Kini hadir layanan yang memudahkan urusan tiket dan hotel di Indonesia dan dunia

Adzmarket

Atasi Masalah Anda Bersama Kami

Atasi Masalah Anda Bersama Kami
Silakan konsultasikan kesulitan Anda di: 081388662585

Friday, June 24, 2016

Judul-judul Skripsi dan Tesis Pendidikan Agama Kristen

Judul Variabel Penelitian Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K)
Sebelum memulai perkuliahan pada Agustus tahun 2016 yang akan datang, saya memposting beberapa judul yang dapat dijadikan variabel Penelitian Pendidikan AGama Kristen. Judul-judul berikut ini dapat disebut sebagai judul-judul Skripsi Pendidikan Agama Kristen. Judul-judul berikut ini juga dapat dirumuskan menjadi tiga atau empat variabel penelitian untuk tingkat Tesis dalam Bidang Pendidikan Agama Kristen untuk gelar M.Pd.K. Selain itu dapat pula dirumuskan menjadi lima (5) atau lebih untuk menjadi variabel Penelitian Pendidikan Agama Kristen. Bagi mereka yang sedang mencari judul-judul Skripsi, Tesis dan Disertasi dalam Bidang Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K; M.Pd.K; D.Th.) maka judul-judul berikut ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam merumuskan judul penelitian. Tentu kita melakukan penelitian yang terbaik sehingga kita dapat mengasihi Tuhan dengan segenap kemampuan akal budi dalam memberi jawaban kepada peserta didik. Penelitian yang kita lakukan dalam bidang Pendidikan Agama Kristen tentu bertujuan untuk menjawab masalah penelitian, serta meningkatkan pengetahuan kita dalam bidang yang kita tekuni. Mereka yang tidak meneliti pasti tidak mengalami peningkatan dalam pengetahuan-pengetahuan secara rasional rasional dan empiris. Bagi mereka yang mengadakan penelitian, pasti memiliki pengetahuan yang benar (secara kebenaran rasional dan kebenaran empiris). Semoga judul berikut ini membuka kebuntuan dalam menemukan ide-ide dalam penelitian.

1. Pengaruh Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas ........ SD .......
2. Pelaksanaan Pengajaran Pendidikan Agama Kristen di SD ..........
3. Hubungan Antara Keteladanan Guru Agama Kristen Dalam Interaksi Edukatif dengan Sikap Siswa di SD .........................
4. Korelasi Antara Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Kristen Dengan Kesetiakawanan Sosial Siswa di SD ............... Kec. ..... Kabupaten ......
5. Korelasi Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga dengan Prestasi Belajar Dalam Bidang Studi Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas VI SDN ...... Kalabahi Alor NTT
6. Bimbingan Orangtua Dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas VI SDN ....... Kalabahi Alor NTT
7. Hubungan Bimbingan Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa dalam Bidang Studi Pendidikan Agama Kristen Kelas 5 SD KRISTEN .....
8. Studi Tentang Perbedaan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas II Antara yang Belajar Kelompok dengan yang tidak belajar Kelompok di SDN .......
9. Pengaruh Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Terhadap Tingkah Laku Kelas III SDN .........
10. Perbandingan Antara Efektivitas Metode Simulasi dengan Metode Ceramah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen di SDN ............
11. Pengaruh Antara Tingkat Pendidikan Orangtua Kristen terhadap Sikap Sopan Santun Anak dalam Pergaulan pada Siswa Kelas II SD Kristen ...... 2016-2017
12. Pengaruh Media Gambar Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas IV SDN ............
13. Korelasi Kedisiplinan Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Kelas IV SDN ...........
14. Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Media Gambar Dengan Siswa yang Diajar Menggunakan Media Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen pada Siswa Kelas IV SDN ......
15. Pengaruh Pekerjaan orangtua Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Kelas VI di SDN .....
16. Pengaruh Status Ibu Rumah Tangga Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa di SDN .............
17. Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Kelas VI SDN .............
18. Prestasi Guru-guru Agama Kristen Sekolah Dasar di Kelurahan ........Kota ....... Tentang Pelaksanaan Kurikulum 2013 di SD Tahun ........
19. Studi Komparasi Prestasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Agama Kristen Antara Siswa Yang Diberi Tugas Kelompok dan Yang diberi Tugas Individu di SDN ...............
20. Hubungan Antara Prestasi Pendidikan Agama Kristen dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen pada Siswa SDN .......... Tahun Pelajaran 2016-2017
21. Aplikasi Demokrasi Pembelajaran Oleh Guru-guru SD Kristen I dan II di Kecamatan ........ Kabupaten .......
22. Peranan Pendidikan Ketrampilan Terhadap Perkembangan Minat Berkarya pada Anak Anak Cacat di ............
23. Korelasi Antara Kompetensi Guru Pendidikan Agama Kristen dengan Minat Belajar Siswa Kelas 4,5 dan 6 SDN ...... Tahun Ajaran 2016/2017
24. Pengaruh Persepsi Terhadap Pelajaran Pendidikan Agama Kristen terhadap Tingkat Kedisiplinan di Sekolah pada Siswa Kelas V SDN ............ Tahun Ajaran ...............
25. Korelasi Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Agama Kristen Kelas VI Semester 1 Tahun Pelajaran 2016-2017
26. Pengaruh Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan Terhadap Motivasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Pada Siswa Kelas VI SDN ...... Tahun Ajaran 2016-2017
27. Hubungan Antara Kualitas Guru Pendidikan Agama Kristen Dengan Prestasi Belajar Siswa SDN ................... Tahun Ajaran 2016-2017
28. Komparasi Kemampuan Pendekatan Ketrampilan Proses Dengan Tidak Menggunakan Pendekatan Ketrampilan Proses Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Kelas VI SDN ..... Tahun Ajaran 2016-2017
29. Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Pembelajaran Mata Pelajaran Agama Kristen Kelas V SDN ....... Tahun Ajaran 2016-2017 30. Hubungan Ketrampilan Guru Mengajar Dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Semester II Siswa SDN ..... Tahun Ajaran 2016-2017
31. Perkembangan Koperasi .......Terhadap Pembentukan Sikap Kewirausahaan Peseradidik di STT .......
32. Pengaruh Penggunaan Media KIT Terhadap Penguasaan Materi Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas V SDN ...... Tahun Ajaran 2016-2017
33. Hubungan PHK Orangtua Siswa Kristen Dengan Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Kristen Kelas IV SDN ..... Tahun Ajaran 2016-2017
34. Pengaruh Kreativitas Terhadap Partisipasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas IV SDN ..... Tahun Ajaran ......... 35. Hubungan Antara Lingkungan dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas V Tengah Semester II di SDN ....... Tahun Ajaran 2016-2017
36. Hubungan Penggunaan Metode Tanya Jawab dengan Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen di SDN .... Tahun Ajaran 2016-2017
37. Perbedaan Prestasi Belajar Siswa SDN Sebelum dan Sesudah Mendapat Beasiswa .....di Kec. ..... Tahun Ajaran 2016-2017
38. Perbedaan Prestasi Mengajar Dosen STT Sebelum dan Sesudah Mendapat Serdos Tahun Ajaran 2015-2016
39. Korelasi Penggunaan Alat Peraga Gambar Pahlawan Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran PAK Siswa Kelas VI Semester I SDN ...... Tahun Ajaran 2016-2017
40. Pengaruh Kenakalan Anak Terhadap Hasil Belajar PAK Siswa Kelas III, IV, V SDN ..... Tahun Ajaran 2016-2017
41. Hubungan Kegiatan Peningkatan Kemampuan Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Kegiatan Belajar Mengajar di SDN ...... Tahun Ajaran 2016-2017
42. Korelasi Antara Pola Asuh Orangtua Kristen di Rumah dengan Dukungan Sosial Anak di Sekolah Siswa Kelas IV dan V SDN ......
43. Hubungan Perhatian Orangtua Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Kristen Pada Siswa Kelas V SDN ....... Tahun Ajaran 2016-2017
44. Pengaruh Profil Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Minat Belajar Siswa di Kelas VI Semester II SDN ............. Tahun Ajaran 2016-2017
45. Pengaruh Kelompok Kerja Guru Terhadap Kompetensi Guru Pendidikan Agama Kristen di SDN ....... Tahun Ajaran 2016-2017 46. Hubungan Minat Membaca Dengan Sikap Hidup Bermasyarakat Siswa Kelas V SD I ............
47. Studi Korelasi Antara Pemanfaatan Peta Alkitab Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas VI Pada Tengah Semester I di SDN ......... Tahun Ajaran 2016-2017
48. Hubungan Antara Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V SDN ..... Tahun Ajaran 2016-2017
49. Hubungan Cara Belajar Yang Efisien dengan Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Kristen di SDN ........... Tahun Ajaran 2016-2017
50. Pengaruh Kinerja Pengawas SD Terhadap Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Kristen di SDN ...... Tahun 2016-2017

Salam

Pelayan Didaskalos Kristi di Indonesia
(YM)

Gairah bagi penelitian

Penelitian dalam bidang apapun harus dimulai dengan sebuah gairah atau faktor pendorong dalam penelitian. Beberapa pokok yang dibahas dalam postingan ini paling tidak dapat dijadikan sebagai pegangan yang menggairahkan setiap orang yang akan melakukan penelitian. Apakah penelitian dalam tataran skripsi, tesis dan disertasi. Perlu memperhatikan pokok-pokok berikut:

Motivasi Penelitian Penelitian selalu dimulai dengan adanya dorongan, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri si peneliti. Motivasi itu tidak lain keinginan seseorang atau sekelompok (tim) untuk mengetahui sesuatu melalui proses ilmiah. Jadi, keinginan seseorang atau sekelompok orang untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan dasar dorongan untuk mengadakan penelitian. Kegiatan penelitian itu dimulai ketika seseorang atau sekelompok orang menaruh perhatian pada sesuatu yang ada (fakta) di sekitar lingkungan di mana manusia berada. Perhatian seseorang atau sekelompok orang terhadap fakta-fakta yang diamati secara mendalam akan melahirkan berbagai pertanyaan. Keinginan mempertanyakan seseorang atau sekelompok orang yang mempertanyakan sesuatu yang menjadi perhatiannya akan diikuti oleh usaha untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri peneliti. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi suatu masalah yang memerlukan solusi atau jawaban (bnd. Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:2)

Tujuan Penelitian
a. Untuk mendapat pengetahuan yang dapat menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah
b. Untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan
Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah prosedur atau cara-cara tertentu yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu (pengetahuan ilmiah). Tidak semua pengetahuan disebut ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan yang memiliki kriteria tertentu. Kriteria inilah yang membedakan tahu biasa dengan pengetahuan yang disebut ilmu. Pengetauhuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasa dan berpikir yang menjadi dasar seseorang dalam dalam bersikap dan bertindak. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang memberikan penjelasan mengenai fakta atau fenomena alam (bnd. Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:5)

Kebenaran

a. Kebenaran iman
Berdosa dinyatakan benar di hadapan Allah b. Kebenaran Yesus Kristus Yesus Kristus adalah logi Allah. Logi Allah pasti tidak ada kesalahan didalamnya. Jadi, Yesus adalah kebenaran berarti Yesus sempurna, tidak ada kesalahan dalam diri-Nya. Yesus jujur
c. Kebenaran rasional

Kebenaran pikiran yang dikembangkan dari satu pikiran ke pikiran yang lain yang telah diakui benar. Artinyanya pengetahuan yang ada dalam diri seseorang tentang sesuatu hal bersesuaian dengan hasil pikiran terdahulu. Bila dihubungkan dengan penelitian maka kebenaran rasional itu ada dalam Bab II (Kajian Teori)
d. Kebenaran empiris
Kebenaran empirian adalah pengetahuan seseorang terhadap sesutu fakta sesuai dengan fakta yang terjadi di tempat penelitian atau di tempat di mana berlangsung sebuah atau beberapa peristiwa atau kejadian atau tokoh atau benda yang diamati dan dihasilkan dalam bentuk informasi dan informasi tersebut bersesuaian dengan fakta tersebut.
Pengetahuan yang benar
Pengetahuan yang benar merupakan kombinasi dari dua sisi kebenaran yaitu rasional dan empiris. Rasional artinya pengetahuan yang diperoleh didasarkan pada penalaran, sedangkan kebenaran empiris adalah menggunakan fakta atau fenomena empiris sebagai sumber kebenaran untuk menyusun pengetahuan. Kebenaran rasional selalu menggunakan pendekatan rasional. Pendekatan rasional selalu menyusun pengetahuan secara konsisten dan kumulatif berdasarkan pada pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun sebelumnya (ada dalam buku-buku). Artinya, suatu pengetahuan disusun berdasarkan pada penalaran yang konsisten dengan penalaran pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Adanya konsistensi penalaran antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun sebelumnya menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan baru merupakan pengembangan secara komulatif dari pengetahuan-pengetahuan yang telah disusun sebelumnya. Sedangkan empiris merupakan pendekatan untuk memperoleh pengetahuan yang memisahkan antara pengetahuan yang diperoleh berdasarkan fakta dengan pengetahuan yang tidak berdasarkan fakta. Pengetahuan yang benar menurut pendekatan empirisisme adalah pengetahuan yang disusun berdasarkan fakta atau fenomena. Pengetahuan yang rasional tetapi tidak didukung oleh fakta, menurut pendekatan empirisisme bukan merupakan pengetahuan yang benar (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:6)

Telaah Teoritis
Dalam penelitian ilmiah selalu ada yang disebut telaah teoritis. Telaah teoritis dapat pula disebut dengan beberapa istilah seperti: kajian teoritis, kerangka teoritis, atau landasan teoritis. Bagian ini biasanya dilakukan dalam Bab II. Dalam hal ini, telaah teoritis atau kajian teoritis/kerangka teoritis/landasan teoritis merupakan tahap dalam proses penelitian yang bertujuan untuk menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian. Agar penelitian menghasilkan jawaban yang dapat diterima sebagai sumber kebenaran, diperlukan teori-teori untuk menjelaskan fakta yang diteliti. Telaah teoritis merupakan bagian dari proses penelitian yang memberikan jawaban masalah penelitian secara rasional atau berdasarkan penalaran. Telaah teoritis merupakan tahap penelitian yang menguji terpenuhinya kriteria pengetahuan yang rasional. Menurut Indriantoro dan Supomo, proses sebagaimana yang dikemukan di atas itu membutuhkan elaborasi oleh peneliti terhadap pengetahuan-pengetahuan teoritis yang relevan dengan masalah yang diteliti (masalah penelitian). Teori-teori yang ditelaah berasal dari literatur seperti buku-buku, dan hasil-hasil penelitian sebelumnya (skripsi, tesis dan disertasi, penelitian mandiri dll). Telaah teoritis ini sering disebut telaah literatur atau literature review. Dalam konteks pemahaman ini, jawaban masalah atau pertanyaan penelitian dari proses telaah teoritis yang dilakukan peneliti merupakan dugaan-dugaan yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang disebut hipotesis yang perlu diuji. (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:10)

Berlanjut!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sunday, June 19, 2016

Judul Skripsi dan Tesis Teologi Kependetaan

Shalom para pengunjung blog, selamat hari Minggu, 19 Juni 2016. Setelah selesai Ibadah saya memposting beberapa judul untuk para pengunjung blog. Judul-judul atau beberapa variabel berikut ini hanya sebagai contoh. Dengan demikian postingan ini hendak memberi masukan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan dalam merumuskan judul penelitian. Judul-judul ini sifatnya hanya contoh saja.

1. Peranan Gereja dalam Pembinaan terhadap Keterlibatan Anggota Jemaat dalam sistem Perdagangan Tradisional Orang Tehit
2. Pengaruh Penggembalaan Terhadap Keluarga yang mengalami Kedukaan 3. Efektivitas Persekutuan Jemaat Terhadap Pekabaran Injil
4. Pengaruh Tingkat Pemahaman Teologis Pelayanan Kependidikan Gereja Terhadap Pengelolaan Sekolah Swasta
5. Pengaruh Kepemimpinan Adat Terhadap Efektivitas, Efisiensi dan Produktivitas Pelayanan Gereja
6. Pengaruh Pelayanan Warga Kristen Terhadap Kesadaran Politik
7. Hubungan Harmonis Gereja-gereja di kota terhadap Harmonisasi Pelayanan
8. Kemandirian Gereja di Bidang Teologi Terhadap Kualitas Penginjilan
9. Efektivitas Pelayanan penggembalaan Pemuda Terhadap Kenakalan Pemuda
10. Hubungan Strategi dan Metode Pembinaan Majelis Jemaat di Daerah Pedesaan Terhadap Pertumbuhan Gereja Pedesaan
11. Urgensi Pemberantasan Buta Huruf Terhadap Kualitas Pertumbuhan Rohani
12. Peranan Gereja dalam pencegah Alkoholisme di Kalangan Pemuda
13. Evaluasi Teologis Kehadiran Zending Mennonite di Daerah
14. Pemanfaatan Persembahan Persepuluhan
15. Peranan Kepemimpinan Majelis Jemaat Terhadap Pertumbuhan Gereja di ..........
16. Pengaruh Adat Terhadap upacara pembaptisan Kudus di ...........
17. Efisiensi Penatalayanan Kristen Terhadap Ekonomi Gereja
18. Pengaruh Majelis Jemaat dan Pembinaan Jemaat Terhadap Semangat Penginjilan
19. Dinamika Persekutuan terhadap Pekabaran Injil
20. Pemahaman Teologis yang Sehat Terhadap Perjamuan Kudus
21. Hubungan Kearifan Lokal dengan Teologia Kerajaan Allah Terhadap Pertumbuhan Gereja Pedesaan
22. Peranan Pemuda Dalam Pertumbuhan Jemaat
23. Kontekstualisasi tari-tarian bernuansa adat dalam Liturgi Ibadah Gereja Terhadap Ibadah yang menyapa batin Warga Jemaat di ....
24. Keterbukaan Gereja terhadap Glosolalia dalam Ibadah Gereja Protestan
25. Efektivitas Pelayanan Gereja dalam lingkup Jemaat yang dikelola Perusahaan
26. Sikap Gereja Terhadap Anggota Jemaat yang Terlibat Minum Minuman Tuak
27. Peranan Gereja dalam memotivasi Jemaat dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Potensi Pala
28. Motivasi Gereja terhadap Penatalayanan Kekayaan Alam 29. Sikap Gereja terhadap pelayanan Hobat-Hobatan dalam Kehidupan Jemaat di Pedesaan
30. Sikap Gereja terhadap Praktek Penyembuhan Tradisionil di Pedesaan
31. Evaluasi Teologis terhadap Sikap Toleransi Bergama dalam Kehidupan Anggota Jemaat
32. Pengaruh Pendeta Go-Blog Terhadap Tingkat Pemahaman Anggota Jemaat dalam Pemahaman Alkitab
33. Manajemen waktu sebagai Anugerah Allah Terhadap Perkembangan Gereja
34. Tingkat Pemahaman Teologis Terhadap Pelayanan Gelandangan
35. Pengaruh prinsip hidup suami istri Terhadap Keutuhan Pernikahan Menurut Efesus 5:22-25
36. Pengaruh Suami Istri yang taat dan hidup dalam Kasih Terhadap Eksisntensi Keluarga Kristen Berdasarkan Efesus 5:22-30
37. Tinjuan Teologis Terhadap Kuasa Manusia Sebagai Mandat Allah
38. Pengaruh Roh Kudus Dalam Pertumbuhan Gereja-Gereja di Kota
39. Cara Penanggulangan Miras di Kalangan Perempuan Kristen
40. Dalam Nama Yesus Terhadap Kekuatan Magis di Pedesaan
41. Peranan Kepemimpinan Perempuan dalam Organisasi Gereja
42. Pengaruh Menciptakan Ibadah Kreatif Terhadap Semangat Beribadah Hari Minggu
43. Tinjaua Teologis Perjamuan Kudus Menurut Teologi Paulus dan Korelasinya terhadap Perjamuan Kudus Dalam Jemaat Gereja ...
44. Sikap Gereja terhadap pelayanan Waria dan Pelayanan Gereja
45. Peranan Pendeta dalam Entrepreneur Jemaat
46. Seketiduran di Rumah Kost
47. Memberdayakan Keluarga Yang Tidak Produktif (Mandul) dalam Pelayanan Gereja
48. Eksistensi Guru Sekolah Minggu dalam Gereja
49. Urgensi pelayanan Okultisme dalam Pelayanan Pastoral
50. Melayani Pekerja Seks Komersial di Kota dengan Sikap Kasih
51. Penderitaan dan Kehadiran Tuhan
52. Keyakinan Kepastian Keselamatan Terhadap Semangat Pelayanan Penginjilan
53. Peranan Gereja Perempuan Menurut Lukas 8:1-3
54. Pengaruh Menjadi Pentakostalisme Terhadap Perintisan Gereja
56. Peranan Pemimpin Kristen Memobilisasi Semangat Entrepreneur Kristen Anggota Jemaat terhadap Kemandirian Dana
57. Kreativitas dan Inovasi Tenun Etnik Daerah Sebagai Wujud Pertanggungjawaban Penatalayanan Gereja
58. Peranan Pendeta dalam Pengajaran Firman Terhadap Tingkat Pemahaman Jemaat Akan Firman Tuhan
59. Peranan Pendeta dalam Berkhotbah dan Mengajar Terhadap Kualitas Pertumbuhan Rohani Jemaat
60. Peranan Pelayanan Kependidikan Gereja berdimensi Pendidikan Kristen Multikultural Terhadap Keharmonisan Beragama
61. Pengajaran Gereja Berbasis Keesaan Allah Menurut Ulangan
61. Benarkan orang Kristen Kafir?: Jawaban Apologetis Kristen
62. Implementasi Makna Kasihilah sesamu seperti dirimu sendiri Terhadap Tuduhan Orang Kristen Kafir

Salam Triofilsafat (13265)

Saturday, June 18, 2016

Tinggalkan Pola Lama mendisiplinkan peserta didik

Bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Keguruan yang sedang mencari masalah penelitian maka informasi berikut ini layak Anda pertimbangkan untuk menjadi salah satu variabel penelitian. Anda bisa menjadikan sebagai variabel bebas atau variabel utama penelitian. Ingat teori masalah penelitian, yaitu masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan.Harapannya yakni dengan cara mendisiplinkan anak agar anak menjadi baik tetapi cara mendisiplinkan anak (peserta didik) juga dapat mendatangkan akibat hukum bagi seorang pendidik.Oleh karena itu maka perlu memperhatikan cara mendisiplinkan peserta didik. Berikut ini saya sampaikan apa yang saya temukan dalam informasi koran. Mudah-mudahan dapat dijadikan sebagai sebuah variabel penelitian.
Beberapa waktu lalu, saya membeli dua koran dengan tujuan untuk mengikuti informasi tentang Copa Amerika dan Piala Eropa di Prancis. Dua koran yang saya maksud yaitu Kompas dan Harian Terbit. Pada waktu saya memasuki halaman 9 dari koran Harian Terbit, saya menemukan berita ini: “Guru Diminta Tanggalkan Pola Lama Disiplinkan Murid”. Saya penasaran dengan judul itu, kemudian berusaha membaca berita tersebut mulai dari kolom 1-5 halaman 9 dari koran Harian Terbit. Inti beritanya yakni: seorang guru diduga mendisiplinkan anak dengan cara mencubit muridnya pada saat mengajar. Kemudian ada pula guru yang memaksa memotong rambut siswa SMA. Sang siswa tersebut menolak ketika hendak digunting rambut akibatnya tergores lengan sang siswa.
Kasus pertama, sang orangtua melapor kepada pihak berwajib, demikian juga kasus kedua, sang orangtua melapor kepada pihak yang berwajib akibatnya sang guru harus masuk tahanan. Bagi mahasiswa jurusan Pendidikan yang sedang mencari masalah penelitian dapat menjadikan berita koran Harian Terbit Selasa tanggal, 14 Juni 2016 pada halam 9 kolom 1-5 untuk dijadikan sebagai variabel penelitian. Berdasarkan informasi dalam koran tersebut menjadi jelas bahwa masalah yang muncul adalah metode mendisiplinkan murid/siswa/peserta didik. Bila salah metode mendisiplinkan anak maka akan berujung pada hukum. Oleh karena itu metode disiplin yang dipakai guru juga harus disesuaikan dengan tuntutan zaman dan peraturan-peraturan yang berlaku.
Biasanya metode mendisiplinkan siswa yang dikategorikan pola lama yaitu dengan cara mencubit. Sayapun dulu dicubit oleh seorang guru sampai membiru di paha. Ada pula yang dengan cara memukul dengan rotan atau kayu. Ini biasanya terjadi di kampung. Mudah-mudahan tidak ada lagi model mendisiplinkan siswa dengan cara lama.
Selamat mengembangkan dalam penelitian ilmiah sehingga menghasilkan teori yang berguna untuk kepentingan pendidikan dalam mendisiplinkan anak dengan pola yang bermartabat. JAdi variaberi yang dirumuskan yakni: POLA MENDISIPLINKAN PESERTA DIDIK

Saturday, June 11, 2016

Puasa Dalam Terminologi Iman Kristen


Pengertian Puasa Menurut Perjanjian Lama

Iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian Lama. Itulah sebabnya pelajaran tentang puasa mesti diperhatikan juga dalam kesaksian Perjanjian Lama. Dari sisi makna, kata “puasa” dalam bahasa Ibrani tsom, yang mengacu pada tindakan menyangkal diri. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, kata Yunani yang dipakai yaitu nesteia yang memiliki arti penyangkalan diri.
Praktik puasa dapat kita perhatikan dalam komunitas perjanjian yaitu bangsa Israel sebagaimana yang dinarasikan dalam Perjanjian Lama yaitu dalam kitab Imamat 16:29-31; 23:26-32; Bilangan 29:7-11. Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, Allah memberikan ketetapan-ketetapan-Nya kepada bangsa pilihan melalui nabi Musa. Salah satu ketetapan itu yakni puasa. Nabi Musa sebelum memberitahukan kepada umat Israel, ia telah menempuh/melakukan puasa selama 40 (empat puluh hari empat puluh malam) di atas gunung Sinai (= Horeb). Menariknya yakni Puasa yang ditetapkan Allah bertepatan dengan Hari Raya Pendamaian yaitu hari Grafirat, terjemahan lama, dalam bahasa Ibrani vow hakkipur.
Hari Pendamaian “bagi bangsa Israel merupakan hari suci paling khidmat, oleh sebab itu barang siapa yang tidak menjalankan puasa pada hari itu harus dihukum mati.”(Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 1995:225) Setiap orang dilarang untuk makan, minum, mandi, meminyaki diri, memakai alas kaki dan bersetubuh (William Barclay, 1995:383). Dalam penerapan selanjutnya anak-anak kecilpun dilatih untuk mengikuti peraturan puasa pada Hari Raya Pendamaian itu, agar apabila mereka kelak dewasa mereka sudah siap untuk menerima dan memberlakukan puasa secara nasional tersebut. Dalam penanggalan Yahudi pada hari ini bangsa Yahudi harus berkabung dan merasa sedih sebagai tindakan pendamaian atas dosa-dosa mereka.
Praktik puasa sebagaimana yang disebutkan di atas biasanya dihubungkan dengan keharusan satu hari untuk berpuasa, dalam perkembangannya orang-orang Yahudi melakukan banyak puasa pribadi. Akibatnya hari hari puasa lainnya ditambah sehingga total puasa menjadi lebih daripada dua puluh hari! (Richard J. Foster, 1996:76). Sesudah keruntuhan kota Yerusalem tahun 586 dan seluruh Yehuda dibuang ke Babel maka ditetapkan empat hari puasa, yakni dalam bulan keempat, kelima, ketujuh dan bulan yang kesepuluh, untuk memperingati keruntuhan kota Yerusalem sebagai waktu duka nasional. Suasana ini dapat diperhatikan dalam firman Tuhan kepada Zakaria: “Beginilah finnan TUHAN semesta alam; waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam buian yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!” (Zak. 8:19).
Selanjutnya dalam Alkitab kita mengenal ada puasa Daniel. Daniel berpuasa pada waktu ia berada dalam pembuangan di Babilonia (Dan. 9:3-4). Daud berpuasa untuk menunjukkan dukacitanya akibat kematian Abner (lihat II Sam. 3:35) dan kematian raja Saul dan Yonathan. Ezra dan bangsa Yahudi berpuasa merendahkan hati di hadapan Tuhan pada waktu akan pulang dari Babilonia ke Yerusalem (Ezra 8:21). Demikian halnya nabi Yesaya dipakai oleh Tuhan untuk menegur umat Yahudi yang berpuasa tetapi tidak menunjukkan kerendahan hati sebagai bukti nyata dari puasa tersebut (lihat Yes. 58:3-6). Puasa Ratu Ester. Puasa ini bertujuan untuk meminta tolong pada TUHAN agar umat Israel terselamatkan dari rencana pemusnahan Haman. Ester menyuruh semua orang Yahudi berpuasa, tidak makan tidak minum selama tiga hari penuh. Jadi puasa Ester adalah puasa tanpa makan dan minum selama tiga hari (lihat Ester 4:16). Puasa juga dilakukan oleh Ezra dan umat Yahudi. Mereka berpuasa ketika akan memberangkatkan rombongan yang akan pulang kembali ke Yerusalem (Ezra 8:21). Kita juga masih mengenal ada puasa Nehemia, yaitu Nehemia berpuasa untuk memohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosa bangsanya (Neh. 9:1).
Uraian di atas menegaskan bahwa puasa mewamai setiap hari raya yang ditetapkan Allah bagi umat-Nya yaitu umat Israel pada waktu itu. Mereka harus melakukan puasa-puasa secara individu maupun kolektif berdasarkan alasan-alasan tertentu yang telah disebutkan di atas.
Puasa dalam Perjanjian Lama dilakukan sebagai suatu ekspresi alamiah dari kesedihan; dan selanjutnya menjadi suatu kebiasaan untuk menunjukkan kesedihan seseorang kepada yang lain dengan menghindarkan diri dari makanan atau menunjukkan dukacita. Puasa sebagaimana dalam penjelasan di atas adalah praktik umat-Nya untuk menunjukkan dan kemudian mendorong perasaan yang sungguh-sungguh karena dosa (Elmer L. Towns, 1999: 26) atau yang biasa disebut puasa sebagai tanda pertobatan.
Puasa merupakan ekspresi alamiah manusia dari kesadarannya akan dosa. Hal ini akhirnya menjadi suatu kebiasaan keagamaan untuk menenangkan kemarahan Allah yang memurkai dosa. Orang-orang mulai berpuasa untuk menjauhkan kemarahan Allah agar la tidak membinasakan mereka. Di dalam buku-buku Yahudi di luar Perjanjian Lama terdapat beberapa ceritera mengenai puasa semacam ini. Ruben berpuasa selama tujuh tahun untuk menghapus dosa yang dilakukannya dalam menjual Yusuf adiknya. Ruben tidak minum anggur atau minum yang semacamnya, tidak makan daging atau makanan lain yang enak. Dengan alasan yang sama Simeon-pun melakukan puasa selama dua tahun. Yehuda yang pernah berzinah dengan Tamar ingin melakukan pertobatan yang menghapus dengan berpuasa dengan tidak minum anggur, makan daging dan menjauhkan diri dari segala kenikmatan (William Barclay, 1995:384)
Jadi, berpuasa dijadikan sebagai dasar permohonan yang efektif dari seseorang kepada Allah. Untuk maksud ini kita dapat memperhatikan tulisan seorang penulis Yahudi yang menyatakan: “demikian halnya dengan orang, yang berpuasa demi dosa-dosanya, lalu pergi dan melakukan dosa yang sama lagi; siapa gerangan akan mendengar doanya? Dan apa faedahnya perendahan dirinya itu?”(Kitab Sirakh 34:26). (William Barclay, 1995:384)
Dengan demikian tepatlah perkataan Towns:
Ketika Allah menunjukkan kemarahan-Nya terhadap suatu bangsa karena kejahatannya, berpuasa menjadi cara untuk mencari kemurahan dan perlindungan ilahi. Oleh karena itu, adalah alami untuk sekelompok orang menyatuhkan diri mereka dalam pengakuan dosa, menyesali dosa mereka dan berdoa syafaat kepada Allah. (William Barclay, 1995:384)
Niniwe berpuasa sebelum Tuhan menghukum mereka (Yun. 3:5-10); Daud berpuasa dengan maksud Allah dapat menyembuhkan anaknya (II Sam. 12:16-23); Yosafat berpuasa supaya Allah berperang menggantikan bangsanya dan masih banyak contoh lain dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan puasa sebagai dasar Allah memberikan jawaban-Nya. William Barclay menggambarkan tiga hal penting yang selalu ada dalam benak orang Yahudi saat berpuasa, yaitu :

(i) Berpuasa adalah suatu usaha sengaja untuk menarik perhatian Allah kepada orang yang melakukannya. Pemahaman ini memang sangat kuno. Puasa dilakukan untuk menarik perhatian Allah yang dengan puasanya itu menyengsarakan dirinya sendiri.
(ii) Berpuasa adalah suatu usaha sengaja untuk membuktikan adanya pertobatan nyata. Puasa di sini merupakan jaminan akan kesungguhan kata-kata dan doa dari si pelaku. Di sini memang mudah sekali terjadi bahaya, karena puasa, yang semula dimaksudkan sebagai bukti dari pertobatan, bisa dengan mudah dianggap menjadi pengganti pertobatan itu sendiri.
(iii) Puasa juga sering dilakukan atas nama orang lain. Puasa yang demikian ini bukan pertama-tama dimaksud untuk menyelamatkan orang yang menderita, melainkan untuk menggerakkan Allah agar la bertindak menyelamatkan bangsa yang sedang menderita. Orang atau bangsa yang sedang menderita itu tidak perlu malakukan puasa sendiri, tetapi orang lainlah yang malakukannya atas nama dan untuk mereka (William Barclay, 1995:386).
Demikianlah puasa yang diajarkan dalam Perjanjian Lama dan dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Pertanyaan implikatif yaitu: apakah orang Kristen melakukan puasa seperti yang diajarkan dalam Perjanjian Lama? Ya orang Kristen juga dapat melakukan puasa tetapi tentu berbeda seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel. Orang Kristen dapat melakukan puasa seperti yang diajarkan oleh Yesus (akan dibahas dalam Puasa Menurut Perjanjian Baru)

Puasa Menurut Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru peraturan berpuasa pada Hari Raya Pendamaian masih diterapkan, malah puasa pada hari itu menjadi suatu keharusan. Puasa pada hari itu dilakukan sejak dini hari sampai matahari terbenam. Di luar batas waktu itu, semua kegiatan berjalan sebagaimana biasa: orang boleh makan minum dan melakukan hal-hal lain seperti biasanya. Dalam Perjanjian Bara “puasa merupakan suatu disiplin yang dilaksanakan secara luas, terutama dikalangan orang Farisi dan murid-murid Yohanes Pembabtis.” (William Barclay, 1995:27) Yesus memulai pelayanan-Nya dengan berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam (lihat Mat. 4:1-2). Mengenai, apakah setelah Tuhan Yesus berpuasa empat puluh hari, Dia masih berpuasa lagi? Abineno menjawab.
Dalam Perjanjian Baru kita membaca, bahwa sesudah kejadian ... berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya di padang gurun - la pernah berpuasa lagi dalam hidup-Nya di dunia. Tetapi ... kita juga tidak membaca, bahwa la pernah menentang puasa. Musuh-musuh-Nya tidak pernah mempersalahkan-Nya, bahwa la tidak mentaati peraturan-peraturan puasa. Malahan sebaliknya ... puasa yang dilakukan secara sukarela la anggap baik.(J.L.Ch. Abineno, 1996:140)
Akan tetapi ketika murid-murid-Nya dikecam oleh beberapa orang Farisi dan murid-murid Yohanes Pembabtis karena mereka tidak berpuasa, Yesus menjawab bahwa murid-murid-Nya tidak akan berpuasa ketika la ada bersama mereka, tetapi tersirat bahwa mereka akan berpuasa setelah la diambil dari mereka (lihat Mat. 9:14-15).
Yesus tidak memberikan petunjuk secara spesifik mengenai frekuensi puasa. Dalam khotbah-Nya di bukit la berkata, bahwa puasa mereka (para murid dan semua orang yang mendengar khotbah-Nya) harus berbeda dari puasa Farisi, di mana mereka harus berpuasa kepada Allah, bukan untuk menarik perhatian orang atau membuat orang lain terkesan dengan tindakan yang sepertinya rohani (lihat Mat. 6:16-18). Orang-orang Farisi berpuasa dua kali seminggu (lihat Luk. 18:12) setiap Selasa dan Kamis. Yohanes Pembabtis dan murid-muridnya juga berpuasa secara teratur, bahkan sering berpuasa pada waktu tertentu.
Berpuasa kemudian dipraktikkan dalam Gereja mula-mula. Jemaat Anthiokia berpuasa sebelum memberangkatkan Paulus dan Barnabas untuk safari penginjilan mereka yang pertama. Paulus dan Barnabas melakukan hal yang sama sebelum mengangkat penatua-panatua atau memilih orang-orang untuk pelayanan khusus. (Kis. 13:1-3; 14:23). Rasul Paulus dan pemimpin-pimimpin Gereja mula-mula sering berpuasa secara teratur (lihat I Kor. 7:5; II Kor. 6:5). Dan sebelum itupun Paulus sesudah pertobatannya, ia berpuasa; tidak makan dan tidak minum selama tiga hari (Kis. 9:9).
Epiphanius, uskup Salamis, dilahirkan tahun 315, bertanya, Siapa yang tidak tahu bahwa puasa pada hari keempat dan keenam dalam satu minggu dijalankan oleh orang-orang Kristen di seturuh dunia? (Abineno, 1996:140) Pada awal sejarah Gereja orang-orang Kiisten mulai berpuasa dua kali seminggu, memilih hari Rabu dan Jumat untuk menghindari kekeliruan dengan orang Farisi, yang berpuasa setiap hari Selasa dan Kamis. “Gereja mula-mula berpuasa beberapa hari sebelum paskah untuk mempersiapkan kerohanian mereka menyambut perayaan kebangkitan Kristus.” Warisan puasa Gereja mula-mula ini masih terlihat clalam Gereja Katolik. “Orang-orang Kiisten dalam zaman pasca para rasul juga biasa berpuasa dalam persiapan untuk menerima babtisan.” (Abineno, 1996:140)

Sunday, June 5, 2016

Daftar Isi

Karya Allah Tritunggal Melalui Gereja Pentakosta

Sejarah Gereja Penta Kosta

Pentakostalisme adalah sebuah gerakan dalam Kekristenan yang menaruh perhatian pada Baptisan Roh Kudus dan Karunia-karunia Roh Kudus. Maka dalam pembahasan ini, sejarah pentakosta akan dikaitkan dengan pembahasan tentang Roh Kudus yang dimulai dari PL dan PB. Uraian ini kemudian dilanjutkan dengan sejarah pentakosta di Amerika dan pengaruh misi pentakosta ke seluruh dunia, khususnya ke Indonesia.

1. Pentakosta di dalam Alkitab

Gereja Pentakosta tidak dipisahkan dengan sejarah gerakan Pentakosta atau yang di Indonesia disebut dengan Pantekosta selalu dihubungkan dengan Pentakosta dalam Kisah Para Rasul dan teks-teks lain dalam Alkitab yang berbicara tentang Roh Kudus, dan juga gerakan pentakosta yang terjadi di Amerika pada tahun 1901 yaitu di Topeka, Kansas USA atau disebut dengan ledakan Pentakosta pertama di Topeka, Kansas Amerika Serikat.( Nicky Samual: 41) Dengan demikian maka pembahasan dalam bab ini dimulai dengan membangun pemahaman dengan membahas Roh Kudus dalam kesaksian Alkitab, dan secara khusus pentakosta dalam Kisah Para Rasul dan I Korintus 14 tentang karunia-karunia Roh.
Penjelasan tentang Roh Kudus dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu (1) pembahasan tentang Roh Kudus sebagai oknum atau pribadi ketiga dari Allah Tritunggal, (2) pembahasan tentang Karya Roh Kudus. Dalam penelitian ini, bagian kedua yang akan lebih banyak dibicarakan. Dalam hubungan dengan pembahasan karya Roh Kudus maka uraian berikut ini akan menyinggung secara selayang pandang tentang Roh Kudus sebagai oknum. Kemudia akan dilanjutkan dengan pembahasan tentang karya Roh Kudus dalam diri orang percaya, khususnya dalam konteks dipenuhi Roh Kudus.
Di dalam kitab Kejadian 1:2b dinyatakan bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. David Atkinson menyatakan: “Kata Ibrani ruakh bisa berarti angina tau roh”… dalam PL ruakh mengacu kepada energy Ilahi, yang menciptakan dan memelihara”.( David Atkinson:26)
Roh Allah yang diperkenalkan dalam Kejadian 1 adalah Roh Allah yang kreatif, menciptakan kesatuan dan persekutuan. Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Trinitas, atau pribadi ketiga dari Trinitas atau Tritunggal adalah Roh Kudus. Nama Roh dipakai dalam Alkitab kira-kira 500 kali, dari 500 kali ini, 100 kali dipakai untuk kata “Roh Kudus”, sisanya untuk kata Roh. Nama atau sebutan Roh itu menunjuk pada pribadi ketiga dari Tritunggal (Elmer L. Towns, 2005:5). Orang Kristen percaya bahwa Roh Kuduslah yang menyebabkan orang percaya kepada Yesus. Roh Kudus pulalah yang memampukan mereka menjalani hidup Kristen. Roh Kudus tinggal di dalam diri setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Mengapa penulis menyatakan demikian karena tubuh orang Kristen adalah Bait Suci tempat tinggal Roh (I Kor. 3:16). Roh Kudus digambarkan sebagai 'Penghibur' atau 'Penolong' (paracletus dalam Bahasa Latin, yang berasal dari bahasa Yunani, Parakletos), dan memimpin mereka dalam jalan kebenaran. Karya Roh di dalam kehidupan seseorang dipercayai akan memberikan hasil-hasil yang positif, yang dikenal sebagai Buah Roh. Rasul Paulus mengajarkan bahwa seorang pengikut Kristus haruslah dapat dikenali melalui buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bnd.Gal. 5:22-23).
Orang Kristen juga percaya bahwa Roh Kudus jugalah yang memberikan karunia-karunia (kemampuan) khusus kepada orang Kristen, yang antara lain meliputi karunia-karunia karismatik seperti nubuat, berbahasa Roh, menyembuhkan, dan karunia hikmat atau pengetahuan.
Orang Kristen arus utama percaya bahwa pengalaman pentakosta setelah kanonisasi Alkitab telah berhenti, akan tetapi kepercayaan kaum Pentakostal percaya bahwa pengalaman baptisan Roh Kudus masih berlangsung. Dasar teologi kaum Pentakosta adalah pada kitab naratif yaitu kitab Kisah Para Rasul. Orang Kristen percaya hampir secara universal bahwa "karunia-karunia roh" yang lebih duniawi masih berfungsi pada masa kini, antara lain karunia pelayanan, mengajar, memberi, memimpin, dan kemurahan (lih. mis. Roma 12:6-8). Dalam kelompok-kelompok atau aliran-aliran Kristen tertentu, pengalaman Roh Kudus digambarkan sebagai "pengurapan". Di kalangan gereja-gereja Afrika-Amerika, pengalaman bersama Roh Kudus digambarkan sebagai suatu "kesukacitaan".( Junifrius Gultom, 2008:147). Orang Kristen percaya bahwa Roh Kuduslah yang dimaksudkan Yesus ketika ia menjanjikan "Penghibur" (artinya, "yang memberikan kekuatan) dalam Yohanes 14:26. Setelah kebangkitan, Yesus berkata kepada murid-muridnya bahwa mereka akan "membaptiskan dengan Roh Kudus", dan akan menerima kuasa untuk peristiwa itu (Kis. 1:4-8). Janji ini digenapi dalam peristiwa-peristiwa yang dilaporkan dalam Kisah ps. 2, yang biasa disebut pentakosta.

2. Pentakosta atau Pengalaman Dipenuhi Roh Kudus Menurut Kisah Para Rasul 2
Kisah 2:1-13 memperhatikan beberapa hal yang penting: ada suara yang besar, angin yang kencang, lidah api yang turun atas kepala mereka, mereka berbicara dalam bahasa-bahasa yang dimengerti-tanda-tanda yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ada 15 bahasa dari 15 tempat yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 2:1-13. Peristiwa para rasul berbicara dalam 15 bahasa merupakanperistiwa pertama Roh Kudus kepada mereka. Hari ini disebut hari pentakosta, hari pentakosta adalah hari jadinya gereja, yaitu gereja yang kudus dan am. (Stephen Tong, 1995:44-45). Gereja yang ada di seluruh danuia dari berbagai dominasi apapun Gereja Katolik, Protestan (Lutheran, dan Calvinis), Gereja Pentakosta, Baptis dan lain-lain adalah bagian atau pos-pos kecil dari Gereja yang kudus dan am. Di dalam Kis para Rasul 2 disebutkan bahwa pada waktu pencurahan Roh Kudus, para rasul itu berbicara dalam 15 bahasa yang mewakili 15 daerah, yaitu Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapodokia, Pontus,Asia, Frigia,Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Kreta dan orang Arab. Gereja yang pertama adalah gereja yang melintasi daerah, batas negara, melintasi perbedaan bahasa. Maka Glosolalia diberikan. Istilah glosolalia, atau karunia lidah, dicantumkan sebanyak 50 kali di Perjanjian Baru. Setiap kali istilah itu dipakai, harus dimengerti sebagai bahasa, bukan sebagai suara yang tidak berarti. Sekarang banyak orang yang mengaku berglosolalia, tetapi tidak seorangpun yang tahu apa yang diucapkannya. Istilah glosa di dalam Alkitab berarti bahasa. Glosa berarti bahasa yang bisa dimengerti (Stephen Tong, 1995:44-45).
Istilah glosalalia dipakai sebanyak 50 kali di dalam PB. Dari seluruh pemakaiannya, dapat dikatakan tidak satupun istilah tersebut dikaitkan dengan suara-suara yang tidak ada artinya, memenuhi mereka, dan mereka berbicara dengan bahasa-bahasa yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya, tetapi pendengar mendengar dengan jelas. Seoalh-olah pengkhotbahnya sedang menyampaikan khotbah dalam bahasa daerah yang mereka mengerti (Stephen Tong, 1995:48) selalu mempunyai arti: bahasa. Pada waktu pentakosta, Roh Kudus Pembahasan tentang Roh Kudus dapat dilihat dari dua sisi, yakni (1) kepribadian Roh Kudus, dan (2) Karya Roh Kudus. Pokok pertma yaitu kepribadian Roh Kudus tidak lain yaitu Roh Kudus memiliki kepribadian yang sama dengan Bapa dan Anak.Dalam konsili Nicea 325 dipertegas bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki hypostasis atau pribadi yang berbeda tetapi sehakikat atau homoousios, yaitu sama-sama kekal. Maksudnya Bapa, Anak dan Roh Kudus sama-sama kekal (Tony Lane, 2007:25). Pembahasan selanjutnya akan difokuskan pada karya Roh Kudus, khususnya dalam hubungan dengan pentakosta. Pencurahan Roh Kudus terjadi pada hari Pentakosta, sepuluh hari setelah kenaikan Yesus ke surga atau lima puluh hari setelah peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian. Peristiwa ini terjadi di Yerusalem pada sebuah ruang atas. Angin yang keras bertiup, lalu lidah-lidah api tampak di atas kepala para murid Yesus. Banyak orang yang kemudian mendengar para murid itu berbicara, masing-masing dalam bermacam-macam bahasa. Menurut Alkitab, murid-murid Yesus pada hari mereka menerima Roh Kudus mampu mempertobatkan tiga ribu jiwa. Masing-masing memberi dirinya dibaptis (Kitab Kis pasal 2).
Dalam Injil Yohanes, penekanannya tidaklah terutama pada apa yang dilakukan oleh Roh Kudus bagi Yesus, melainkan pada kisah penganugerahan Roh kepada murid-muridnya. Meskipun bahasa yang digunakan untuk melukiskan bagaimana Yesus menerima Roh di dalam Injil Yohanes paralel dengan laporan-laporan di dalam ketiga Injil yang lainnya, Yohanes mengisahkan kejadian ini dengan maksud untuk memperlihatkan bahwa Yesus secara khusus memiliki Roh dengan tujuan menganugerahkan Roh itu kepada para pengikutnya, mempersatukan mereka dengan dirinya, dan di dalam dia juga mempersatukan mereka dengan Bapa.
Karya Roh Kudus demikian penting sehingga sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan pencurahan Roh Kudus pada hari pentakosta, para murid itu menjadi orang yang diutus untuk memberitakan Injil atau rasul. Dari pemberitaan itu maka lahirlah gereja (Th Van den End, 1999: 1-2)
Roh Kudus sebagaimana yang dibicarakan dalam Alkitab adalah Roh Kudus yang berpribadi. Sebagai pribadi dari oknum Allah Tritunggal, Roh Kudus itu memberi karunia-karunia kepada para rasul atau para pengikut-Nya. Dalam konteks pantekosta sebagaimana yang disaksikan dalam Kisah Para Rasul 2 dan surat Paulus kepada jemaat Korintus dalam I Korintus 14:1-25. Roh Kudus itu memberi karunia-karunia kepada orang percaya, para pengikut Yesus. Karunia-karunia Roh Kudus ini lahir dalam dalam bentuk bahasa Roh. (Kis. 2:1-13). Karunia Roh Kudus dalam pengertian dibaptis dalam Roh Kudus atau pentakosta menurut Kis. 2 yaitu para rasul berbicara dalam bahasa-bahasa yang dimengerti, seperti bahasa Media, Elam, Mesopotamia dan lain-lain sebagaimana yang disaksikan dalam Kis. 2:8-11. Sedangkan dalam I Korintus 14:1-25 membicarakan karunia Roh Kudus dalam pengertian nubuat dan bahasa lidah. Karunia nubuat dan bahasa lidah menjadi popular di jemaat Korintus, diantara keduanya yang diutamakan adalah bahasa lidah (David L. Baker, 2004:125).
Pentakosta yang pertama yaitu pengalaman murid-murid Yesus ketika dipenuhi Roh Kudus dan mereka dapat berbicara dalam bahasa lain, serta keberanian untuk berkhotbah seperti keberanian Petrus berkhotbah dan menghasilkan petobat baru sebanyak 3.000 orang merupakan awal terbentuknya gereja mula-mula. Pada perkembangan berikutnya, karunia-karunia Roh Kudus itu berupa kemampuan untuk menafsirkan bahasa Roh, berkata-kata dengan hikmat, mengadakan mujizat, menyembuhkan, melayani, bernubuat, dll. (I Kor. 12-14).
Berdasarkan kesaksian dalam Kisah para Rasul 2, yaitu pencurahan Roh Kudus terjadi pada hari Pentakosta, sepuluh hari setelah kenaikan Yesus ke surge atau lima puluh hari setelah peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian. Peristiwa ini terjadi di Yerusalem pada sebuah ruang atas. Angin yang keras bertiup, lalu lidah-lidah api tampak di atas kepala para murid Yesus. Banyak orang yang kemudian mendengar para murid itu berbicara, masing-masing dalam bermacam-macam bahasa. Tidak hanya kemampuan berbicara dalam bahasa-bahasa lain, tetapi peristiwa pentakosta juga memberi kemampuan atau keberanian untuk mewartakan atau mengkhotbahkan Yesus Kristus.
Pengalaman pentakosta tidak hanya disaksikan dalam Kis. 2 tetapi dalam Injil Yohanes, focus penekanan yaitu tidaklah terutama pada apa yang dilakukan oleh Roh Kudus bagi Yesus, melainkan pada kisah penganugerahan Roh kepada murid-muridnya, pengalaman itu kemudian disebut pengalaman pentakosta. Dalam pengalaman pentakosta, Yesus Kristus menganuerahkan Roh Allah kepada umat manusia.
Bahasa yang digunakan untuk menerangkan bagaimana Yesus menerima Roh di dalam Injil Yohanes berkorelasi dengan laporan-laporan di dalam ketiga Injil yang lainnya, Yohanes mengisahkan kejadian ini dengan maksud untuk memperlihatkan bahwa Yesus secara khusus memiliki Roh dengan tujuan menganugerahkan Roh itu kepada para pengikutnya, mempersatukan mereka dengan dirinya, dan di dalam dia juga mempersatukan mereka dengan Bapa. Dalam Yohanes, karunia Roh itu sama dengan kehidupan yang kekal, pengetahuan tentang Allah, kuasa untuk menaati, dan persekutuan satu dengan yang lainnya dan dengan Sang Bapa.
Orang Kristen arus utama berpandangan bahwa karunia-karunia ini hanya diberikan pada masa Perjanjian Baru. Namun kaum pentakostal percaya hampir secara universal bahwa "karunia-karunia roh " yang lebih duniawi masih berfungsi pada masa kini, antara lain karunia pelayanan, mengajar, memberi, memimpin, dan kemurahan (lih. mis. Rom. 12:6-8). Dalam sekte-sekte Kristen tertentu, pengalaman Roh Kudus digambarkan sebagai "pengurapan". Di kalangan gereja-gereja Afrika AMerika, pengalaman bersama Roh Kudus digambarkan sebagai suatu "kesukacitaan".
Orang Kristen percaya bahwa Roh Kuduslah yang dimaksudkan Yesus ketika ia menjanjikan "Penghibur" (artinya, "yang memberikan kekuatan) dalam Yohanes 14:26. Setelah kebangkitan, Yesus berkata kepada murid-muridnya bahwa mereka akan "membaptiskan dengan Roh Kudus", dan akan menerima kuasa untuk peristiwa itu (Kis. 1:4-8). Janji ini digenapi dalam peristiwa-peristiwa yang dilaporkan dalam Kisah pasal. 2.
Pengalaman dibaptis dalam Roh sebagaimana yang dikisahkan dalam Kisah Rasul 2, menurut keyakinan kaum Pentakosta dapat terjadi pada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dalam pemahaman yang demikian maka apa yang terjadi di Amerika tahun 1901 dapat disebut sebagai ledakan pentakosta pertama di Topeka Amerika Serikat. Namun sebelum membahas ledakan pentakosta di Amerika perlu memperhatikan gerakan pentakosta di Eropa. Kisahnya dapat diikuti dalam sejarah pentakosta berikut ini.


3. Pentakosta di Eropa

Gerakan pentakosta merupakan lanjutan dari gerakan kesucian atau Holiness Movement yang dimulai di kelompok methodis pada tahun 1930-an atau pada pertengahan abad ke-19. Gerakan ini disebabkan karena pertumbuhan rohani yang dirasakan mulai mengalami stagnan di kalangan gereja-gereja yang berada di Eropa pada waktu itu. Gerakan methodis inipun dipengaruhi oleh gerakan Pietisme yang terjadi di Jerman yaitu sebuah gerakan yang terjadi di tengah-tengah jemaat Lutheran dan Calvinis di Jerman. Gerakan pietisme menekankan tentang kesalehan hidup secara perorangan. Dengan kata lain, anggota kelompok Pietisme menaruh perhatian pada kesalehan hidup pribadi. Sekita tahun 1677 di Darmstadt, muncul sebuah istilah yang sangat populer yaitu “pietisme” di kalangan gereja-gereja Lutheran. Kata pietisme dipergunkan sebagai ejekan terhadap kelompok-kelompok orang yang hidup saleh yang pada waktu itu berkembang secara pesat di gereja-gereja Lutheran. Pietisme didirikan oleh Spener. Ia menyatakan:

Dari dalam seminggu anggota-anggota Jemaat hanya menghabiskan waktu untuk mabuk-mabukan, berjudi atau bermain kartu, maka lebih baik mereka memanfaatkan waktu itu untuk hal-hal yang membangun. Misalnya dengan cara berkumpul bersama-sama, membahas dan membaca buku-buku tentang kesalehan.( Leonard Hale , 1993:4)

Gerakan pietisme ini kemudian mempengaruhi gerakan yang menamakan diri “methodis”. Gerakan methodis kemudian mempengaruhi sekelompok orang Kristen yang menekankan tentang pengalaman dibaptis Roh Kudus atau sering disebut kelompok pentakosta ( Junifrius Gultom, 2008:27)
Beberapa denominasi baru dari latar belakang kesucian mulai berkembang di Eropa dan Amerika. Ada yang tetap setia kepada Gereja Methodis tetapi ada pula yang mulai independen (memisahkan diri/berdiri sendiri) dengan membentuk suatu orgnasiasi baru, seperti Church of God yang dimulai oleh Daniel S. Warner tahun 1880 di Anderson. Sejak itu muncul organisasi-organisasi baru: Church of God in Christ (1895), Church of God di Cherokee Country, North Carolina (1989), Fire Baptised Holiness Church (1895). Kelompok-kelompok ini merupakan mata rantai yang menghubungkan gerakan kesucian dengan gerakan Pentakostal di awal abad ke-20 atau tahun 1901 di Amerika yang dihubungkan dengan Pendeta Charles Fox Parham. Ia adalah seorang pendeta Gereja Metodis yang meninggalkan gereja Metodis karena kurangnya penekanan kesucian hidup dan penekanan pada peran dan karunia-karunia Roh Kudus serta penyembuhan ilahi yang terabaikan dalam gereja Metodis pada waktu itu ( Junifrius Gultom, 2008:27)
Gerakan Pentakosta juga menonjol di kalangan gerakan Kesucian yang pertama-tama mulai menggunakan istilah pentakostal pada tahun 1867 ketika mereka mendirikan Perhimpunan Pertemuan Kemah Nasional untuk Pemasyuran Kesucian Kristen dengan sebuah catatan yang berbunyi: [Kami mengundang] semua orang - apapun juga alirannya ... yang merasa terasing di dalam keyakinan kesuciannya agar semuanya secara bersama-sama dapat mewujudkan baptisan Pentakosta oleh Roh Kudus.

4. Pentakosta di Topeka, Kansa Amerika Serikat

Jan Aritonang menyatakan, aliran Pentakostal atau kadang-kadang dikenal di Indonesia dengan nama Pantekosta yang perkembangannya sangat spektakuler. Gereja ini dengan begitu cepat tersebar ke seluruh dunia dan berhasil menghimpun jumlah pengikut yang banyak (Jan S. Aritonang,2005:165). Awalnya gerakan Pentakosta ini menonjol di kalangan gerakan Kesucian yang pertama-tama mulai menggunakan istilah pentakostal pada tahun 1867 ketika mereka mendirikan Perhimpunan Pertemuan Pertemuan Kemah Nasional untuk Pemasyuran Kesucian Kristen dengan sebuah catatan yang berbunyi: Kami mengundang semua orang - apapun juga alirannya ... yang merasa terasing di dalam keyakinan kesuciannya agar semuanya secara bersama-sama dapat mewujudkan baptisan Pentakosta oleh Roh Kudus. Gerakan/aliran Pentakostal ini muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, sebagai lanjutan dari suatu gerakan yang mendahuluinya, yakni Holiness Movement (Gerakan Kesucian) yang muncul di Amerika Serikat pada dasawarsa 1830-an. Gerakan ini muncul terutama dalam Gereja Metodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley.(weblog profilgereja.wordpress.com)
Berkenaan dengan gerakan pentakosta tersebut di atas, berkembang dua versi tentang awal kemunculan gerakan pentaksota. Kedua versi itu dapat dipaparkan sebagai berikut.
Versi pertama, penganut versi pertama mengatakan bahwa awal kemunculan Pentakostal adalah Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham tanggal 1 Januari 1910 di kota Topeka, Amerika Serikat, oleh karena pada tanggal tersebut Agnes N. Ozman (salah seorang murid Sekolah Alkitab Bethel) memperoleh Baptisan Roh disertai dengan bukti berbahasa lidah, setelah Pdt. Charles F.Praham (yang mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh) menumpangkan tangan ke atas kepalanya. Seperti apa pengalaman Agnes Ozman, Nicky J. Samual menyatakan:

Nona Agnes Ozman minta kepada Pendeta Parham agar beliau meletakkan tangan atasnya supaya beliau menerima Rohul Kudus sesuai firman Tuhan. Setelah beberapa kali mengulangi permintaannya Pendeta Parham menyetujuinya. Ia meletakkan tangannya atas kepala Nona Agnes dan berdoa beberapa kali bersungguh-sungguh, dan .... tiba-tiba nona ini mulai berkata-kata dalam bahasa Cina, dan hal itu terjadi beberapa saat dan kemudian ia tidak dapat lagi berbicara bahasa Inggris selama 3 hari.( Nicky J. Sumual, t.th.:41)

Pengalaman Agnes Ozman bila dihubungkan dengan peristiwa pentakosta dalam Kisah 2:8-11 maka ada kemiripan yaitu bahwa para rasul itu berbicara dalam bahasa-bahasa yang dimengerti, seperti bahasa Partia, bahasa Media, bahasa Elam, bahasa Mesopotamia, bahasa Yudea, bahasa Kapodokia, bahasa Pontus, bahasa Asia, bahasa Firgia, bahasa Pamfilia, bahasa Mesir, bahasa Libia, bahasa Roma, bahasa Kreta dan bahasa Arab. Sementara pengalaman Agnes Ozman di Amerika yakni Agnes Ozman yang warga Amerika dapat berbicara dalam bahasa Cina.
Pengalaman yang terjadi dalam diri Agnes Ozman kemudian tersebar ke berbagai tempat. Gerakan ini disebut gerakan Pentakosta atau dibaptis dengan Roh Kudus. Leon Morris menyatakan: “dibaptis dengan Roh Kudus berarti menerima Roh seperti pada hari Pentakosta” (Leon Moris, 1996, 267).
Versi kedua, versi kedua mengatakan bahwa awal kemunculan Pentakostal adalah pada tanggal 9 April 1906 di kota Los Angeles, oleh karena pada tanggal tersebut Roh Kudus turun dan terdengar bahasa lidah di kawasan pantai barat negeri itu, setelah tiga hari berturut-turut Pdt. William J. Seymour (seorang pendeta kulit hitam) berkhotbah di Los Angeles. akhirnya gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negara-negara lain. (profilgereja.wordpress.com)
Pentakostalisme modern sesungguhnya dimulai sekitar tahun 1901. Pada umumnya gerakan ini diakui berasal pada waktu Agnes Ozman menerima karunia berbahasa roh, yaitu berbicara dalam bahasa Cina,( Nicky J. Samual ) pengalaman ini disebut dengan bahasa lidah (glossolalia) pada suatu persekutuan doa di Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas, tahun 1901. Parham, seorang pendeta yang berlatar belakang Metodis (Junifrius, 28), merumuskan ajaran bahwa bahasa roh adalah "bukti alkitabiah" dari baptisan Roh Kudus. Tahun 1901 oleh beberapa kelompok Pentakosta dilihat sebagai awal kemunculan gerakan Pentakosta, acuannya pada peristiwa luar biasa yang berlangsung di Topeka pada bulan Januari 1901 dengan Charles F. Parham sebagai tokoh utama. Peristiwa di Topeka ini dijadikan kelompok Pentakosta sebagai peristiwa pencurahan Roh Kudus atau Baptisan Roh, yang ditandai dengan karunia bahasa lidah (glossolalia) (profilgereja.wordpress.com)
Gerakan Pentakosta sebagaimana yang dimaksud di atas, tidak hanya terjadi di Eropah tapi juga muncul di Amerika Utara sekitar tahun 1906. Gerakan ini awalnya muncul dalam Gerakan Methodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley. Dalam perkembangnya penganut gerakan ini membentuk organisasi tersendiri. Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham (asal dari Gereja Methodis dan keluar) mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh. (Barry Chant, 1984:20)
Parham meninggalkan Topeka dan memulai pelayanan kebangunan rohani yang membawanya kepada Kebangunan Rohani Azusa Street melalui William J. Seymour yang menjadi muridnya di sekolahnya di Houston. Seymour, karena ia seorang kulit hitam, saat itu hanya diizinkan duduk di luar kelas untuk mendengarkan kuliah-kuliahnya. Gerakan ini meluas yang dimulai dari Kebangunan Rohani Azusa Street, pada 9 April 1906 di rumah Edward Lee di Los Angeles. Ia menggambarkan pengalamannya dipenuhi oleh Roh Kudus pada 12 April 1906. Pada 18 April 1906, koran Los Angeles Times memberitakan gerakan ini pada halaman mukanya. Pada minggu ketiga April 1906, gerakan yang kecil namun berkembang pesat itu telah menyewa sebuah gedung African Methodist Episcopal Church yang kosong di 312 Azusa Street dan mulai diorganisir sebagai Misi Iman Kerasulan Apostolic Faith Mission (Barry Chant, 1984:20).
Dasa warsa pertama Pentakostalisme ditandai oleh kebaktian-kebaktian antar-ras, "... Orang-orang kulit putih dan hitam bergabung dalam gejolak keagamaan,..." demikian laporan sebuah koran setempat. Hal ini berlangsung hingga 1924, ketika gereja ini terpecah mengikuti garis ras (lih. Apostolic Faith Mission). Namun demikian, ibadah-ibadah antar-ras berlanjut selama bertahun-tahun, bahkan juga di daerah-daerah selatan A.S. yang tersegregasi. Ketika Persekutuan Pentakostal Amerika Utara terbentuk pada 1948, organisasi itu sepenuhnya terdiri atas denominasi-denominasi Pentakostal kulit putih Amerika. Karena itu United Pentacostal Church tidak bergabung dan kebijakan antar-rasnya bertahan terus sepanjang sejarahnya. Pada 1994, gereja-gereja Pentakostal yang tersegregasi kembali ke akar antar-ras mereka dan mengusulkan penyatuan kembali secara resmi kelompok-kelompok Gereja Pentakostal hitam dan putih, dalam sebuah pertemuan yang kemudian dikenal sebagai Mukjizat Memphis. Penyatuan ini terjadi terjadi pada 1998, juga di Memphis, Tennessee. Penyatuan gerakan kulit hitam dan putih menyebabkan Persekutuan Pentakostal Amerika Utara ditata ulang menjadi Gereja-gereja Pentakostal/Karismatik Amerika Utara (Pentacostal/Charismatic Churches of North America). (Barry Chant, 1984:23)
Pada awal abad XX, Albert Benjamin Simpson sangat terlibat dengan gerakan Pentakostal yang berkembang pesat. Pada saat itu para pendeta dan misionaris Pentakostal biasanya dilatih di Missionary Training Institute yang didirikan oleh Simpson. Karena itu, Simpson dan CAMA (sebuah gerakan penginjilan yang didirikan Simpson) sangat berpengaruh terhadap Pentakostalisme, khususnya gereja-gereja Sidang Jemaat Allah, dengab penekanan pada penginjilan, doktrin CAMA, nyanyian-nyanyian dan buku-buku karya Simpson, dan penggunaan istilah ‘Tabernakel Injil yang berkembang menjadi gereja-gereja Pentakostal yang dikenal sebagai Tabernakel Injil Sepenuh . Gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negara-negara lain. Menurut data, pada tahun 1972 pengikut aliran Pentakosta di seluruh dunia sudah mencapai 20 juta orang. Gereja Pentakosta mempunyai ciri-ciri yang sama di seluruh dunia, antara lain: kebaktian yang serba bebas, pemakaian Alkitab secara ?spontan?, pembangunan jemaat melalui kegiatan kebangunan rohani yang meliputi dorongan untuk bertobat dan hidup suci, dan anggapan bahwa dalam lingkungan jemaat perlu ada karunia lidah dan karunia kesembuhan sebagai tanda-tanda orang percaya. (Barry Chant, 1984:24)
Sejak akhir tahun 1950-an, gerakan Karismatik, yang sebagian besar diilhami dan dipengaruhi oleh Pentakostalisme, mulai berkembang di kalangan denominasi-denominasi Protestan arus utama, maupun di lingkungan Gereja Katolik Roma. Berbeda dengan "Pentakosta Klasik" yang melulu membentuk gereja-gereja ataupun denominasi Pentakostal, kaum Karismatik bermotokan, "Berkembang di manapun Allah menempatkanmu."Di Inggris, gereja Pentakostal pertama yang dibentuk adalah Apostolic Church (Gereja Kerasulan), yang kemudian diikuti oleh Elim Church (Gereja Elim). Di Swedia, gereja Pentakostal yang pertama adalah Filadelfiaforsamlingen (Persekutuan Filadelfia) di Stockholm. Gereja yang dipimpin oleh Lewi Pethrus ini mulanya adalah sebuah Gereja Baptis, yang kemudian dikeluarkan dari Gabungan Baptis Swedia pada 1913 karena perbedaan-perbedaan doktrin. Saat ini gereja ini mempunyai sekitar 7000 anggota, yang merupakan jemaat Pentakostal terbesar di Eropa utara. Pada tahun 2005, gerakan Pentakostal Swedia mempunyai sekitar 90.000 anggota dengan hampir 500 gereja. Gereja-gereja ini semuanya independen namun mereka melakukan banyak kerja sama. Kaum Pentakostal Swedia sangat aktif dalam melakukan misi dan mendirikan gereja di banyak negara. Di Brazilia, misalnya, gereja-gereja yang didirikan oleh misi Pentakostal Swedia mengaku mempunyai beberapa juta anggota. (Barry Chant, 1984:20)

5. Pentakosta di Indonesia

Gerakan pentakosta secara tidak terencana masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang asal Inggris, J. Barnhard yang kemudian menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Dari Temanggung, gerakan ini menyebar ke beberapa kota di Jawa, seperti Cepu dan Surakarta. Mulai tahun 1922, ajaran Pentakosta dibawa ke sana oleh Cornelius E. Groesbeck dan Richard van Klaveren, yang diutus oleh Bethel Temple dari Seatle, Amerika Serikat. Pada tahun 1923, tepatnya pada tanggal 19 Maret 1923 di Cepu berdiri Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Jemaat Pentakosta di Hindia Timur Belanda). Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1923 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan, Minahasa, Maluku dan Papua.( http://profilgereja.wordpress.com/)
Pada tahun 1937 jemaat tersebut berganti nama menjadi De Pinksterkerk in Nederlands Oost Indie (Gereja Pentakosta di HTB), dan sejak tahun 1942 mulai disebut Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI). Gerakan/aliran Pentakostal pada mulanya masuk ke beberapa tempat di Indonesia (Temanggung-Jateng, Cepu, Surabaya, dan Bandung) pada waktu yang kira-kira sama, sekitar 1919-1923. Yang membawa dan menyebar-luaskannya sebagian adalah para penginjil professional dan sebagian lagi warga gereja yang tak kalah besar dalam menyaksikan keyakinan dan ajaran gerejanya. Mereka berasal dari Inggris, Belanda, dan (belakangan) Amerika. (http://profilgereja.wordpress.com/)
Orang-orang Pentakosta mengakui perbedaan antara bahasa roh sebagai bukti pertama dalam menerima Baptisan Roh dan sebagai “karunia” berkata-kata dengan “bahasa roh”. Bahasa roh sebagai bukti Baptisan adalah pengalaman Kristen yang biasa dan bagi “semua” (Kis. 2:4,38,39), tetapi sebagai karunia maka pemberiannya itu terbatas (I Kor. 12:30). Karunia bahasa roh adalah “kemampuan untuk berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak diketahui oleh si pembicara. Kemampuan itu diberikan oleh Roh Allah kepada orang-orang tertentu di dalam Gereja. Bahasa roh itu dapat ditafsirkan melalui suatu “karunia” yang juga bersifat alam atas, supaya pengucapan itu dapat dimengerti oleh jemaat”. Apabila “karunia” menafsirkan itu bekerja bersama-sama dengan karunia bahasa roh, maka keduanya itu setara dengan karunia bernubuat (I Kor. 14:5) (frank M. Boyd, 2005:106)
Sejarah Pentakostal di Indonesia dimulai lebih terkordinir dengan berdirinya De Pinkstergemeente in nederlandsch indie dicatat dalam buku Sejarah Gerakan "Pentakosta dan Karismatik di Indonesia" oleh David DS. Lumoindong. Pada awalnya dengan pelayanan missi dari Weenink Van Loon bersama Johanes Thiessen, John Bernard dari Liverpool, Inggris. Weenink Van Loon Hoofd On-derwyzer (Kepala Sekolah), mereka dari satu persekutuan yang bernama ‚’’De Bond Voor Evangelistie’’ yang membentuk suatu yayasan” De Zendings Vereeniging”.(Nicky Samual)
Yayasan De Zendings Vereeniging” mengelola/mengasuh sebuah sekolah Kristen yakni Hollands Chineesche school met de Bijbel, sebagai pimpinan Sekolah ditunjuk Wenink Van Loon. Di samping itu, di Kota Temanggung terdapat pula yayasan Zwakzinhigenzorg yg disponsori oleh Pa Van Steur. Yayasan tersebut bergerak di bidang penampungan anak-anak terlantar yang mempu-nyai sebuah Panti Asuhan yang pimpinannya adalah suster M. A. Van Alt, semua tokoh tersebut ternyata adalah simpatisan Gereja Gerakan Pentakosta yang diperkenalkan oleh John Bernard. Pada waktu yang hampir bersamaan bulan Maret 1921 datang pula dua penginjil dari,” Bethel Tempel” dari Seatle Amerika Serikat yakni Rev. C.E.Grosbeck dan Rev. DR. Van Kalveren, keduanya membawa serta keluarganya. Mereka tiba di pelabuhan Batavia dengan menumpang KM Suwa Maru pada bulan Maret 1921.(Nicky Samual)

7.1. Pentakosta di Bali

Setelah tiba di pelabuhan Batavia, Rev. C.E. Grosbeck dan Rev. DR. Van Klaveren, beserta keluarganya langsung berangkat menuju ke Denpasar Bali, tapi waktu itu oleh pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa Pulau Bali tertutup untuk penginjilan sebab Pulau Bali telah dijadikan sebagai pulau wisata untuk menarik para pelancong dari luar negeri supaya boleh meningkatkan pendapatan keuangan dari pemerintah yang ada. Oleh karena itu kedua penginjil tadi tidak dapat berbuat banyak sekalipun sempat memberitakan injil di pulau dewata ini tapi hasilnya tidak menggembirakan.

7.2. Pentakosta di Surabaya dan Cepu

Dan pada bulan Desember 1922 keduanya berangkat menuju ke Surabaya. Di Surabaya mereka berpisah, Rev R Van Klaveren menuju Jakarta dan melayani dengan Rev.J Thiessen. Sedangkan Rev Groesbeck tetap di Surabaya dan giat mangadakan penginjilan (Camp Meetings) dan kebanyakan yang hadir di dalam camp meeting itu adalah pemuda-pamuda berdarah campuran Belanda Indonesia. (Ambon, Minahasa, Timor). Kemudian Rev Groesbeck bertemu dengan Rev Van Gesel seorang karyawan BPM di Cepu. Dan mereka bersama-sama bergabung pada persekutuan De Bond Voor Evangelisatie. Ibu Moeke Wynen salah seorang yang aktif pada organisasi ini, dan dialah memperkenalkan penginjil dari Seatle USA ini pada organisasi tersebut. De bond Voor Evangelisatie berpusat di Bandung dan pimpinannya adalah antara lain Wenink Van Loon. Pada tanggal 29 Maret 1923 tibalah di Cepu Rev. Johannes Thiesen bersama Wenink Van Loon (pimpinan‚ De bond Van Evangelistie dari Bandung dan mengadakan kebaktian. Yang hadir dalam ibadah tersebut sebagian besar adalah pimpinan dan karyawan BPM Cepu dan keluarga mereka diantaranya SIP Lumoindong, Tn Agust Kops, Tn Win Vincentie, dan lainnya. Kemudian keesokan harinya adalah hari Jumat Agung (Goede Vrijdag) Tanggal 30 Maret 1923 diumumkan akan diadakan baptisan air di daerah pasar sore. Jumlah yang dibaptis pada waktu itu adalah 13 jiwa yang nama-nama mereka sbb: Jan Jeckel, Ny Jeckel, tn F G van Gesel, Ny van Gesel, Ch C De Vriew, Tn Frits Salem Lumoindong, Tn Win Vincentie, Ny Vincentie, Tn Agust Kops, Corie Eiderbrink, Anton Leterman, Tn Sambow Ignatius Paulus Lumoindong, Ny SIP Lumoindong Vincentie. Mereka dibaptis oleh Pdt Thiessen dan Pdt Groesbeck, dalam kebaktian Kebangunan Rohani di Cepu Tanggal 29-30 Maret 1923 itu terjadi pemenuhan Roh Kudus pada mereka yang mengikuti Kebaktian dan acara pembaptisan air. Papa Thiessen dan Wenink Van Loon kembali ke Bandung dan meneruskan pelayanan disana. Sedangkan dari Cepu Api Pentakosta terus menjalar dengan disertai kuasa dan mukjizat – mukjizat ke Surabaya dan hampir seluruh Jawa Timur. Para Pelopor aliran Pentakosta ini membagi wilayah pelayanan mereka. Rev Johannes memilih Kota Bandung sebagai basis pelayanannya. Pada mula pelayanannya di Bandung Rev Thiessen menyewa gedung pangadilan negeri (Landraadzaal) sebagai tempat kebaktian, kemudian pindah ke temapat sekarang jl. Marjuk No. 11 untuk dibangun gedung gereja. Dengan pertolongan Tuhan berdirilah gereja (gedung) Pinkster Beweging yang pertama di Bandung (http://profilgereja.wordpress.com/)
Ny.Kawulur seorang yang buta huruf tapi setelah bertobat dan dipenuhi Roh Kudus maka yang sangat bersemangat memberitakan injil melalui buku-buku atau majalah (warta) rohani Pinkstergemeente yang dibagi-bagikan, padahal ia sendiri tidak dapat membaca. Suatu saat ia masuk ke daerah terlarang bagi umum karena lokasi mereka yang berpenyakit Kusta, ia masuk dan membagikan bacaan tersebut. Seorang yang membacanya kemudian bertanya apa benar Tuhan dapat menyembuhkan segala penyakit?. Iapun menjawab ya pasti jika ia percaya. Orang tersebut memintanya untuk mendoakan, karena Ny.Kawulur belum mendalami ajaran kekristenan maka ia hanya menghafal doa bapa kami, maka orang tersebut didoakan dengan doa Bapa Kami. Tetapi ternyata TUHAN tidak mendengar doa orang karena indahnya dan pandainya seorang berdoa tapi melihat iman dan ketulusan. Mujizat ternyata si penyakitan kusta sembuh seketika, hal ini menghebohkan komplex tersebut, pemimpin rumah sakit tersebut kemudian memanggil Ny.Kawulur dan memintanya memanggil pemimpinnya untuk memberi penjelasan. Maka Ny.Kawulur karena masih awam kemudian memanggil hamba-hamba Tuhan dari jawa, mereka datang dan kemudian terjadilah kebangunan rohani besar-besaran, sejak itulah Pinkstergemeente masuk kalimantan. Ny.Kawulur kemudian mengikuti suaminya yang bertugas dan pensiun di Manado, rumahnya disumbangkan bagi Pinkstergemeente, Ny.Kawulur meninggal dengan suaminya anaknya sudah meninggal duluan semasa perang, ia mengangkat beberapa anak diantaranya Paulus Lumoindong seorang pembawa api Pentakosta tahun 1970an yang mengobarkan gerakan karismatik persekutuan doa di Kota Manado (http://profilgereja.wordpress.com/)
Louis Johson dan Arland Wesell berlayar dari Bethel temple dan melayani di Kalimantan, mereka menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pulau tersebut melebihi dari penginjil-penginjil lain yang pernah lakukan sebelumnya. Tapi akhirnya mereka terpaksa kembali ke Jawa karena Arland Wasell sakit malaria, dan Inice Presho yang memang juru rawat mengasuhnya. Arland hampir tidak mampu sampai ke rumah karena lelahnya perjalanan dengan kereta api dari Surabaya. Ouis Johnson ternyata mengadakan hubungan dengan Eileen English dan bertunangan pada hari Valentin di tahun 1933, yang kemudian diteruskan dengan pernikahan di Magelang dan pesta diadakan di Solo (http://profilgereja.wordpress.com/)
Dalam bidang Teologi ada sebagian gereja Pentakosta yang berpegang pada teologi Keesaan yang menolak doktrin Tritunggal (Trinitas) yang tradisional dan menganggapnya tidak alkitabiah. Denominasi Keesaan Pentakostal yang terbesar di Amerika Serikat adalah United Pentecostal Church. Kaum Pentakostal Keesaan ini kadang-kadang juga dikenal dengan “Nama Yesus”, “Kerasulan” atau yang oleh para pengecamnya disebut sebagai orang-orang Pentakosta “Yesus saja”. Hal ini disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa para Rasul yang mula-mula itu membaptiskan orang-orang Kristen baru di dalam nama Yesus. Mereka juga percaya bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam berbagai peran, dan bukan dalam tiga pribadi yang berbeda. Namun demikian organisasi-organisasi pentakostal trinitarian yang utama, termasuk Pentecostal World Conference dan Fellowship of Pentecostal and Charismatic Churches of North America menentang teologi Keesaan dan menganggapnya sebagai ajaran sesat. Mereka tidak menerima kelompok ini sebagai anggota mereka. Kelompok Keesaan ini pun memperlakukan hal yang sama terhadap kelompok trinitarian.

Perkembangan pentakosta sebagaimana yang dimaksud di atas pada akhirnya terbentuk menjadi sebuah denominasi atau organisasi gereja di Indonesia. Sejak terbentuknya satu organisasi gereja pentakosta yakni Pinksterconvent (Sidang Pentakosta) semacam badan pengurus yang bersifat longgar, sesuai dengan gagasan Pentakosta mengenai organisasi gereja yang berjiwa kongregasionalistis. Mulai nampak ketidakcocokan di antara pengurus dengan pokok persoalannya antara lain:

Ajaran Yesus Only yang menganggap Nama Yesus meliputi tiga pribadi Trinitas, sehingga pembaptisan cukup kalau dilakukan dalam nama Yesus saja. Ajaran ini dibawa masuk dari Amerika Serikat oleh van Gessel. Ada tidaknya hak seorang perempuan untuk memegang kedudukan kepemimpinan dalam gereja. Hubungan antara jemaat setempat dengan organisasi pusat, misalnya dalam hal milik gereja. Prestise suku atau individualis yang tinggi. Faktor-faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya rentetan perpecahan sehingga menyebabkan jumlah gereja Pentakosta dari 1 nama gereja menjadi 25 nama gereja. Ini dapat dilihat dari beberapa pendeta yang keluar memisahkan diri dari organisasi gereja Pentakosta dan mendirikan gereja baru yang kita kenal dalam aliran Pentakosta seperti:

• Gereja Gerakan Pentakosta (GGP),
• Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), 600 an ribu
• Gereja Pantekosta Serikat Di Indonesia (GPSDI),
• Gereja Kerapatan Pentakosta (GKP),
• Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI),
• Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS),
• Gereja Pentakosta Indonesia (GPI),
• Gereja Isa Almasih (GIA),
• Gereja Bethel Indonesia (GBI), 500 an ribu
• Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD),
• Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII),
• Gereja Pantekosta Isa Almasih (GPIA),
• Gereja Tiberias Indonesia
• Abbalove Ministries (GKYT)
• Gereja Bethany Indonesia
• Jemaat Pentakosta Indonesia (JPI),
• Gereja Utusan Pentakosta (GUP),
• Gereja Duta Injil (GDI)
• Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB),
• Gereja Pantekosta Serikat di Indonesia (GPSDI)/ United Pentacostal Church in Indonesia (UPCI)
• Gereja Bethel Tabernakel (GBT),
• Jakarta Praise Community Church, (JPCC) Gereja Persekutuan Doa Jakarta (GPDJ)
• Gereja Sidang Jemaat Allah (GSSJA),
• Gereja Kegerakan Pantekosta Minahasa (GKPM)
• Gereja Segala Bangsa (GESBA)
• Gereja Pimpinan Rohulkudus (GPR)
• Gereja Cahaya Rohulkudus (GCR)
• Gereja Kegerakan Roh Suci (GKR)
• Gereja Mawar Sharon (GMS)
• Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT)dan lain-lain.(Nicky Samual)

Menurut Christianity Today, Pentakostalisme adalah "iman yang hidup di antara kaum miskin, yang menjangkau ke dalam kehidupan sehari-hari anggotanya, dan menawarkan tidak hanya harapan tetapi juga sebuah cara hidup yang baru." Selain itu, menurut sebuah laporan PBB pada 1999, "Gereja-gereja Pentakostal sangat berhasil dalam merekrut anggotanya dari kalangan yang paling miskin." Juga menurut Christianity Today, di kalangan gereja-gereja Brazilia, di mana pemeluk Pentakostal pada umumnya sangat miskin, "Para pendetanya seringkali meminta anggotanya persembahan yang jumlahnya layak ditertawai; namun orang-orang ini memberikan 20, 30, dan kadang-kadang bahkan 50 persen dari penghasilan mereka." Christianity Today juga mencatat bahwa kaum Pentakostal Brazilia berbicara tentang Yesus yang riil dan dekat kepada mereka, serta melakukan berbagai hal bagi mereka termasuk memberikan makanan dan tempat bernaung. Selain itu, Christianity Today mencatat "Para sarjana telah lama mengecap Pentakostalisme sebagai agama yang tidak memperhatikan hal-hal yang ada di dunia sini. Bagi banyak orang, hal ini dianggap sebagai kesimpulan yang tidak terelakkan, karena gerakan ini sangat menekankan pengalaman karismatik, religiositas yang mendalam, dan kecenderungan asketik (bertarak). Bahkan para sarjana Pentakostal yang sangat dihormati pun mengakui hal ini.

Adzmrkt

Teori Masalah Penelitian

Teori Penyusunan Penelitian Mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi)

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”.

Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52)

Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu:

Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya

Apa yang benar-benar terjadi

Penyimpangan/masalah

Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah

Jemaat malas beribadah

Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah

Contoh deskripsi Masalah:

Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau

Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)
Cukup yakin (3)
Kurang yakin 2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di

Bab I untuk poin: Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.