata dalam Kristus”. Untuk mengenal bahasa-bahasa yang mengenal perbedaan bentuk bahasa kala lampau, kala kini dan kala mendatang, seperti bahasa Inggris, kadang-kadang perlu digunakan bentuk yang menyatakan kala lampau untuk berbicara tentang Kristus yang kelihatan selama kkehidupan-Nya di dunia. Dengan demikian bagian pertama ayat 15 dapat ditemahkan sebagai berikut: “Orang tidak dapat melihat Allah (dulu, sekarang dan pada waktu yang akan datang), tetapi dahulu orang dat mgeahui sifat-sifat-Nya dengan nyata ketika orang (dahulu) melihat/mengenal Kristus”.(Ibid)

b. Dia Adalah Yang Sulung Dari Segala Sesuatu Yang Diciptakan

Frasa yang sulung dari segala yang diciptakan yang dikenakan kepada Kristus merupakan terjemahan dari ungkapan Yunani yang terdiri dari tiga kata dan berarti “yang sulung dari segala ciptaan”. Terjemahan harfiah demikian dapat menimbulkan arti bahwa Yesus Kristus termasuk dalam alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan.(Ibid)
Pengertian sebagaimana yang dimaksud di atas tidak dapat dipertahankan. Alasannya yakni dari pertimbangan konteks dari teks ini. Dengan kata lain tidak sesuai dengan konteks seluruh bagian ini. Ungkapan yang sulung merupakan sebuah kata majemuk dalam bahasa Yunani yang kalau dijemahkan secara harfiah berarti “yang pertama dilahirkan”. Oleh karena itu yang sulung dapat dipandang dari segi waktu. Dengan demikian yang sulung juga berarti: “Ia ada sebelum segala ciptaan”(Ibid).
Pendapat diatas juga didukung dengan beberapa pandangan seperti, Bruce Metzger, ia menyatakan frasa yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptkan tidak diartikan seakan-akan Paulus membicarakan Yesus sebagai makhluk yang diciptakan paling awal dari segala makhluk lainnya. Metzger menganalogikan bahwa orang percaya menggunakan istilah “memperanakkan” untuk membedakannya dari “menciptakan”. Istilah “memperanakkan” mengkonotasikan hasil yang secara esensial sama dengan yang memperanakkannya. Sementara “menciptakan” tidak mengharuskan konotasi ini. Itulah sebabnya, Metzger menulis, “Apa yang dilahirkan Allah pasti adalah Allah; sebagaimana manusia melahirkan manusia. Apa yang diciptakan Allah pasti bukan Allah; sebagaimana apa yang dibuat manusia pasti bukan manusia itu sendiri.”(Ibid)
Penolakan pemahaman teologis berdasarkan Kolose yang menyatakan bahwa Kristus adalah bagian dari ciptaan ditolak oleh Murray J. Harris, menurut Harris, gagasan bahwa Yesus adalah ciptaan yang pertama berdasarkan penggunaan frasa “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan hendak menegaskan gagasan pra eksistensi Yesus yang terkandung dalam penggunaan istilah yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan bagi Kristus (Murray J. Harris, 2010: 40) dalam Kolose 1:15. Jadi farasa ini tidak bermaksud bahwa Kristus adalah bagian dari ciptaan.
Mengenai Kristus sebagai yang sulung dari segala yang diciptakan, Ridderbos kembali mengaitkannya dengan Kejadian 1. Meski demikian, bila mayoritas sarjana mengaitkan lontaran Paulus dalam Kolose 1:15 ini dengan personifikasi hikmat dalam Amsal 8 dan juga tulisan-tulisan Yahudi Intertestamental, Ridderbos agak berhati-hati untuk mengikuti kesimpulan ini. Bagi Ridderbos, hubungan ini memang bisa dibangun secara terminologis berdasarkan pandangan bidat di Kolose yang merasa memiliki pengetahuan dan hikmat sejati. Dengan demikian, Paulus berkesempatan untuk memperlihatkan hubungan tertentu antara hikmat PL dengan Kristus untuk menolak tendensi bidat di Kolose. Namun secara esensial, menurut Ridderbos, Kolose 1:15-20 bernada agak umum dan hubungannya dengan hikmat PL menjadi kelihatan semu. Hikmat dalam PL merupakan personifikasi dan dibicarakan sebagai ciptaan. Sementara tidak demikian halnya dengan Kristus yang adalah Pribadi dan Pencipta. Itulah sebabnya, Ridderbos menganggap lebih dekat hubungan antara teologi Adam dengan Kristus, ketimbang dengan hikmat dalam PL. Bahkan dalam bagian ini, Paulus tampaknya berbicara tentang Kristus dalam nuansa “Adamitis ganda” (Kristus sebagai Yang Pertama dari segala ciptaan dan sebagai Adam terakhir). Jadi, bagi Ridderbos, baik Kristus sebagai gambar Allah maupun Kristus sebagai yang sulung dari segala yang diciptakan mengasumsikan pra eksistensi ilahi Yesus dengan merujuk kepada Kejadian 1, khususnya perbandingan dengan gambaran mengenai Adam (Ridderbos)
Menurut sebagian ahli Perjanjian Baru, frasa “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” dapat berarti Dia ada sebelum segala sesuatu ada, dan Dia adalah yang utama dari semua ciptaan. Yang dimaksud dengan yang sulung atau anak yang sulung (BIS) di sini tidak menunjuk kepada kelahiran Yesus sebagai badani, melainkan kepada hubungan Yesus dengan Allah sebagai Anak yang kekal, pewaris Bapa yang di surga. Berbeda pada manusia mada umumnya, hubungan Yesus dengan Allah tidak dibnyatakan sebagai ciptaan dan pencipta. Yang sulung dalam konteks ini tidak berarti bahwa sesudah Krisus, ada orang-orang lain yang “diperanakkan” dengan cara yang sama, istilah itu menekankan kedudukan Yesus sebagai pewaris Bapa-Nya yang di surga.(Ridderbos: 78-80). Jadi, hal yang perlu diperhatikan disini yakni kata “diperanakkan” atau “dilahirkan” yang dikenakan kepada Yesus Kristus tidak menyatakan bahwa Kristus adalah ciptaan. Dikatakan demikian karena Kristus tidak diciptakan, melainkan Kristus telah ada lebih dahulu sebelum segala sesuatu ada. Oleh karena itu maka terjemahan bahwa Kristus sebagai “anak sulung (atau pewaris) Allah, yang ada sebelum segala ciptaan dapat juga diungkapkan dalam terjemahan seperti: “Ia lebih penting dari segala yang diciptakan”, atau “... lebih tinggi/agung dari segala ciptaan”.( Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 23)

c. Di Dalam Dia Telah Diciptakan Segala Sesuatu

Kata depan Yunani yang diterjemahkan di dalam dapat dimengerti sebagai sarana atau alat, atau pelaku perantara, sehingga artinya menjadi “dengan perabntaraan Dia”, “melalui Dia” (bdk. Kol. 1:14). Artinya Allah menciptakan segala sesuatu tidak terpisah dari Kristus. Jadi secara negatif dapat dikatakan seperti Yohanes 1:3 “tak satu pun dijadikan tanpa Dia (Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 23).
Terjemahan melalui Dialah menciptakan segala sesuatu menimbulkan persoalan tersendiri mengenai siapa yang menjadi pelaku utama dalam penciptaan. Bentuk pasif dari bahasa Yunaninya yang diterjemahkan dalam penciptaan. Bentuk pasif dari bahasa Yunaninya yang diterjemahkan dalam TB menjadi dalam Dialah dicptakan segala sesuatu, memberikan kesan yang kuat bahwa pelaku utama dalam ciptaan adalah Allah sendiri. Yang menjadi pertanyaan ialah apa hubungan pencptaan dengan Krist? Atau apa peran Kristus dalam penciptaan? Sebagian penafsir menterjemahkan sebagai “Allah bersama Kristus menciptakan segala sesuatu”. Ada juga yang menterjemahkannya dengan bentuk kiasan, misalnya :Kristus adalah tangan Allah dalam menciptakan segala sesuatu”. Ungkapan ini, “melalui Dia” atau “melalui Kristus”, mungkin lebih mudah dimengert kalau dibandingkan dengan Efesus 1:4. Dalam ayat ini jelas, bahwa yang “memilih kita” adalah Allah, tetapi yang melaksanakan pemilihan ialag Kristus. Segala sesuatu yang ada di surga dan yang ada di bumi. Ini tidak berarti “semua sekaligus yang ada di surga dan di atas bumi”. Bagian ke dua dari ungkapan di atas, sebenarnya berfungsi untuk mengulangi dan mempertegas apa yang disebutkan dalam ungkapan yang disepannya, karena yang ada di surga dan yang ada di bumi, sama juga artinya dengan segala sesuatu.( Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida)
Untuk menterjemahkan segala sesuatu harus dipilih ungkapan yang tidak membatasi artinya pada benda-benda mati saja. Seba kalimat selanjutnya dengan jeas mengikutsertakan juga kuasa-kuasa rohani yang dianggap memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu. (Ibid) Yang kelihatan dan yang tidak kelihatan dapat diterjemahkan sebagai “apa yang dapat di lihat dan apa yang tidaka dapat dilihat”, atau “apa yang dapat dilihat orang dan apa yang tidak dapat dilihat orrang”. (ibid)
Kita tidak perlu memakai empat sebutan yang berbdesauntuk meyebut mahluk-mahluk ini (bdk. BIS dengan TB; BIS hanya menterjemahkan dengan segala roh yang berkuasa dan memerinyah, sedangkan TB mencoba membedakan mereka dengan memakai empat istilah yang berbeda singgasana, kerajaan, pemerintah, penguasa). Lingkungan dimana segala roh ini bekerja kadang penting juga disebutkan. Karena itu kita dapat menambahkan sesuatu tentang lingkungan tersebut, misalnya “di wilayah antara langit dan bumi”, sebab di dunia kuno roh-roh seperti itu berkuasa di atas bumi. (Ibid)
Kalimat yang terakhir dalam ayat ini merangkum/mencakup pemikiran yang terdapat pada bagian pertamanya, segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kalimat ini dapat diterjemahkan sebagai kalimat aktif, misalnya: ‘Allah meciptakan segala sesuatu melalui Kristus, dan untuk Kristus:. Ungkapan untuk Dia di sini tidak sepenuhnyamengungkjapkan arti kata Yunani yang menyatakan tujuan atau maksud. Sebenarnya maksudnya adalah bahwa seluruh ciptaan menemukan maksud dan tujuan akhirnya dalam Kristus. Untuk itu terjemahan yang paling dekat artinya adalah: “tujuan segala sesuatu adalah untuk memuliakan Kristus”.(Ibid)

d. Ia Ada Terlebih Dahulu Dari Segala Sesuatu

Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu. Ungkapan ini diterjemahkan dalam BIS menjadi terlebih dahulu dapat menyatakan suatu kedudukan “yang lebih utama dari”, dalamayat ini tampaknya lebih mungkin kata itu dilihat dari segi waktu dengan arti “sebelum”. Ungkapan ini sekaligus menyatakan bahwa Kristus tidak mempunyai p ulaan, dan dapat juga diterjemahkan menjadi: “Kristus ada sebelum segala sesuatu ada” atau “Kristus ada/hadir sebelum segala sesuatu diciptakan (oleh Allah)”. Perlu ditegaskan bahwa ini tidak berarti bahwa ada waktu di mana Kristus “tidak ada’.(Ibid)

e. Segala Sesuatu Ada Di Dalam Dia

Kata kerja Yunani yang diterjemahkan menjadi segala sesuatu ada di dalam Dia mengandung beberapa hal, yaitu: segala sesuatu mendapat tempat yang selaras, sesuai, serasi, tetap, yakni menyatakan kekuatan yang menyatukan. Dalam seluruh ciptaan ada keselarasan dan ketertiban, dan Kristuslah yang menyatukan segala ciptaan, kita dapat mengatakan “segala sesuatu saling bersesuaian karena Kristus”, atau “Kristuslah yang menyebabkan segala sesuatu saling berseuaian”. Dalam beberapa bahasa, ungkapan “saling bersesuaian” sering dikaitkan dengan perabot rumah tangga yang letaknya rapi dan teratur, sehingga kita dapat pula mengatakan “segala sesuatu ada pada tempatbnya”.(Ibid)

f. Dialah Kepala Tubuh Yaitu Jemaat

Penggunaan metafora “kepala” bagi Kristus yang digunakan dalam ayat 18a mengandung dua pengertian yang saling berhubungan erat, yaitu “kepala” (menekankan tentang otoritas) dan “sumber” (menekankan tentang asal usul). Kedua pengertian ini ketika dipadukan, akan memimpin kepada gagasan mengenai keutamaan. Itulah sebabnya, Best mengomentari metafora ini, demikian: “Kehidupan Gereja merupakan sebuah kehidupan baru, bukan kehidupan lama atau penciptaan lama, melainkan kehidupan dari Penciptaan Baru, yang didapatkan melalui salib dan kebangkitan-Nya. Maka Dia adalah yang paling utama di atas segala sesuatu.”( Best, One Body in Christ, 129-130)
Penggunaan metofora di atas dapat dipahami karena dari hubungan Kristus dengan ciptaan, Rasul Paulus beralih kepada hubungan Kristus dengan jemaat. Ayat ini dimulai dengan Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Istilah kepala mengandung makna tentang kuasa, pemerintahan, wewenang (lihat Ef. 1:22-23). Kiasan “kepada dari tubuh” menyatakan keutamaan Kristus dan kesatuan orang-orang Kristen selaku milik Kristus. Untuk menyatakan bahwa tubuh yang dimaksud adalah tubuh Kristus maka sebaiknya diterjemahkan seperti BIS, yaitu dengan menambahkan kata “-Nya”, sehingga menjadi tubuh-Nya.( Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, 25)
Terjemahan harfiah dari Ialag kepala dari tubuh-Nya boleh jadi terasa janggal atau bahkan menggelikan dalam bahasa tertentu. Untuk itu kita dapat mengubah susunan kalimat ini sehingga istilah “kepala” menerangkan istilah “jemaat”, misalnya :Dialah kepala dari jemaat yang adalah tubuh-Nya”. Dalam bahasa-bahasa tertentu istilah “kepala” tidak mungkin digunakan untuk menyatakan keutamaan atau penguasaan atas sesuatu. Karena itu kita dapat menterjemahkannya dengan “Ialah.Kristuslah yang memerintah jemaat yang adalah tuhn-Nya”. Penerjemah dapat memakai kata “Ia-lah” atau “Kristuslah”, menurut apa yang dianggap paling wajar dan jelas. Penerjemah juga boleh mengubah metafora dalam kalimat ini menjadi sebuah ibarat. “Kristuslah yang paling berkuasa atas jemaat-Nya, sama seperti kepala berkuasa atas tubuh”(Ibid)
Ialah sumber kehidupan merupakan terjemahan dari bahasa Yunani yang berarti “Ialah asal mula” (atau sumber). Dalam TB kata-kata Yunani tersebut tidak diterjemahkan. Jadi penerjemah harus melengkapinya seperti BIS. Ada dua pertanyaan yang muncul sehuvubgan dengan ungkapan di atas:

(1) Apakah “sumber kehidupan” yang dimaksud berkenaan dengan ciptaan atau jemaat? Umumnya jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa jemaatlah yang dimaksudkan di sini.
(2) Bagaimana hubungannya dengan jemaat?
Dalam hal ini, pandangan bahwa Ialah (Kristus) sumber kehidupan jemaat itu lebih sesuai dengan kepercayaan yang umumnya pada waktu itu, yakni kehidupan dan sumber makanan yang memelihara tubuh berasal dari kepala.
g. Ia Yang Pertama Bangkit Dari Antara Orang Mati

Yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati atau dalam BIS Anak yang sulung, yang pertama-tama dihidupkan kembali dari kematian. Untuk sebutan anak yang sulung lihat ayat 15 (“yang sulung”). Barangkali karena Kristuslah yang pertama bangkit dari kematian, maka dalam ayat ini disebutkan bahwa Kristuslah merupakan sumber kehidupan tubuh-Nya.
Apanila kita menterjemahkan yang sulung senagai “anak pertama”, kita perlu memberi keterangan lebih lanjut, misalnya “yang dibangkitkan dari kematian”. Tetapi jangan memberi kesan bahwa Kristus hanyalah “anak pertama yang dibangkitkan dari kematian”, seakan-akan ada anak yang lain juga “dibangkitkan dari kematian”. Untuyk menghindari salah pengertian seperti itu, kita mungkin perlu menerjemahkan sebagai “Ialah anak sulung Allah;Allah membangkitkan Dia dari kematian”. Dalam bahasa-bahasa tertentu kita tidak dapat berbicara tentang kebangkitan dengan hanya mengatakan “dibangkitkan dari kematian”. Terkadang kita dapat mengungkapkannya sebagai berikut : “Allah menyebabkan Dia hidup kembali”, atau Allah memberikan nyawan-Nya kembali kepada-Nya”, atau bahkan “Allah menyebabkan nyawa-Nya kembali kepada-Nya”.(Ibid)
Yang lebih utama, dapat pula diungkapkan sebagai “ada di atas segala sesuatu”, atau “menduduki tempat tertinggi” atau “memegang wewenang tertinggi”.Dalam segala sesuatu: berarti mencakup segala segi kehidupan. Dalam bahasa-bahasa tertentu kita harus menterjemahkannya sebagai “di atas segala sesuatu”(Ibid, 26)
Objek Pendamaian

Dalam bahasa Yunani tidak terputus dri ayat 19, dimulai dengan kata memperdamaikan yang masih berkaitan dengan kata kerja “berkenan” dalam ayat 19. Oleh Dialah yang memperdamaikan.
Ada dua hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan kata memperdamaikan: (1). Pertama, menyangkut keadaan tidak damai atau permusuhan antara ciptaan dn penciptanya, yang dinyatakan dengan jelas dlam PB dan secara tersirat dalam ayat ini. Ciptaan (termasuk segala yang bernyawa dan tidak bernyawa menurut pandangan Alkitab) telah terasing dari Allah. Allah sendiri tidak terasing, Ia tidak perlu diperdanmaikan.
(2). Kedua, Allahlah yang mengambil prakarsa atau memulai usaha, melalui Anak-Nya, mengadakan pendamaian dengan manusia. Salah satu ciptaan, yaitu manusia yang berdosa, merupakan obyek karya perdamaian Allah.(Robert G. Bratcher dan Eugene A.Nida, 2002:28)
Ada beberapa masalah yang sulit dalam upaya mengingkapkan pengertian “mendamaikan” secara memuaskan. Ada pandangan yang salah bahwa orang yang pertama berusaha mengadakan pendamaian, sering dianggap telah mengakui kesalahannya. Oleh karena itu orang itu merasa bertanggungjawab atas putusnya hubungan sebelumnya. Jadi untuk memulihkan huibungan itu, ialah yang pertama berusaha mengadakan pendamaian. Pandangan seperti ini tidak mungkin berlaku bagi Allah walaupun usaha pendamaian itu berasal dari Allah, akarena Allah tidak pernah berbuiat kesalahan terhadap manusia. Dalam bahasa-bahasa tertentu di Afrika, istilah yang lebih cocok untuk pendamaian adalah istilah yang biasanya dipakai untuk menyatakan suami yang rujuk dengan istrinya. Sebab biasanyua di daerah tertentu di Afrika, istrilah yang dianggap sebagai penyebab putusnya hubungan mereka. Ada lagi masalah-masalah yang lain apabila istilah yang mengungkapkan pengertian pendamaian memberi kesan bahwa kedua pihak (Allah dan manusia) sama-sama sudah melakukan kesalahan. Padahaal yang berusaha di sini adalah manusia, bukan Allah. Untuk itu lebih baik kita menggunakan beberapa kata yang mengungkapkan pengertian pendamaian dengan jelas daripada menggunakan satu istilah yang lajim namun dapat membuiat orang salah mengerti.(Ibid)
Memperdamaikan segala sesuatu dengan diri Yesus Kristus dapat diungkapkan dalam beberapa bahasa sebagai berikut: “ menyebabkan seluruh alam kembali kepada diri-Nya, atau dengan menggunakan ungkapan seperti “menyebabkan seluruh alam besahabat kembali dengan Dia”. Pendamaian itu dapat pula diungkapkan dalam hubungan dengan keterasingan, misalnya, “Allah dengan segala senang hati, membuat seluruh alam tidak terasing lagi dari Allah”. (Ibid)
Dengan diri-Nya berarti dengan Allah. Walaupun dalam teks Yunani terdapat kata ganti “Dia” (yang dapat berarti “Kristus”) hampir semua tafsiran dari terjemahan menerima bahwa “Dia” di sini menunjuk kepada Allah. (Ibid) Pendamaian itu terlaksana oleh darah salib Kristus. Terjemahan harfiahnya adalah “melalui darah salib-Nya”. Ungkapan ini menunjuk keada kematian Kristus di kayu Salib. Ada keberatan-keberatan dengan penggunaan kata “kematian” sebagai terjemahan kata “darah” karena:

(1) Kata “kematian” tidak menggambarkan cara mati yang penuh kekerasan di kayu salib.
(2) Dalam PL, darah merupakan kurban penebusan dosa (Imamat 4). Dapat diyakini bahwa kurab septi itulah yang dimaksud dalam ayat ini. Sebaiknya penerjemah memasukkan makna yang tersirat ini dalam terjemahannya. Dalam bahasa Indonesia, “darah-Nya tertumpah”, sama juga artinya dengan “mati”, sehingga kebiasaan tersebuit dapat dipakai di sini. Jadi ayat ini dapat diterjemahkan menjadi: Allah membuat pendamaian itu melalui darah Kristus yang tertumpah di kayu salib sebagai kurban. Pendamaian yang dimaksudkan ialah pemulihan persekutuan antara Allah dan manusia, bahkan seluruh ciptaan, yang terpustus oleh karena dosa.(Ibid)
Jadi objek yang didamaikan adalah: Allah, Manusia, Alam semesta. Kristus sebagai mediator pendamaian antara Allah dengan manusia serta lingkungan/alam semesta.

Baca juga:

1. Karya Allah Tritunggal Melalui Gereja Pentakosta

2. Memahami Puasa dalam Iman Kristen

Judul Tesis Kepemimpinan Kristen

Bagi mereka yang memilih konsentrasi Kepemimpinan Kristen dapat memikirkan beberapa variabel berikut untuk dijadikan variabel penelitian untuk Tesis M.Th. dalam bidang Teologi Kepemimpinan Kristen atau Teologi Kependetaan.
Variabel penelitian yang diteliti dapat dirumuskan dalam bentuk judul dan dimensi dan indikator penelitian kepemimpinan

Saya mmulai dengan perumusan judul: Pengembangan diri dan pengembangan ketrampilan kepemimpinan terhadap Efektivitas Kepemimpinan di Sekolah Tinggi Teologi

Berdasarkan Judul Tesis ini dikembangan beberapa dimensi dan Indikator dari variabel yang diteliti, yaitu:

Pertama Untuk Pengembangan Diri

1. Dimensi Pengembangan Diri seorang pemimpin dalam kepemimpinan ditandai dengan beberapa indikator sebagai berikut:

1) Memiliki Karakter yang unggul
2) Memiliki Komitmen
3) Memiliki Keberanian Mengambil resiko
4) Selalu bergantung kepada Allah
5) Memiliki Kerendahan hati
6) Memiliki Integritas
7) Kualifikasi pemimpin
8) Ketaatan kepada Allah
9) Memiliki Tujuan/Gairah hidup
10) Memiliki Disiplin diri
11) Memiliki Visi
12) Memiliki Hikmat

2. Dimensi Pengembangan Ketrampilan Kepemimpinan memiliki indikator sebagai berikut:

1) Pertanggungjawaban
2) Selalu menghendaki Perubahan atau Inovasi
3) Penyampaian visi
4) Memiliki Ketrampilan Berkomunikasi
5) Mampu dalam Manajemen Konflik
6) Mampu dalam Pengambilan Keputusan
7) Mampu dalam Pemberdayaan
8) Mampu menerapkan Keadilan
9) Mampu Mengembangan SDM
10) Memiliki Kualitas/Keunggulan
11) Selalu memberi Imbalan
12) Mengutamakan Penatalayanan
13) Kemampuan Manajemen stress
14) Kemampuan Berpikir secara sistem
15) Kemampuan Membangun Tim
16) Kemampuan Mengelola waktu

Judul Tesis ke-2:

Implementasi Karakter Kepemimpinan Tokoh-Tokoh Alkitab Terhadap Ketangguhan Kepemimpinan Kristen

Baca juga beberapa judul berikut ini:

1. Tingkat Pemahaman Anggota Jemaat Tentang Eskatologi Individual (Pengalaman secara pribadi) Terhadap Semangat Penginjilan dalam Masyarakat Majemuk
Dimensi Eskatologi Individual:
Penjelasan tentang Kematian; realitas kematian; sifat kematian; Kematian Jasmaniah; dampak-dampak kemnatian; Keadaan manusia diantara kematian dan kebangkitan. Intinya: Mempelajari hal-hal yang akan dialami oleh anggota jemaat secara pribadi pada saat dia meninggal dunia.
2. Pengaruh Pengajaran Pendeta Terntang Eskatologi Individual dan Eskatologi Semesta Terhadap Kepastian Iman di Tengah Masyarakat Multikultural

3. Urgensi Tingkat Pemahaman Anggota Jemaat Tentang Doktrin Allah Tritunggal Terhadap Serangan Keyakinan Non Kristen di Tengah Kemajemukan.
4. Pengaruh Penggembalaan Jemaat Berbasis Keesaan Allah Terhadap Semangat Jemaat Mempertahankan Iman di Tengah Masyarakat Majemuk

Baca Juga:

1. Contoh Kajian Bab II Tentang Peranan Gembala
2. Contoh Skripsi/Tesis Bab I sampai V
3. Contoh Masalah Penelitian: Globalisasi

Monday, July 25, 2016

Contoh Kajian Bab II Variabel Peran Gembala Jemaat



Anda sedang mencari inspirasi Judul Skripsi S.Th., Judul Tesis M.Th., Contoh Skripsi Teologi, Contoh Tesis Teologi, Tesis Magister Teologi (Bab I, II dan III)? Kami menyediakan dalam weblog ini. Silakan Anda pelajari sendiri yang diposting dalam blog ini.

Bagi yang sedang mencari judul untuk Skrips S.Th., dan Tesis M.Th., saya memposting variabel penelitian tentang "peran gembala jemaat". Variabel ini merupakan salah satu variabel penelitian dari konsentrasi Teologi Kependetaan (S.Th., dan M.Th.). Postingan ini hanya bersifat menginspirasi. Silakan teliti lebih lanjut. Selanjutnya saya posting peran gembala sebagai berikut:


BAB II KAJIAN TEORI PERAN GEMBALA JEMAAT

Para gembala jemaat memiliki tugas-tugas pelayanan atau yang sering disebut dengan peranan gembala jemaat. Ada beragam peranan gembala jemaat dalam menggembalakan atau melayani anggota jemaat, khususnya peranan-peranan gembala jemaat yang berhubungan dengan kesetiaan beribadah. Artinya bila gembala jemaat melakukan beberapa peranannya sebagai gembala jemaat maka akan menolong anggota jemaat untuk setia beribadah di gereja. Berikut ini penjelasan tentang peranan-peranan gembala.

a. Pemberitaan Firman (Pelayanan Mimbar)

Seorang gembala jemaat memiliki peran utama sebagai pelayan firman Tuhan. Pelayanan firman Tuhan atau khotbah merupakan perioritas seorang gembala jemaat. Pemberitaan firman Tuhan menuntut sebuah tanggungjawab. Tidak ada seseorang yang mengemban tugas lebih berat dari orang yang beridiri di mimbar untuk menyampaikan maksud Allah kepada jemaat. Seorang gembala jemaat ketika di mimbar, ia berbicara atas nama Allah. Perioritas pemberitaan firman Tuhan menopang perioritas yang lain dari seorang gembala sidang yaitu menggembalakan kawanan domba (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:11)
Bila pelayan adalah penafsir sabda tertulis maka jemaat yang datang beribadah pada hari Minggu mendapat perjumpaan dengan Tuhan yang berbicara kepadanya secara pribadi. Jemaat datang dalam ibadah untuk perjumpaan akbar yaitu secara bersama-sama dengan anggota tubuh Kristeu berjumpa dengan Allah. Menurut Thurneysen, pelayanan firman Allah adalah satu-satunya bentuk pelayanan pastoral yang benar-benar melayani Injil sebagai berita dari presensia dan aktifitas Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. J.L.Ch. Abineno, 2012: 22)
Seorang gembala jemaat adalah orang yang tahu membedakan prioritas, maka berkhotbah menjadi tugas pelayanannya yang nomor satu. Dalam hal ini ia tidak melalaikan tugas penggembalaan, malahan meningkatkan tugas tersebut. Gembala yang baik harus memberitakan firman Tuhan bagi anggota jemaat.
Gembala sebagai pengkhotbah mempunyai hak istimewa dan tanggungjawab untuk mempelajari sabda Allah, merenungkannya, meresapinya, mengolahnya untuk orang lain, dan menyajikan kepada umat Allah. Setiap kali kita membuka Alkitab, suatu kebenaran lama akan berisi kekuatan baru, atau Roh Kudus menunjukkan suatu kebenaran baru yang memberi dorongan kepada gembala dalam persiapannya. Pengkhotbah bukanlah pembuat (produsen); ia adalah seorang penyalur. Sama seperti para nabi, ia dapat berkata, “Firman Allah datang kepadaku…” “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku mikmatinya; Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku…” (Yer.15:16). (J.L.Ch. Abineno, 2012: 22)
Seorang gembala tidak boleh kehilangan sukacita dalam panggilannya, bila hal itu terjadi maka gembala kehilangan kuasa. Ia tidak lagi menjadi berkat bagi gerejanya. Hal ini tidak berarti bahwa para pendeta atau gembala tidak pernah mengalami masa-masa tawar hati, bahkan nabi-nabi besar sekalipun di dalam Alkitab dan sejarah gereja pernah mengalami kesuraman. Sebaliknya, ini berarti bahwa dalam masa pencobaan dan ujian ia masih merasa senang bahwa ia adalah milik dan penyambung sabda Allah. Hatinya meluap dengan kegembiraan setiap membuka Alkitab dan mempelajarinya sebagai persiapan untuk mengajar jemaat-nya. Sukacita dalam berkhotbah itu begitu besar sehingga mengatasi semua masalah dan beban. Sukacita ini menolong pendeta menanggung semua beban serta member kekuatan dalam menghadapi dan menyelesaikan semua persoalan.
Seorang gembala yang melayani Firman Allah mesti memahami bahwa ia dengan penuh kasih mempersiapkan firman dan menyampaikan firman secara bersungguh-sungguh. Kebenaran tanpa kasih adalah kasar dan dapat melukai hati orang, tetapi kasih tanpa kebenaran adalah kasih yang dangkal, tidak sepenuh hati dan sentimental. Tanggung jawab yang terakhir ialah kesediaan untuk didatangi jemaat sesudah mereka menerima khotbah. Khotbah yang baik dapat dibuktikan dari banyaknya orang yang datang kepada kita dan member komentar, khotbah itu berguna bagi jiwa saya. (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:18-19)

b. Mengadakan Pelayanan Konseling

Seorang gembala jemaat adalah seorang yang berperan dalam memberi bimbingan. Kita kenal ada kata Konseling. Kata ini berasal dari bahasa Inggris, dari kata Counseling. Di dalam kamus artinya dikaitkan dengan kata counsel, yang memiliki beberapa arti yaitu : nasehat, anjuran dan pembicaraan. Berdasarkan arti kata ini, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran. (Ngalimun, 2014: 6). Dalam konteks konseling Kristen, konseling diartikan pemberian nasehat, perembukan atau penyuluhan sehingga orang yang dikonseling mampu menghadapi masalahnya dan berusaha mengatasinya atau mencari solusi.(Rudi A. Alouw, 2014: 25) Menurut Rogers, memberikan “bantuan “ dalam konseling adalah dengan menyediakan kondisi, sarana, dan keterampilan yang membuat klien dapat membantu dirinya sendiri dalam memenuhi rasa aman, cinta, harga diri, membuat keputusan, dan aktualisasi diri. Memberikan bantuan juga mencakup kesediaan konselor untuk mendengarkan perjalanan hidup klien baik masa lalunya, harapan-harapannya, keinginan yang tidak terpenuhi, kegagalan yang dialami, trauma, dan konflik yang sedang dhadapi klien (Ngalimun, 2014: 6)
Konseling sedemikian penting bagi anggota jemaat. Demikian pentingnya konseling ini dapat dipahami dalam pandangan Saertsshertzer dan Stone (1974) yang dikutip dari tulisan Mappiare 2002 yang mengungkapkan bahwa kebutuhan akan adanya konseling pada dasarnya timbul dari dalam dan luar diri individu yang memunculkan pertanyaan mengenai “apa yang seharusnya dilakukan individu?”. (Ngalimun, 2014: 6). Sepakat dengan ahli yang lain, konseling tidak lain adalah mengembangkan setiap individu untuk mencapai batas optimal, yaitu dapat memecahkan masalah sendiri dan membuat keputusan yang sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Keputusan itu bukan hasil paksaan dari konselor/seorang guru yang memberi bimbingan tersebut. Akan tetapi keputusan tersebut berasal dari diri siswa yang dibimbing.(Sutrisna, 2013:145)
Seorang gembala yang memberi perhatian kepada jemaat dalam bentuk konseling adalah gembala yang peduli dan merawat domba-dambanya. Seorang gembala yang peduli kepada jemaat adalah seorang gembala atau pendeta yang tinggal dan melaksanakan kasih secara utuh. Kasih demikian merupakan dorongan kesaksian Alkitab.
Seorang gembala dapat memberi konseling kepada jemaat yang menghadapi masalah sehingga jemaat oleh pertolongan Roh Kudus dapat mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Jadi, pelayanan konseling yang dilakukan gembala jemaat merupakan pemberian bantuan kepada seseorang berupa nasisehat atau petunjuk agar ia dapat mengatasi persoalan yang dihadapinya.(Abineno, 2012:22)

c. Mengadakan Pelayanan Persekutuan

Seorang gembala jemaat memiliki peran yang relatif banyak. Salah satu dari pembahasan di atas yakni peran gembala jemaat dalam mengadakan pelayanan persekutuan. Anggota jemaat adalah yang hidup dalam persekutuan tubuh Yesus Kristus. Kalau ia melakukankesalahan (dosa), ia mengganggu atau merusak hubungan yang terdapat dalam persekutuan itu. Maksud pelayanan pastoral ialah: memperbaiki hubungan yang terganggu atau yang rusak itu, supaya anggota jemaat yang bersangkutan mendapat kembali tempatnya dalam persekutuan itu, sehingga ia dpat berfungsi lagi sebagai anggota tubuh Kristus.
Kita lihat, bahwa antara pelayanan pastoral dan persekutuan terdapat suatu hubungan yang sangat erat. Justru terhadap orang-orang ini Gereja harus mencurahkan perhatiannya yang khusus. Mereka bukan saja membutuhkan kunjungan dan percakapan, tetapi terutama bimbingan dan persekutuan. Gereja harus menjadi “rumah” di mana mereka setiap saat dapat berlindung dan dapat mengalami persaudaraan dan kekeluargaan yang sesungguhnya (J.L.Ch. Abineno, 2012:45).
Muller, dalam karyanya tentang penataan kembali ibadah jemaat mengatakan : “Gereja orang-orang Lewi dan imam-iman bukanlah Gereja (yang benar). Gereja yang benar ialah Gereja orang Samaria yang murah hati”. Gereja-gereja yang sama dengan orang-orang Lewi dan imam-imam di tengah jalan dari Yerusalem ke Yerikho, kalau mereka melalaikan tugas mereka dibidang koinonia: tidak melayani orang-orang yang menderita (= yang disiksa dan dirampok) yang membutuhkan bantuan mereka.

d. Menolong Jemaat dalam Kesembuhan Manusia seutuhnya

Seorang gembala jemaat perlu memberi perhatian dan pelayanan dalam hal menolong jemaat dalam kesembuhan manusia seutuhnya. Kegiatan ini merupakan peran seorang gembala jemaat. Persekutuan Kristen memberikan suasana untuk penyembuhan yang penuh kuasa. Apabila dua atau tiga orang berkumpul kuasa Roh Kudus dinyatakan,sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yesus. (Bruce Larson dkk, 2004: 144). Oleh karena itu menyembuhkan manusia seutuhnya lebih dari menyembuhkan manusia saja. Manusia adalah manusia yang utuh. Yang dimaksudkan ialah: Manusia. Manusia bukan terdiri dri jiwa saja, tetapi dari kedua-duanya: dari tubuh dan jiwa. Hal ini jelas kit abaca dlam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama, maupun dabiasanya dalam Perjanjian Baru. Pengertian tubuh, roh dan jiwa, biasanya digunakan secara bergantian dalam arti yang sama, yaitu manusia seutuhnya:manusia sebagai suatu totalitas. Kalau Alkitab katakan: “ Jiwaku memuji Tuhan, maka yang dimaksud ialah “Aku memuji Tuhan”. Demikian pula kalau ia katakana “Tuhan menyertai rohmu”, maka yang dimaksud ialah “Tuhan menyertai engkau”. Dan lain-lain. Alkitab tidak mengenal ikotomi (pembagian manusia atas dua bagian sebagai tubuh dan jiwa) atau trikotomi(pembagian manusia atas tiga bagian sebagai tubuh, roh dan jiwa). Baginya manusia ialah suatu kesatuan dari tubuh, roh dan jiwa (Abineno, 2012:48)

d. Membantu Anggota Jemaat Mengatasi Kesulitas Hidup

Peran yang lain yakni seorang gembala dapat membantu anggota jemaat untuk mengatasi kesulitan hidup. Dikatakan demikian karena seorang pelayan memiliki relasi dengan anggota jemaat yang telah diberkati Tuhan dan memiliki sumber-sumber pekerjaan. Misalnya ada anggota jemaat yang memiliki perusahan, seorang pendeta dapat memperkenalkan anggota jemaat yang sedang mengalami kesulitan hidup untuk dapat bekerja di perusahan tersebut. Cara lain yaitu memberdayakan kemampuan anggota jemaat melalui wirausaha atau entrepreneur.

e. Mendamaikan orang dalam pelayanan pastoral

Dalam pelayanan pastoral sering bertemu dengan anggota-anggota jemaat yang hidup terpisah atau terasing, baik dari anggota-anggota jemaat yang lain maupun dari persekutran mereka dengan Allah. Keterpisahan itu disebabkan oleh pertentangan-pertentangan yang terdapat diantara mereka, seperti pertentangan-pertentangan kepentingan, pertentangan-pertentangan golongan, pertentangan keluarga atau suku dan pertentangan lain. Oleh karena banyaknya pertentangan tersebut tidak cukup memdapat perhatian dari gereja maka diperluka pelayanan pastoral untuk menolong anggota jemaat hidup dalam pendmaian. Tentang fungsi mendamaikan ada yang tidak menganggapnya sebagai suatu fungsi yang tersendiri tetapi ada pula yang menganggapnya fungsi mendmaikan ialah berusaha memperbaiki relasi yang rusak antara manusia dan sesame manusia, dan antara manusia dan Allah.

Baca Juga:
1. Contoh Skripsi/Tesis Bab I - III

2. Masalah Penelitian Globalisasi

Saturday, July 23, 2016

Anda mencari kami menjawab

Apa yang kami maksudkan dengan Anda mencari dan kami menjawab. Maksud kami yakni memposting hal-hal yang sedang Anda cari.
Apakah Anda mencari judul-judul Skripsi, Tesis dan Disertasi dalam bidang Teologi dan Pendidikan Kristen? Kami menyediakan kepada para pengunjung blog kebutuhan tersebut. Dalam blog ini Anda akan membaca Contoh Bab I Skripsi dan Tesis Teologi maupun Pendidikan Agama Kristen. Kami menyediakan Skripsi dan Tesis Teologi, Kumpulan Contoh Skripsi (S.Pd.K) dan Tesis Pendidikan Kristen, Judul Skripsi dan Tesis Jurusan Teologi, judul skripsi pendidikan agama kristen, contoh skripsi pendidikan agama kristen, skripsi pendidikan agama kristen, judul skripsi pak, judul skripsi teologi, contoh skripsi pak, skripsi pak, contoh tesis pendidikan agama kristen, tesis pendidikan agama kristen, contoh judul skripsi teologi
Materi yang Anda dapatkan dari weblog kumpulan contoh skripsi-tesis, antara lain:

1. Judul-judul Skripsi Teologi, Teologi Kependetaan (S.Th.)
2. Judul-judul Skripsi Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K)
3. Judul-judul Tesis Teologi (M.Th.)
4. Judul-judul Tesis Magister Pendidikan Agama Kristen (M.Pd.K)
5. Judul-judul Disertasi Teologi dan Pendidikan Kristen (akan)
6. Contoh-contoh Bab I Skripsi Teologi Teologi Kependetaan
7. Contoh-contoh Bab I Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
8. Contoh-contoh Bab II Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
9. Contoh-contoh Bab III Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
10. Contoh-contoh Bab IV Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Akan)
11. Teori Masalah Penelitian
12. Publisher iklan di blog
13. Dll

Jika karena kesibukan pelayanan, pekerjaan kantor dan lain-lain sehingga mengalami kendala dalam menyelesaikan penelitian, silakan konsultasi dengan kami di: 081388662585.

Friday, July 22, 2016

Contoh Skripsi dan Tesis serta Disertasi Teologi dan Pendidikan Kristen

Contoh Skripsi Sarjana Teologi (S.Th.)
Contoh Skripsi Sarjana Pendidikan Kristen (S.Pd.K)
Contoh Tesis Magister Teologi (M.Th.)
Contoh Tesis Magister Pendidikan Agama Kristen (M.Pd.K)
Contoh Tesis Magister Konseling Kristen (MKK)
Contoh Disertasi Teologi (D.Th.)
a. Bidang Teologi
b. Bidang Pendidikan Agama Kristen
c. Bidang Kepemimpinan Kristen
d. Bidang Konseling Kristen
e. Bidang Musik Gereja
f. Bidang Sejarah Gereja
g. Bidang Perbandingan Agama
h. Bidang Sosiologi Agama

Postingan menyusul

Contoh Skripsi Bab I sampai V untuk S.Th dan S.Pd.K

Berikut ini saya posting contoh-contoh Skripsi Sarjana sbb: Sarjana Teologi (S.Th.); Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K); Magister Teologi (M.Th.) atau Tesis Magister Teologi Kependetaan, Magister Teologi Kristen, Magister Pendidikan Kristen (M.Pd.K), Tesis Pendidikan Agama Kristen atau Tesis M.Pd.K. Contoh berikut ini mulai dari BaB I sampai Bab V

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tuhan menciptkan manusia dengan tujuan yang mulia. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka Tuhan melengkapi diri manusia dengan kemampuan. Kemampuan itu digambarkan secara paling baik dalam kata “segambar dan serupa dengan Allah. Melalui kemampuan itu manusia berinteraksi dengan lingkungan di mana ia ditempatkan. Dalam Kejadian 2:15 dinyatakan bahwa Tuhan menempatkan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa di taman Eden dengan tugas kerja yaitu ‘mengusahakan dan memelihara’. Berdasarkan firman ini nampak jelas bahwa Tuhan menghendaki manusia untuk bekerja. Bekerja bukan dosa. Bekerja merupakan mandat dari Tuhan. Mandat kerja itu tidak hanya diberikan kepada Adam dan Hawa tetapi genearasi selanjutnya. Setiap orang dari suku-bangsa, bahasa, agama, etnis-ras, Negara manapun tetap berjuang untuk bekerja.
Berdasarkan firman Tuhan maka orang Kristen meyakini bahwa kerja adalah ketundukan pada perintah Allah atau kesediaan melakukan kehendak Allah. Dalam Alkitab disaksikan bahwa kerja yang dilakukan oleh Adam dilanjutkan oleh anak-anaknya yaitu Kain dan Habel. Habel bekerja sebagai gembala kambing domba, sedangkan Kain menjadi petani. Kedua pekerjaan ini yaitu gembala dan petani adalah pekerjaan mulia. Apa yang dikerjakan oleh Kain dan Habel merupakan implikasi dari sabda Allah kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 2:15. Kerja juga tidak berhenti pada Kain dan Habel tetapi berlanjut. Alkitab menyatakan bahwa Nuh juga bekerja (Kej. 9:20). Nuh setelah keluar dari Bahtera bekerja sebagai petani anggur. Yusup juga bekerja di Mesir dan berhasil dalam pekerjaan (Kej. 39:2).
Beberapa penjelasan di atas menegaskan bahwa kerja adalah perintah Allah. Manusia bekerja bukan karena dosa tetapi kerja adalah kudus. Artinya sebelum manusia berdosa, kerja sudah dilakukan sebagai ketaatan kepada perintah Tuhan. Namun setelah manusia jatuh dalam dosa (Kej. 3) kerja dapat dipengaruhi dosa. Jadi kerja yang dikehendaki Allah dan yang dipengaruhi dosa.
Berdasarkan masalah di atas maka variabel penelitian ini akan difokuskan pada Kejadian 39:1-23 yaitu Prestasi Kerja Menurut Kejadian 39:1-23 dan implikasinya dalam tugas pelayanan Pastoral (Judul untuk Skripsi Teologi), sedangkan judul skripsi untuk Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K) dirumuskan menjadi: Tingkat Pemahaman Guru Tentang Prestasi Kerja Menurut Kejadian 39:2 Terhadap Keberhasilan Mengajar di SD/SMP/SMA .......

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana prestasi kerja yang sesuai kehendak Allah?
2. Bagaimana prestasi kerja yang dipengaruhi dosa?
3. Bagaimana Prestasi Kerja Menurut Kejadian 39:1-23?
4. Bagaimana keberhasilan kerja dalam tugas pastoral?
5. Bagaimana keberhasilan kerja dalam tugas Pendidikan Agama Kristen?

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas nampak bahwa ada banyak masalah yang perlu dicari jawaban melalui penelitian. Jadi penelitian ini hanya difokuskan pada upaya menafsirkan teks Kejadian Kejadian 39:1-23

D. Rumusan Masalah

Bagaimana Prestasi Kerja Menurut Kejadian 39:1-23?

E. Tujuan Penelitian

Menjelaskan prestasi kerja menurut Kejadian 39:1-23

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dan kegunaan dari penelitian yang dilaksanakan ini adalah sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Pertama, melalui penelitian ini, peneliti makin dapat mendalami bagaimana pentingnya prestasi kerja menurut Kejadian 39:1-23. Dengan demikian pengetahuan peneliti makin diperkaya.Kedua, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan perbandingan bagi mahasiswa yang meneliti berikutnya khususnya yang berhubungan dengan Prestasi Kerja menurut Kejadian 39:1-23; Ketiga, sebagai sumbangsih bahan literature kepustakaan diperpustakaan Sekolah Tinggi Teologi tentang prestasi Kerja menurut Kejadian 39:1-23

2. Secara Praktis

Pertama, hasil penelitian ini dapat menolong para pembaca secara khusus mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia untuk mendalami prestasi kerja menurut Kejadian 39:1-23

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian yang digunakan

Menurut Ronny Kountur, metode penelitian adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah yang dimaksud dalam definisi ini yaitu suatu penelitian ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan dan menguji hipotesis atau menemukan teori serta membuat kesimpulan. Sedangkan Sugiyono mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam definisi ini ditekankan beberapa kata penting, yakni cara ilmiah yaitu kegiatan penelitian didasarkan pada cirri-ciri keilmuan, yakni rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian yang dilakukan bersifat dapat diterima akal sehingga terjangkau oleh penelaran manusia. Empiris berarti penelitian yang dilakukan melalui pengamatan indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis berarti proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.(Ronny Kountur, 2007:7)
Selanjutnya metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni penelitian kualitatif. Penetapan jenis penelitian ini disebabkan karena paradigma yang ada pada penelitian kualitatif tentang realitas yaitu bahwa realitas atau yang benar itu lebih dari satu, merupakan hasil bentukan, dan holistic, hubungan antara yang mengetahui dan diketahui tidak terpisahkan dan interaktif (Andreas Subagyo, 2004:38). Oleh karena realitas itu jamak maka umumnya penelitian kualitatif tidak memakai analisis data secara statistik. Dengan kata lain kenyataan atau realitas yang diteliti itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang ditafsirkan atau diinterpretasikan oleh pribadi-pribadi dalam suatu komunitas sosial. Melalui penelitian kualitatif, penulis/peneliti/orang yang mengadakan penelitian bertujuan untuk memahami fenomena-fenomena sosial secara natural/alamiah/apa adanya dari sudut pandang atau perspektif partisipan dan bukan penggunaan statistic sebagaimana yang dikenal dalam penelitian kuantitatif.
Selanjutnya partisipan yang dimaksud dalam penelitian kualitatif adalah orang-orang yang dijdikan sebagai nara sumber, seperti orang-orang yang diwawancarai, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran, persepsinya tentang hakekat (fakta) salah satu atau beberapa realitas (variabel/judul penelitian) yang sedang diteliti. Penegasan ini penting karena penelitian kualitatif beranjak dari dari filsafat konstruktivisme yang berasumsi bahwa realitas (kenyataan) itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh individu-individu. Jadi, pemanfaatan penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut perspektif partisipan.
Berdasarkan arah sebagaimana yang dimaksud di atas maka jelaslah bahwa penelitian kualitatif berupaya menemukan teori dan bukan menguji teori. Oleh karena penelitian kualitatif berusaha menemukan teori maka tidak ada hipotesis statistik didalam penelitian ini. Hipotesis statistik demikian hanya ada dalam penelitian kuantitatif. Adanya hipotesis statistic bermaksud untuk menguji apakah teori tersebut diterima atau ditolak. Namun hal ini tidak berarti bahwa dalam penelitian kualitatif tidak ada hipotesis. Ada hipotesis tetapi sifatnya hipotesis kerja (pengarah penelitian). Maleong menyebutnya dengan hipotesis dasar (Moleong,1999:106)

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Menurut Sugiyono, tempat penelitian untuk penelitian kualitatif yang bermaksud mendapatkan data secara alamiah itu dapat terjadi di sekolah, perusahan, lembaga pemerintah, di jalan, rumah. Termasuk juga di gereja dan lain-lain. Dalam hal ini, situasi sosial penelitian skripsi/tesis/disertasi ini yaitu di ………...Penelitian ini dirancang dan dilakukan di ………….

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai sejak …….. sampai …….. 2016 yang diawali dengan pengajuan judul penelitian dan pengujian proposal penelitian dan penelitian lapangan secara kualitatif.

C. Teknik Pengumpulan Data

Lexy J. Moleong (1999) mengklasifikasi teknik penelitian atau pengumpulan data dalam beberapa kategori, yaitu (1) sumber data dan jenis data yang diperoleh melalui: (a) kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai. (b) sumber tertulis yang dibagi lagi menjadi data dari sumber buku, majalah ilmiah. sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. (c) Foto menghasilkan data deskriptif dengan kategori foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri. Foto yang dimaksud disini yaitu foto tentang orang dan latar penelitian yang sesuai dengan variable yang diteliti. Latar penelitian dalam foto dapat diamati dengan teliti, foto juga dapat memberi gambaran tentang perjalanan sejarah orang yang ada didalamnya. Dari foto diketahui gambaran tentang posisi duduk di gereja, keadaan duduk santai, dan gembira ria, keadaan anggota gereja dan lain sebagainya. Foto digunakan untuk memahami bagaimana para subjek penelitian memandang duniannya.
Selanjutnya dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui dua sumber utama, yaitu: Sumber sekunder atau data sekunder. Data sukender adalah data yang bersumber dari penelitian orang lain yang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Data ini berupa fakta, table, gambar, dan lain-lain. Walaupun dibuat untuk maksud yang berbeda, data-data ini dapat dimanfaatkan peneliti lain untuk variable yang sedang diteliti.
Sumber primer atau data primer yaitu data yang dikumpulkan peneliti langsung dari sumber utamanya. Dalam hal ini, untuk mengetahui PAK yang Memotivasi Kerja Berdasarkan Kejadian ..... maka penulis mendapatkan data dengan mengadakan eksegesis terhadap teks Kejadian. Selanjutnya untuk penelitian social termasuk penelitian PAK yang memotivasi kerja, biasanya instrument yang dipakai adalah peneliti dan kuesioner. Bila instrument yang digunakan adalah peneliti maka metode metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah wawancara atau observasi, sebaliknya bila menggunakan instrument berupa kuesioner maka metode pengumpulan data yang dipakai antara lain melalui pos, membawa langsung, atau melalui e-mail ke responden.(Ronny Kountur, 177-182)
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengumpulan data primer dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut:

(1) wawancara,
(2) observasi,
(3) kuesioner.

Implementasi tiga cara di atas disesuaikan dengan informasi apa yang diperoleh, waktu yang tersedia, dana yang tersedia, dan tenaga peneliti yang akan melakukakan penelitian. Apabila instrument yang dipakai adalah peneliti maka informasi yang akan dicari adalah informasi kualitatif maka pilihan yang terbaik adalah memakai wawancara atau observasi. Bila informasi yang akan dicari adalah informasi kuantitatif maka pilihan yang terbaik adalah menggunakan kuesioner. Observasi adalah cara mengamati obyek yang merupakan sumber utama data.(Ronny Kountur).
Pengumpulan data sebagaimana yang dimaksud di atas membutuhkan peran peneliti. Menurut Ronny Kountur, peran peneliti yaitu (1) mengamati tetapi tidak berpartisipasi dalam kegiatan orang-orang yang diamati dan tidak teridentifikasi oleh mereka yang diamati. (2) pengamat mengamati dan tidak terlibat dalam aktivitas mereka yang diamati, namun ada diantara mereka sehingga dapat dikenali tetapi bisa juga tidak dikenali jika tidak diperhatikan. (3) sambil mengamati, pengamat berpartisipasi pada kegiatan orang yang diamati dan mereka juga mengetahui jika mereka sedang diamati. (4) sambil mengamati, pengamat berpartisipasi pada aktivitas mereka yang diamati, namun mereka tidak tahu sedang diamati.(Ronny Kountur, 182).
Menurut Yonas Muanley, tehnik pengumpulan data yang utama dalam penelitian kualitatif adalah observasi participant, wawancara mendalam studi dokumentasi, dan gabungan ketiganya atau trianggulasi. Selain itu data juga diperoleh melalui wawancara.. Prosedur wawancara yaitu pewawancara menyiapkan daftar pertanyaan sebelum wawancara dilakukan dan pertanyaan didasarkan atas pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, selain itu penulis memamaki wawancara tidak terstruktur yakni pewawancara dan yang diwawancarai berbicara dengan santai dan pertanyaan bisa muncul ketika sedang dalam pembicaraan.Tidak ada daftar pertanyaan yang harus diikuti dengan ketat ( http://kolokiumrisetmetodologi.blogspot.co.id)

D. Teknik analisa data

Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif belum ada teknik yang baku dalam menganalisa data, atau dalam analisa data kualitatif, tekniknya sudah jelas dan pasti, sedangkan dalam analisa data kualitatif, teknik seperti itu belum tersedia, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki oleh peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik trianggulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut, dan teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lainnya (http:www.damandiri.or.id)
Analisis data kualitatif meliputi proses identifikasi apa yang menjadi perhatian dan apa yang merupakan persoalan. Proses identifikasi yang dimaksud di atas dilakukan dalam beberapa proses yaitu proses kategorisasi, proses prioritas, dan proses penentuan kelengkapan. Ketiga prose situ dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama. proses kategorisasi yaitu proses menyusun kembali catatan dari hasil observasi atau wawancara menjadi bentuk yang lebih sistematis. Laporan dibuat dalam beberapa kategorisasi yang sistematis. Untuk menentukan proses kategorisasi sistematis ini, diakui oleh peneliti bahwa tidak ada standar yang baku. Oleh karena itu diperlukan keahlian dan intuisi peneliti. Artinya semakin sering melakukan kategorisasi maka peneliti akan semakin mahir. Beberapa panduan dalam membuat kategori sasasi, yaitu perhatikan regularity. Regularity adalah hal-hal yang sering muncul. Hal-hal yang sering muncul ini dapat dijadikan sebagai suatu kategori. Setelah penentuan kategori, maka selanjutnya perlu diperiksa atau dicek secara sistematis (systematic checks) apakah benar apa yang dianggap sebagai suatu kategori dapat dianggap sungguh-sungguh benar sebagai suatu kategori. Pemeriksaan secara sistematis dilakukan dengan melihat hal-hal yang dianggap menjadi suatu kategori jika memiliki kesamaan dan berbeda kategori jika memiliki perbedaan. Kategori tersebut diusakan untuk tidak terlalu luas atau terlalu sempit. Karena jika kategori terlalu luas maka tidak akan tampak apa yang menjadi perhatian (concern) dan persoalan (issue). Dan bila terlalu sempit akan kehilangan gambaran secara keseluruhan.(Ronny Kountur, 2007)
Kedua. Proses prioritas yaitu bila terdapat banyak kategori maka perlu prioritas terhadap kategori mana yang dapat ditampilkan dan mana yang tidak perlu ditampilkan karena terlalu banyak kategori yang akan menyulitkan dalam interpretasi. Kategori-kategori yang diperioritaskan adalah: (1) kategori yang sering muncul, (2) oleh beberapa orang dianggap sebagai yang paling dapat dipercaya, (3) merupakan hal yang unik atau memiliki cirri khas tersendiri, (4) membuka peluang adanya kemungkinan penyelidikan lebih lanjut, dan (5) material atau berharga.(Ibid)
Ketiga. Proses penentuan kelengkapan yaitu bilamana atau kapan proses kategorisasi dianggap telah lengkap? Apakah jumlah kategori yang telah terkumpul sudah cukup? Atau, apakah kategori yang dikumpulkan telah menjawab semua perhatian (concerns) maupun persoalan (issues) yang diharapkan?(Ibid). Jadi, analisis data yang dipakai yaitu dilakukan secara beruntun/bersama-sama, melalui proses analisis domain, taksonomi, kompensial, dan tema budaya.(Sugiyono)


E. Metode Penarikan Kesimpulan

Metode penarikan kesimpulan dalam penelitian ini yakni bersifat induktif ke deduktif. Artinya kesimpulan di ambil berdasarkan kajian terhadap teks kitab suci sebagai satu-satunya norma iman Kristen yang menguji dan membenarkan berbagai teori. Dengan kata lain penelitian ini bersifat eksegesis teks suci dan dari hasil eksegesis tersebut dihubungkan dengan fakta empiris/kenyataan lapangan tentang Pendidikan Agama Kristen yang memotivasi kerja

BAB IV dan V Menyusul

Masalah Penelitian tentang Globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Warga Pendidikan Agama Kristen yang dalam konteks penelitian ini disebut Guru Pendidikan Agama Kristen dan siswa atau yang disebut dengan peserta didik beragama Kristen di sekolah formal yang bersifat sekolah negeri atau swasta merupakan bagian dari masyarakat umum yang sudah, sedang dan akan menghadapi suatu era yang disebut dengan era globalisasi.
Era globalisasi atau yang biasa disebut dengan era pasar bebas, merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi. Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture (London, Sage: 1992) mendefinisikan globalisasi sebagai "the compression of the world into a single space and the intensification of conciousness the world as a whole". Globalisasi juga melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level.
Jadi, globalisasi merupakan peluang dimana terjadi perdagangan bebas yang dapat peluang krativitas dan perkembangan perdagangang dunia yang disertai dengan pembangunan dengan sistem pengetahuan. Dampak positif dari globalisasi yakni perubahan sosial, yaitu perubahan pola komunikasi, teknologi, produksi dan konsumsi, paham internasionalisme yang tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya secara internasional. Kondisi ini menguntungkan manusia dalam hal kesempatan kerjasama yang seluas-luasnya kepada negara-negara asing. Selain itu dampak negatif dari globalisasi yakni ketidak mampuan bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang disebabkan karena sumber daya manusia lemah. Bila sumber daya lemah maka sumber daya negara lain akan membanjiri suatu bangsa, misalnya membanjirnya produksi dari negara lain sebagaimana yang terjadi di Indonesia.
Akibat dari globalisasi maka perusahan-perusahan besar dunia memasuki wilayah Indonesia, selain itu masuknya sekolah-sekolah unggulan di Indonesia dan lain-lain. Ini adalah dampak globalisasi. Dampak globalisasi ini lebih diuntungkan dengan kehadirian internet. Internet adalah terkoneksinya satu komputer dengan komputer lain di seluruh dunia memungkinkan setiap orang dapat berkomunikasi tanpa dibatasi jarak dan tempat. Dunia begitu dipersatukan dengan kehadiran internet. Maksud dipersatukan disini adalah kini jarak dan tempat tinggal bukanlah kendala untuk berkomunikasi. Internet memungkinkan orang dapat berkomunikasi dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu negara ke negara lain. Kehadiran internet itu pada satu sisi memberi dampak positif tetapi juga dampak negatif.
Memahami akan pengaruh era globalisasi yang demikian pesat maka siapapun manusia yang berada di bumi ini harus meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor, baik sektor riil maupun moneter, dengan mengandalkan pada kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi, dan manajemen tanpa mengurangi keunggulan komparatif yang telah dimiliki bangsa Indonesia. Dalam konteks demikian seorang Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peranan yang besar menolong peserta didik menghadapi era globaliasi atau bagaimana Guru PAK berperan mempersiapkan peserta didik menghadapi era pasar bebas?.
Masalah yang terjadi yakni bagaimana memanfaatkan globalisasi, khususnya perdagangan bebas (kerja sama antar bangsa yang saling menguntungkan) dapat dimanfaatkan secara baik? Kerja sama dapat berwujud dalam hal pendidikan. Pendidikan mampu menghadapi perubahan zaman, khsususnya dalam teknologi globalisasi.
Era globalisasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan umat manusaia. Perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya juga membawa warga Pendidikan Agama Kristen yaitu guru dan peserta didik di manapun dan kapan pun ke dalam dunia persaingan yang ketat, baik dengan sesama guru Pendidikan Agama Kristen, sesama peserta didik, guru-guru agama-agama lain,peserta didik dari agama-agama non Kristen,sekularisme dan teknologi.
Dalam konteks kehidupan warga PAK, terjadi persaingan antar sekolah untuk mengembangkan dirinya dengan menawarkan berbagai varisasi metode pembelajaran, guru-guru Agama Kristen diperhadapkan dengan persaingan yang ketat, ada guru Agama Kristen yang mampu menghadapi era globaliasi dengan memanfaatkan berbagai kemajuan yang terjadi, disisi yang lain ada pula guru PAK yang tertinggal dalam perkembangan yang modern ini. Misalnya ada guru Agama Kristen yang mampu merancang pembelajaran agama Kristen secara online, memiliki fasilitas-fasilitas teknologi canggih seperti laptop, Ipad dan lain-lain, sementara yang lain sedang dalam proses. Pada akhirnya persaingan tersebut menimbulkan sikap saling mencurigai dan menyalahkan antar warga PAK, guru PAK di kota dan desa dan lain sebagainya.
Dalam konteks perkembangan era globaliasi demikian maka Guru PAK harus berperan mempersiapkan peserta didik di dalam menghadapi era globalisasi. Warga PAK tidak mungkin menghindari era globalisasikondisi persaingan seperti itu. Oleh karena itu Guru PAK memiliki peran untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi era globalisasi.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka diidentifikasi beberapa
masalah yang berhubungan dengan judul penelitian skripsi ini.

1. Apakah guru PAK dapat menghindari pengaruh era globaliasi?
2. Apakah siswa-siswi di SMP mampu menghadapi era globaliasi tanpa peran dari Guru PAK?
3. Apah peran Guru PAK dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi era globalisasi?
4. Apakah pengaruh positif dari era globaliasi bagi peserta didik di SMP?
5. Apakah Pengaruh negatif dari era globaliasi bag peserta didik di SMP?
6. Apakah era globalisasi mempengaruhi persaingan antar sesama guru PAK?
7. Apakah era globaliasi mempengaruhi persaingan antara sesama siswa yang bergama Kristen, dan atau dengan sesama siswa yang bergama non Kristen?

D. Batasan Masalah

dst

Teori Masalah Penelitian

Teori Penyusunan Penelitian Mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi)

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”.

Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52)

Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu:

Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya

Apa yang benar-benar terjadi

Penyimpangan/masalah

Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah

Jemaat malas beribadah

Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah

Contoh deskripsi Masalah:

Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau

Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)
Cukup yakin (3)
Kurang yakin 2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di

Bab I untuk poin: Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.