Saturday, February 25, 2017

Penelitian Biblika untuk Teologi dan PAK


Hidup ini bermakna bila saling berbagi. Dalam rangka itulah kami ingin berbagi topik-topik penelitian yang disebut dengan penelitian yang bersifat Biblika untuk Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Kami mengklasifikasikan sessuai jurusan atau konsentrasi, yaitu Teologi Kependetaan dan Pendidikan Kristen. Silakan ikuti judul-judul berikut ini:

Judul Penelitian untuk S.Th., M.Th., dan D.Th. (Teologi)

1. Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap Tingkat Pemahaman warga jemaat tentang Keutamaan Kristus Menurut Kolose 1:15-20

2. Pengaruh Pendeta Berkhotbah secara Eksegesis terhadap Tingkat Pemahaman Jemaat tentang Makna Frasa Kristus adalah Gambar Allah yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan Menurut Kolose 1:15

3. Pengaruh Tingkat Pemahaman warga Jemaat tentang Makna Frasa Kristus adalah Gambar Allah yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan Menurut Kolose 1:15 terhadap Kesetiaan Beribadah di Gereja .......

4. Pengaruh Khotbah Eksegesis terhadap Tingkat Pemahaman Jemaat tentang makna Bertumbuh dalam Pengetahuan yang benar tentang Allah Menurut Kolose 1:11

5. Epistemologi Teologis Menurut Kolose 1:11 terhadap Kualitas Pelayanan Jemaat di Tengah Masyarakat Multikultural di .....

6. Pengaruh Khotbah Gembala terhadap Epistemologi Teologis Jemaat yang sesuai dengan Kolose 1:11

7. Hubungan Pengampunan dosa Menurut Kolose 1:14 Terhadap Ketekunan iman Anggota Jemaat Gereja .......

8. Tingkat Pemahaman Warga Jemaat tentang makna frasa kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik, bertumbuh, dikuatkan, mengucapsyukur dengan sukacita menurut Kolose 1:12 terhadap Konsistensi Kehidupan orang Kristen di tengah kemajemukan

9. Mengetahui Kehendak Allah dengan sempurna menurut Kolose 1:9 terhadap tujuan hidup Anggota Jemaat di Gereja ...............

10. Tingkat Pemahaman Jemaat tentang makna oleh Dialah, Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya menurut Kolose 1:20 terhadap Kedamaian hati peserta didik di SMA .....

11. Tingkat pemahaman tentang makna Yesus yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, Ia lebih utama dalam segala sesuatu Berdasarkan Kolose 1:18

12. Memperdamaikan Menurut Kolose 1:20 terhadap Keharmonisan Vertikal dan Horisontal Warga Jemaat dalam Masyarakat Majemuk

13. Tingkat Pemahaman Jemaat tentang makna frasa untuk menempatkan kamu kudus, dan tidak bercela, tidak cacat di hadapan TUHAN Menurut Kolose 1:22 terhadap kesaksian hidup orang Kristen di tengah masyarakat multikultural

14. Tingkat Pemahaman Jemaat tentang makna frasa untuk menempatkan kamu kudus, dan tidak bercela, tidak cacat di hadapan TUHAN Menurut Kolose 1:22 terhadap Pertumbuhan Iman orang Kristen di tengah masyarakat multikultural

Judul-judul di atas, ada yang dua variabel, tiga variabel, dan empat variabel. Misalnya no. 13 dapat dibuat 4 variabel:

X1 = Kudus X2 = Tidak bercela X3 = Tidak Bercacat Y = Kesaksian hidup orang Kristen di Tengah Masyarakat Majemuk atau bisa juga Pertumbuhan iman (lihat no. 14)

Judul Penelitian untuk S.Pd.K., M.Pd.K., D.Th. (Pendidikan Kristen)

1. Pengaruh Tingkat Pemahaman Guru PAK tentang Keutamaan Kristus Menurut Kolose 1:15-20 Terhadap Kualitas Pelayanan Pengajaran di SD/SMP/SMU ....

2. Pengaruh Khotbah Guru PAK terhadap Tingkat Pemahaman Jemaat tentang Makna Frasa Kristus adalah Gambar Allah yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan Menurut Kolose 1:15

3. Pengaruh Tingkat Pemahaman Guru Agama Kristen tentang Makna Frasa Kristus adalah Gambar Allah yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan Menurut Kolose 1:15 terhadap Perubahan Karakter Peserta didik di SD/SMP/SMA ......

4. Pengaruh Khotbah Eksegesis Guru PAK terhadap Tingkat Pemahaman Jemaat tentang makna Bertumbuh dalam Pengetahuan yang benar tentang Allah Menurut Kolose 1:11

5. Epistemologi Teologis Guru PAK Menurut Kolose 1:11 terhadap Kualitas Pelayanan Eduaksi Pendidik Kristen di SMK .....

6. Pengaruh Khotbah Guru PAK terhadap Epistemologi Teologis peserta didik di SMA ..... yang sesuai dengan Kolose 1:11

7. Hubungan Pengampunan dosa Menurut Kolose 1:14 Terhadap Ketekunan iman peserta didik Kristen di Masyarakat Pluralistik

8. Tingkat Pemahaman Peserta didik tentang makna frasa kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik, bertumbuh, dikuatkan, mengucapsyukur dengan sukacita menurut Kolose 1:12 terhadap Konsistensi Kehidupan peserta didik di tengah kemajemukan

9. Mengetahui Kehendak Allah dengan sempurna menurut Kolose 1:9 terhadap tujuan pengajaran Guru Pendidikan Kristen di SD/SMP/SMU .......

10. Tingkat Pemahaman Jemaat tentang makna oleh Dialah, Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya menurut Kolose 1:20 terhadap Kedamaian hati peserta didik di SMA .....

11. Tingkat pemahaman tentang makna Yesus yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, Ia lebih utama dalam segala sesuatu Berdasarkan Kolose 1:18

12. Memperdamaikan Menurut Kolose 1:20 terhadap Keharmonisan Vertikal dan Horisontal Pesertadidik dalam Masyarakat Majemuk

13. Tingkat Pemahaman Peserta didik tentang makna frasa untuk menempatkan kamu kudus, dan tidak bercela, tidak cacat di hadapan TUHAN Menurut Kolose 1:22 terhadap kesaksian hidup orang Kristen di tengah masyarakat multikultural

14. Tingkat Pemahaman Guru PAK tentang makna frasa untuk menempatkan kamu kudus, dan tidak bercela, tidak cacat di hadapan TUHAN Menurut Kolose 1:22 terhadap Pertumbuhan Iman peserta didik Kristen di tengah masyarakat multikultural

Semoga menginspirasi menemukan variabel penelitian Skripsi, Tesis dan Disertasi dalam bidang Teologi Penggembalaan dan Pendidikan Kristen.

Salam YM

Wednesday, February 1, 2017

Mengajar mengaktualkan visi


Seorang guru yang visioner memiliki semangat dalam memaksimalkan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pengajaran. Visi sedemikian kuat menggerakan seorang guru. Itulah sebabnya Visi yang Menggerakan Seorang Guru dalam Mengajar perlu dibaca secara baik dan diimplementasikan dalam kehidupan seorang guru
Guru mengajar memerlukan metode. Metode apapun yang dipakai guru dalam mengajar harus dilaksanakan di atas dasar gairah mengajar yang didasarkan atas panggilan. Panggilan yang dimaksud yakni seorang guru mesti memastikan dalam dirinya bahwa ia dipanggil Tuhan untuk melaksanakan tugas mengajar. Kesadaran ini akan menyebabkan seorang guru melaksanakan pengajaran dengan sukacita dan bukan secara paksaan. Mengajar adalah bagian dari perintah Tuhan. Oleh karena itu maka tugas ini mesti dilaksanakan secara baik dan bertanggungjawab.
Seorang guru yang menyadari bahwa ia melaksanakan tugas mengajar karena panggilan Tuhan maka kesadaran ini mempengaruhi pemahaman dan tindakannya dalam mempersiapkan metode yang efektif sehingga dapat mempengaruhi peserta didik dalam minat belajar. Pesrta didik akan terdorong oleh pengaruh dari seorang guru yang mewujudkan kesadaran akan panggilan Tuhan dalam hal mengajar melalui pemanfaatan metode yang digunakannya.
Meningkatkan Pengetahuan tentang teori Metode Mengajar
Metode adalah cara yang dipergunakan guru untuk mengajar peserta didik. Atau metode berarti pengaturan pokok pelajaran yang menjadikan paling efektif dalam pemakaiannya.”
Memanfaatkan Metode Mengajar Secara Bervariasi
Metode mengajar sangat banyak, diantaranya metode ceramah, diskusi, tanyajawab, sosiodrama, cerita, drama,
Untuk meningkatkan minat belajar peserta didik maka seorang guru perlu memanfaatkan metode mengajar secara bervariasi. Artinya metode mengajar yang dipakai dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tidak boleh terpaku hanya pada satu metode mengajar. Misalnya dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran guru Pendidikan Agama Kristen hanya menggunakan metode ceramah yang bersifat monoton. Seorang guru dapat memilih beberapa metode mengajar, seperti: metode ceramah, tanya jawab dan diskusi dalam mengajar. Caranya yakni guru menjelaskan materi seperlunya selanjutnya mengarahkan peserta didik dalam Tanya jawab serta diskusi untuk topic materi yang dijelaskan.
Namun perlu diketahui bahwa pemanfaatan metode mengajar secara bervariasi dalam mengajar disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran.
Bila guru memakai metode drama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sehingga peserta didik meningkat minatnya belajar maka perlu dipahami bahwa metode drama dipakai untuk menunjukkan secara langsung dan memberikan pesan yang hidup kepada para pendengar, sehingga mereka bisa langsung mengerti makna sesungguhnya. Drama dapat dipersiapkan terlebih dulu, namun juga bisa secara spontan, seperti ketika Dia mengusir orang-orang yang berjual beli di Bait Allah ( Matius 21:12-16.) Jadi, metode drama adalah usaha guru memainkan kembali suatu lakon, sejarah atau cerita dalam sebuah adegan yang berhubungan dengan materi yang dijelaskan. Melalui drama pelaku dapat menghidupkan kembali peristiwa sejarah ataupun menggambarkan suatu kejadian yang baru. Misalnya cerita Zakeus dan lain-lain.
Jadi guru dapat memilih beberapa pokok dalam pelajaran Agama Kristen yang dapat disampaikan dengan bentuk drama. Bila metode drama hendak dipakai dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di kelas, maka para peserta didik dapat dilibatkan sebagai pelaku atau tokoh yang ada dalam cerita atau peristiwa yang didramakan tersebut (dikenal dengan nama role playing). Metode drama adalah satu cara mengajar yang berbentuk upaya untuk menggambarkan setepat-tepatnya suatu peristiwa dalam sejarah atau kehidupan modern kepada para orang-orang yang menyaksikannya untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
Metode Cerita. Guru Pendidikan Agama Kristen dapat menggunakan metode cerita dalam menyampaikan pelajaran Agama Kristen. Supaya peserta didik meningkat minatnya dalam belajar maka hendaknya guru dapat melibatkan peserta didik sebagai penutur. Artinya guru tidak boleh mendominasi dalam berlangsungnya proses pembelajaran dengan metode bercerita. Dalam hal ini guru dan peserta didik berbagi peran dalam bertutur. Metode cerita adalah cara mengajar dengan bercerita. Dalam metode berceita, baik guru ataupun anak didik dapat berperan sebagai penutur. Yesus menggunakan metode bercerita dalam mengajar seperti cerita atau perumpamaan tentang: penabur (Markus 4:1-20); pelita dan ukuran (Markus 4:21-25); benih yang tumbuh (Markus 4:26-29); perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi (Markus 4:30-34). Cerita tentang domba yang hilang (Lukas 15:1-7); dirham yang hilang (Lukas 15:8-10); anak yang hilang (Lukas 15:11-32); bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-9), dsb. Orang Samaria yang baik hati.
Metode Ceramah. Metode ceramah merupakan metode yang paling popoler dan konvensional. Banyak pendidik yang menerapkan metode ini dalam pembelajaran mereka. Berpidato, kampanye, berkhotbah, dan sebagainya merupakan bentuk metode ceramah. Dalam praktiknya, penggunaan metode ceramah dalam mengajar. Yesus menggunakan metode ceramah dalam mengajar. Penggunaan ceramah dalam mengajar dapat diperhatikan dalam Matius 26:1 “Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya…” Contoh itu merupakan kalimat narasi yang mengomentari pengajaran atau ceramah Yesus sebagaimana tercatat dalam pasal 24-25 yang merupakan kelanjutan dari kritik pedas Tuhan Yesus terhadap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat (pasal 23).
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Tuhan Yesus memakai metode ceramah ini dalam pelayanan-Nya, khususnya ketika berbicara dengan orang banyak, meskipun kadang-kadang juga terhadap kelompok kecil. Beberapa di antara penerapan metode ceramah-Nya yang paling panjang dan terkenal adalah Khotbah di Bukit (Mat. 5-7); ketika mengajar tentang akhir zaman (Mat. 24-25); ceramah menjelang perpisahan-Nya dengan para murid (Yoh. 14-17), dsb. Dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7) Tuhan Yesus berkhotbah (berceramah) tanpa diselingi oleh pertanyaan para pendengar-Nya.
Jadi, yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara guru menyampaikan pengajaran dengan berpidato atau menjelaskan bahan pengajaran dan murid menerimanya dengan menggunakan segenap indranya. Jadi, metode ceramah adalah cara yang dipakai oleh guru untuk menyampaikan pengajaran dengan berpidato atau menjelaskan bahan pengajaran secara terus menerus dan murid mendengarkannya dengan menggunakan segenap indranya.
Metode Bertanya. Metode bertanya adalah cara mengajar dimana guru menyampaikan pertanyaan dengan tujuan meminta keterangan atau penjelasan kepada murid. Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus banyak menggunakan metode bertanya, yang kadang-kadang memerlukan jawaban, tetapi kadang-kadang bersifat oratoris sehingga tidak memerlukan suatu jawaban. Pertanyan yang membutuhkan jawaban misalnya pertanyaan Tuhan Yesus kepada murid-murid dan kepada Petrus tentang siapakah Mesias itu (Matius 16:13-20; Markus 8:27-30; Lukas 9:18-21.). Pada waktuTuhan Yesus bertanya kepada mereka, maka mereka menjawab, baik berdasarkan apa yang didengar oleh orang lain maupun jawaban murid sendiri. Tetapi ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh pendengar, tetapi malah dijawab oleh Tuhan Yesus sendiri.
Contoh metode pertanyaan digunakan oleh Tuhan Yesus antara lain sebagai berikut: Matius 16: 13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" 14 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." 15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" 16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" 17: 10 Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" 11 Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu..” 22: 15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. 17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" 18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Markus 12: 28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" 29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

Kesehatan Tubuh dalam Perspektif Teologis


Bagaimana Kesehatan Tubuh dalam Perspektif Teologis, khususnya Perspektif Teologis Kristen? Artikel berikut ini membahas kesehatan tubuh sebagai bagian dari tanggungjawab memelihara bait Allah: "TUBUH adalah BAIT Allah. Ikuti dalam uraian berikut ini.

Tubuh ini adalah bait Allah. Oleh karena itu perlu dipelihara secara baik dan bertanggungjawab. Penulis Kitab Kejadian menyaksikan bahwa Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah (Kej. 1:26). Namun ada perbedaan antara Allah dan manusia. Allah itu Roh,sementara manusia memiliki tubuh. Tubuh manusia rentang terhadap sakit penyakit. Oleh karena itu maka Allah melengkapi tubuh manusia dengan kemampuan berpikir agar manusia mampu mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya, khususnya pemeliharaan tubuh agar tetap sehat. Binatang tidak membutuhkan rumah, tetapi manusia membutuhkan rumah. Binatang tidak perlu memasak air untuk diminum, tetapi manusia perlu memasak air untuk diminum. Dalam konteks ini, nampak bahwa daya tahan tubuh manusia berbeda dengan daya tahan tubuh binatang. Bila manusia meminum air seperti binatang meminum air maka jelas manusia terkena berbagai penyakit.
Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas menolong orang percaya dalam usaha memikirkan secara teologis dalam perspektif iman Kristen tentang kesehatan tubuh Kesehatan tubuh dapat dipikirkan secara mendalam dalam berbagai disiplin keilmuan. Misalnya kesehatan tubuh ditinjau dari filsafat, kesehatan tubuh ditinjau dari biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, etika dan teologi, dan lain-lain. Jadi, jelas bahwa salah satu realitas dapat ditinjau atau dipikirkan secara mendalam dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam penelitian ini, penulis meninjau kesehatan tubuh dari sisi etis-teologis”. Dari namanya menjadi jelas bahwa ada penggabungan dua disiplin keilmuan, yaitu etika dan teologi dalam meninjau kesehatan tubuh. Kata is dalam kedua frasa yaitu etis dan teologis hendak menyatakan sifat dari tinjauan itu, yaitu tinjauan yang sifatnya berdimensi etika (benar-salah = norma), dan berdimensi nalar yang berhubungan dengan Tuhan. Artinya kesehatan tubuh dipikirkan secara mendalam dalam kerangka benar-salah/baik-buruk tindakan/praktik kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan dari relasi logi tinjauan yang berlangsung dalam kontrol firman Tuhan sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab.
Berdasarkan menjadi alat yang berguna bagi kebutuhan hidup. Setiap orang menghendaki agar tubuhnya sehat. Untuk mencapai maksud ini, berbagai upaya dilakukan untuk tetap menjaga agar tubuh tetap sehat.tubuh yang sehat memerlukan usaha Untuk menjaga tubuh yang sehat maka ada berbagai upaya yang dilakukan Kesehatan tubuh dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang keilmuan, namun dalam penelitian ini kesehatan tubuh hanya ditinjau secara etis-teologis.
Berdasarkan maksud di atas maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan tinajauan etis-teologis terhadap kesehatan tubuh adalah sejumlah hasil berpikir ilmiah (kebenaran rasional dan kebenaran empiris) terhadap kesehatan tubuh yang bersifat etis-teologis dalam komunitas Kristen yang didasarkan pada Alkitab. Operasional dari definisi ini yakni tinjauan etis-teologis yang dimaksud disini yakni apakah kesehatan tubuh itu sesuatu yang benar atau salah bila diperhatikan dan dilakukan oleh komunitas Kristen. Bila kesehatan tubuh adalah hal yang benar maka apa normanya, sebaliknya bila kesehatan tubuh itu salah atau tidak perlu dipikirkan maka apa normanya?. Pemikiran teologis tentang kesehatan tubuh tentu didasarkan pada kesaksian Alkitab. Kesaksian Alkitab memang harus ditafsir. Untuk itulah perlu menggunakan pandangan para pakar atau teolog tentang perihal menjaga pola makan dengan memilah serta memilih makanan yang benar-benar berguna bagi kesehatan tubuh kita merupakan sebuah keharusan moral yang memiliki fondasi teologis.
Beberapa ahli percaya bahwa pengendalian diri dalam hal memilih dan mengkonsumsi makanan-makanan yang berguna bagi kesehatan merupakan sebuah moral imperative (keharusan moral) yang memiliki fondasi teologis. Ada ahli seperti Williamson percaya bahwa keharusan etis untuk menjaga pola makan yang sehat didasarkan atas doa untuk kesehatan tubuh. Doa bagi kesehatan tubuh harus diikuti dengan tanggung jawab orang percaya untuk menjaga kesehatan tubuhnya, salah satunya adalah dengan cara menjaga pola makan yang sehat. Paradigma bahwa orang Kristen adalah orang yang diberkati, kaya, berkelimpahan dan tidak kurang sesuatu apapun ditambah dengan iman Kristen bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan segala penyakit membuat banyak orang Kristen hidup secara tidak bertanggungjawab. Banyak orang Kristen menyantap segala makanan dengan interpretasi bahwa semua makanan adalah berkat yang berasal dari Allah. Memang segala sesuatu diperbolehkan untuk dimakan tetapi tidak semuanya berguna. Makanan untuk perut. Tetapi tidak semua makanan layak untuk perut. Artinya orang Kristen harus memperhatikan secara teliti apa yang masuk ke dalam tubuh.
Pandangan yang jauh lebih kuat menegaskan aspek teologis dari hukum-hukum mengenai makanan dalam Alkitab adalah pandangan Advent Hari Ketujuh. Seorang teolog Advent, Jiri Moskala, mengemukakan tipikal pandangan ini dalam sebuah artikel berjudul: “The Validity of the Levitical Food Laws of Clean and Unclean Animals: A Case Study of Biblical Hermeneutics.” Menurut Moskala, hukum-hukum mengenai makanan seperti yang terdapat dalam Kitab Imamat, tidak pernah dianulir validitasnya di dalam PB. Menurutnya, bukan hanya tidak membatalkan validitas hukum-hukum tersebut, melainkan juga tidak pernah memakan makanan-makanan yang ditetapkan tidak tahir dalam PL. Bahkan, karya penebusan Kristus yang menggenapi hukum-hukum dalam PL tidak berkaitan dengan hukum-hukum mengenai makanan. Bagian-bagian PB seperti: Markus 7:19b; Matius 15:11, 17-20; dan Kisah 10, tidak dilihat oleh Moskala sebagai dasar pembatalan hukum-hukum mengenai makanan dalam PL. Bagian-bagian ini hanya dimaksukan untuk melawan penyalahgunaan hukum-hukum tersebut, bukan pembatalan terhadap hukum-hukum tersebut.
Sampai di sini, kita dapat menyimpulkan bahwa di dalam konteks jaman itu, Allah memelihara kekudusan umat-Nya sebagai refleksi dari kekudusan-Nya sendiri dengan menetapkan hukum mengenai tahir dan tidak tahir berkenaan dengan binatang-binatang tertentu sekaligus untuk membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain. Allah adalah standar ultimat bagi pendefinisian diri Israel baik sebagai bangsa maupun sebagai umat religius. Motif seperti ini, terlihat jelas dalam kehidupan Daniel seperti yang akan diulas di bawah ini.
Dalam Daniel 1:8. Daniel adalah salah seorang tawanan yang dibawa dari Yerusalem ke Babilonia ketika raja Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem. Sebagai seorang keturunan bangsawan (Dan. 1:3), kecakapan dan perawakan Daniel memikat hati raja Nebukadnezar sehingga ia diperbolehkan untuk melayani raja. Dalam Daniel 1:8, tercatat: “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasanya diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tiak usah menajiskan dirinya.”
Ketetapan hati Daniel di atas dan permintaannya ditanggapi demikian oleh pegawai istana tersebut: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja” (1:10). Daniel kemudian menawarkan agar ia dan teman-temannya (bnd. 1:6, 11) hanya memakan sayuran selama tiga puluh hari, namun mereka tetap kelihatan lebih gemuk dari semua orang muda yang memakan santapan raja (1:12-15).
Lontaran-lontaran di atas tidak mengindikasikan bahwa perihal mereka memakan sayuran saja yang membuat mereka sehat dan kelihatan lebih gemuk dari orang-orang lainnya yang memakan santapan raja. Daniel 1:8 jelas memberikan indikasi bahwa Tuhan memelihara kesehatan mereka karena komitmen mereka untuk tidak menajiskan diri mereka dengan santapan sang raja. Pertanyaannya adalah apakah alasan Daniel menganggap bahwa santapan sang raja itu najis sehingga ia harus menahan diri untuk tidak mencicipinya?
Memang kita telah membahas tentang Imamat 11 dan Ulangan 14 di atas yang membuka peluang untuk mempertimbangkan kemungkinan akan alasan mengenai makanan haram di atas. Juga, dalam tradisi Yahudi, telah menjadi konsensus untuk tidak mencicipi makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala (bnd. 4Mak. 5:2-3;; bnd. 1Kor. 8:1-13). Bagi penulis, penolakan itu harus dipahami berdasarkan konsep makanan dalam konteks kovenan dalam kebudayaan pada masa itu. Pada masa itu, mencicipi hidangan yang sama berarti seseorang mengikatkan dirinya kepada pihak-pihak yang dengannya ia menyantap bersama (Kej. 31:54; Kel. 24:11; Neh. 8:9-12; bnd. Mat. 26:26-28). Dalam kategori ini, menyantap makanan raja berarti orang-orang yang berada di bawah otoritas raja itu harus menundukkan diri mereka secara mutlak kepada raja. Itulah sebabnya, Baldwin menyatakan bahwa kenajisan yang dihindari Daniel dan kawan-kawannya tidak berkaitan dengan aturan atau ritual tertentu mengenai makanan, tetapi lebih kepada keterhisaban kovenan ke dalam otoritas mutlak raja.

Semoga berguna

Monday, January 23, 2017

Judul Karya Ilmiah Mahasiswa STT


Mahasiswa STT selalu mencari ide untuk menulis karya akhir studi seperti skripsi, tesis dan disertasi. Beberapa judul berikut ini semoga membantu anda dalam menemukan ide penelitian karya ilmiah pada tingkat Sarjana Teologi, Sarjana Pendidikan Kristen dan Magister Teologi serta Pendidikan Kristen.

1. Eksistensi Guru Sekolah Minggu dalam Gereja
2. Urgensi pelayanan Okultisme dalam Pelayanan Pastoral
3. Melayani Pekerja Seks Komersial di Kota dengan Sikap Kasih
4. Penderitaan dan Kehadiran Tuhan
5. Keyakinan Kepastian Keselamatan Terhadap Semangat Pelayanan Penginjilan
6. Peranan Gereja Perempuan Menurut Lukas 8:1-3
7. Pengaruh Pertengkaran Suami Istri Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
8. Kajian Teologis Motivasi Pekabaran Injil Rasul Paulus Berdasarkan I Korintus Terhadap Warga Jemaat dalam Pekabaran Injil
9. Pengaruh Tingkat Pemahaman Jemaat Tentang Makna Ibadah terhadap Kesetiaan Beribadah
10. Pengaruh Pelayanan Pastoral Terhadap Motivasi Kerja Karyawan di Perusahan A
11. Pengaruh Bahasa Roh Terhadap Ketekunan Beribadah
12. Keyakinan akan “Kuasa Dalam Nama Yesus” Terhadap Pengusiran Iblis
13. Pengaruh Menyebut “dalam Nama Yesus” Terhadap Uji Nyali
14. Pendekatan Firal Eksegesis Terhadap Gada dan Tongkat Menurut Mazmur 23:4
15. Pengaruh Pelaksanaan Persekutuan Doa Terhadap Pertumbuhan Gereja
16. Pengaruh Disain Kurikulum Sekolah Minggu Terhadap Sekolah Minggu yang Menyenangkan
17. Tingkat Pertumbuhan Iman Terhadap Kesetiaan dalam Kepercayaan Kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat
18. Studi Teologis Tentang Perceraikan Menurut Hukum Positif
19. Tingkat Kematangan Aksiologis Yusuf Terhadap Godaan Istri Potifar
20. Peran Gereja dalam Mewujudkan Kerukunan Hidup Antar Umat Bergama di Daerah ....
21. Tinjauan Historis Pola-pola Pekabaran Injil Masa Lampau Terhadap Metode Pekabaran Injil Masa Kini
22. Peranan Gereja dalam Pembinaan terhadap Keterlibatan Anggota Jemaat dalam sistem Perdagangan Tradisional Orang Tehit
23. Pengaruh Penggembalaan Terhadap Keluarga yang mengalami Kedukaan 24. Efektivitas Persekutuan Jemaat Terhadap Pekabaran Injil
25. Pengaruh Tingkat Pemahaman Teologis Pelayanan Kependidikan Gereja Terhadap Pengelolaan Sekolah Swasta
26. Pengaruh Kepemimpinan Adat Terhadap Efektivitas, Efisiensi dan Produktivitas Pelayanan Gereja
27. Pengaruh Pelayanan Warga Kristen Terhadap Kesadaran Politik
28. Hubungan Harmonis Gereja-gereja di kota terhadap Harmonisasi Pelayanan
29. Kemandirian Gereja di Bidang Teologi Terhadap Kualitas Penginjilan
30. Efektivitas Pelayanan penggembalaan Pemuda Terhadap Kenakalan Pemuda
31. Hubungan Strategi dan Metode Pembinaan Majelis Jemaat di Daerah Pedesaan Terhadap Pertumbuhan Gereja Pedesaan
32. Urgensi Pemberantasan Buta Huruf Terhadap Kualitas Pertumbuhan Rohani
33. Peranan Gereja dalam pencegah Alkoholisme di Kalangan Pemuda
34. Evaluasi Teologis Kehadiran Zending Mennonite di Daerah
35. Pemanfaatan Persembahan Persepuluhan
36. Peranan Kepemimpinan Majelis Jemaat Terhadap Pertumbuhan Gereja di ..........
37. Pengaruh Adat Terhadap upacara pembaptisan Kudus di ...........
38. Efisiensi Penatalayanan Kristen Terhadap Ekonomi Gereja
39. Pengaruh Majelis Jemaat dan Pembinaan Jemaat Terhadap Semangat Penginjilan
40. Dinamika Persekutuan terhadap Pekabaran Injil
41. Pemahaman Teologis yang Sehat Terhadap Perjamuan Kudus
42. Hubungan Kearifan Lokal dengan Teologia Kerajaan Allah Terhadap Pertumbuhan Gereja Pedesaan
43. Peranan Pemuda Dalam Pertumbuhan Jemaat
44. Kontekstualisasi tari-tarian bernuansa adat dalam Liturgi Ibadah Gereja Terhadap Ibadah yang menyapa batin Warga Jemaat di ....
45. Keterbukaan Gereja terhadap Glosolalia dalam Ibadah Gereja Protestan
46. Efektivitas Pelayanan Gereja dalam lingkup Jemaat yang dikelola Perusahaan
47. Sikap Gereja Terhadap Anggota Jemaat yang Terlibat Minum Minuman Tuak
48. Peranan Gereja dalam memotivasi Jemaat dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Potensi Pala
49. Motivasi Gereja terhadap Penatalayanan Kekayaan Alam 50. Sikap Gereja terhadap pelayanan Hobat-Hobatan dalam Kehidupan Jemaat di Pedesaan
51. Sikap Gereja terhadap Praktek Penyembuhan Tradisionil di Pedesaan
52. Evaluasi Teologis terhadap Sikap Toleransi Bergama dalam Kehidupan Anggota Jemaat
53. Pengaruh Pendeta Go-Blog Terhadap Tingkat Pemahaman Anggota Jemaat dalam Pemahaman Alkitab
54. Manajemen waktu sebagai Anugerah Allah Terhadap Perkembangan Gereja
55. Tingkat Pemahaman Teologis Terhadap Pelayanan Gelandangan
56. Pengaruh prinsip hidup suami istri Terhadap Keutuhan Pernikahan Menurut Efesus 5:22-25
57. Pengaruh Suami Istri yang taat dan hidup dalam Kasih Terhadap Eksisntensi Keluarga Kristen Berdasarkan Efesus 5:22-30
58. Tinjuan Teologis Terhadap Kuasa Manusia Sebagai Mandat Allah
59. Pengaruh Roh Kudus Dalam Pertumbuhan Gereja-Gereja di Kota
60. Cara Penanggulangan Miras di Kalangan Perempuan Kristen
61. Dalam Nama Yesus Terhadap Kekuatan Magis di Pedesaan
62. Peranan Kepemimpinan Perempuan dalam Organisasi Gereja
63. Pengaruh Menciptakan Ibadah Kreatif Terhadap Semangat Beribadah Hari Minggu
64. Tinjaua Teologis Perjamuan Kudus Menurut Teologi Paulus dan Korelasinya terhadap Perjamuan Kudus Dalam Jemaat Gereja ...
65. Sikap Gereja terhadap pelayanan Waria dan Pelayanan Gereja
66. Peranan Pendeta dalam Entrepreneur Jemaat
67. Seketiduran di Rumah Kost
68. Memberdayakan Keluarga Yang Tidak Produktif (Mandul) dalam Pelayanan Gereja

Kesetiaan Beribadah
Kata “kesetiaan” dapat dipakai dalam berbagai konteks, misalnya dalam konteks suami-istri, seorang suami setia memelihara kesucian kehidupan rumah tangganya dan sebaliknya seorang istri memelihara kesetiaan pada suami. Dalam berpacaranpun demikian, seseorang dituntut setia kepada pacarnya. Seorang bawahan membangun sikap kesetiaan atau loyalitas kepada atasan dan lain-lain. Dalam pembahasan ini, kata kesetiaan hendak diterapkan dalam beribadah yang dilakukan dalam kekristenan, khususnya dalam denominasi gereja.
Kesetiaan beribadah di denominasi gereja oleh anggotanya ditentukan oleh banyak faktor. Misalnya pelayanan khotbah yang menjawab kebutuhan rohani, suasana ibadah yang penuh dengan rasa kekeluargaan atau saling mengenal satu dengan yang lainnya, gedung gereja yang bagus, tempat parkir yang memadai.Namun ada pula yang setia beribadah di tempat ibadah yang sederhana seperti mengontrak rumah. Kesetiaan beribadah oleh sekelompok orang Kristen yang menjadikan tempat sederhana menjadi tempat berkumpul bersama dalam mewujudkan pertemuan teragung dengan TUHAN itu dilakukan dengan setia dari minggu ke minggu tanpa merasa terganggu karena fasilitas ibadah seperti rumah ibadah di rumah kontrakan. Hal ini menjadi fenomena menarik. Tentu tidak semua orang Kristen menjadikan rumah kontrakan menjadi tempat ibadah karena di wilayah-wilayah tertentu, hal ini tidak diperkenankan. Jadi, ini sifatnya kasustuistik. Artinya sedikit saja orang Kristen di tempat tertentu yang menjadikan rumah atau ruang pertemuan untuk ibadah Minggu.
Hal yang hendak disoroti yakni kesetiaan beribadah yang dilakukan oleh anggota gereja sebagaimana yang disebutkan di atas. Faktor apakah yang mendorong kesetiaan beribadah bagi sekelompok orang Kristen yang karena kendala tertentu harus memilih tempat kontrakan untuk beribadah Minggu. Di sisi yang lain, ada yang merasa malu bila beribadah di tempat-tempat seperti di rumah atau di ruang pertemuan. Orang-orang seperti ini merasa bangga kalau beribadah di rumah gereja. Ibadah dalam konteks Kristen dapat dipahami dalam teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Lama, kata “beribadah” dapat dihubungkan dengan kata Ibrani yaitu “abed” yang berarti “bekerja seperti seorang budak”, atau “mengabdi kepada seorang raja”, atau “melayani dalam fungsi keimaman”. Sementara dalam Perjanjian Baru dipakai kata “sebo”. Kata ini memiliki arti “menyembah”. (lihat Mat. 15:9 – Yun. “sebĂ´” (sebw) yang berarti “menyembah”. Dalam 1 Tim. 6:6 – Yun. “eusebeia” (eusebeia) yang memiliki arti: “hidup yang takut akan Allah dan melakukan kewajiban religius kepada-Nya). Jadi, ibadah dalam konteks Kristen di artikan perjumpaan TUHAN dengan manusia dan manusia dengan TUHAN. Esensi inilah yang diwujudkan dalam ibadah Minggu.

Thursday, December 22, 2016

Pendidik Kristen dan layanan grabbike


Pelayanan GrabBike yang luar biasa

Beberapa minggu yang lalu, setelah mengikuti Natal di suatu gereja kemudian saya memesan grabbike untuk kemudian diantar ke rumah. Setelah sampai di tujuan, saya kemudian bergegas turun dari grabbike, kemudian mengambil dompet di kantong celana dengan maksud mengambil uang untuk membayar ongkosnya. Harga yang ditentukan oleh layanan online grabbike waktu itu yakni Rp 7.000,00. Ketika saya hendak membayar, sang pengemudi berkata kepada saya, bapak dapat diskon jadi bapak hanya membayar Rp 2.000,00. Mendengar itu, saya hampir tidak percaya. Sang pengendari grabbike menyatakan bahwa sebenarnya ada diskon pada malam hari pak. Saya kemudian berkata “luar biasa layanan grabbike”. Sukses pengendara grabbike dan layanan grabbike.
Setelah peristiwa yang mengesankan ini, beberapa hari kemudian saya mendapatkan informasi di internet dari sebuah iklan yang mempromosikan diskon layanan grabbike sebesar 50 dan 70 persen. Gambar berikut ini saya ambil dari internet. Saya sengaja mencantumkan ini karena menurut saya, saya telah mengalami layanan diskon 70 %. Sukses buat GRABE BIKE


Persiapan Natal 2016

Pada hari Sabtu tanggal 24 Desember 2016 pukul 16.30.00 WIB saya memesan gabbike untuk ke Kabaktian yang diadakan pada pukul 17.00- 19.00 di Salah satu gereja di Jakarta Timur. Kembali lagi saya mendapat layanan terbaik dari grabbike. Pengemudi grabbike datang tepat waktu. Sewaktu dalam perjalanan dengan grabbike, pengemudi grabbike yang mengantar saya mengucapkan selamat persiapan Natal kepada saya. Mendengar ucapan selamat persiapan Natal oleh sang pengemudi tersebut, saya menjadi sangat senang. Hal yang sama terjadi ketika pulang dari kebaktian. Di pintu keluar, saya bersalaman dengan seorang petugas mengucapkan selamat Natal kepada saya. Saya kemudian katakan terimakasih kepadanya.
Kembali dari gereja menuju ke rumah dengan grabbike. Pengemudi datang tepat waktu dan melayani saya dengan senyum Indonesia, kemudian kami berangkat menuju rumah. Sesampainya di rumah saya kemudian mengeluarkan Rp 7.000,00 untuk membayar ongkos grabbike. Luar biasa pelayanan grabbike. Sukses untuk pelayanan Grabbike.

Hari ini tanggal, 26 Desember 2016 tepat jam 09.00 seseorang mengucapkan selamat Natal. Biasanya pada setiap Natal selalu datang ke rumah sebaliknya pada hari raya keagamannya, saya pun mengunjungi dan memberi salam. Dalam Natal 2016, ia memberi selamat Natal kepada saya. Mari kita saling menghargai dan menyongsong perubahan itu. Seorang Presiden dari negara tertentu juga mengucapkan selamat Natal. Kita bersaudara dalam satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Mari kita pupuk "Kebineka Tunggal Ikaan" di Indonesia.Biarlah sang bayi Natal, sang pendamai itu menolong kita dalam perayaan Natal 2016. Kita juga berterima kasih kepada pemerintah RI dan aparat keamanan yang telah, sedang dan akan tetap melindungi warganya dalam melaksanaan kebebasan beribadah sesuai keyakinan yang dianut.

10 karakter guru yang sangat efektif


Implementasi 10 karakter yang harus dimiliki Guru PAK yang sangat efektif dalam mewujudkan kesuksesan mengajar
Topik di atas merupakan pergumulan seorang pendidik yang bernama Elaine K. McEwan. Pengalaman itu dituangkan secara baik dan dapat dipelajari oleh setiap guru di Indonesia. Silakan Anda mencari buku dengan Judul: “10 Karakter yang Harus dimiliki Guru yang Sangat Efektif. Bagaimana Merekrut, Melatih dan Membimbing Para Guru yang Sukses”.
Saya mencoba membagikan kepada para pembaca tentang 10 Karakter Guru yang diimplementasikan kepada para pendidik dalam dunia Pendidikan Agama Kristen .
Kesepuluh karakter yang harus dimiliki Guru yang Sangat efektif, yaitu seorang Pendidik Agama Kristen memiliki sikap atau mulai membiasakan sikap-sikap positif (sikap unggul) berikut ini:

1. Bergairah dan terdorong misi
2. Positif dan riil
3. Seorang guru pemimpin
4. Pengajaran yang membawa hasil
5. Menemukan gayanya sendiri
6. Keahlian motivasional
7. Efektivitas instruksional
8. Pemelajaran buku
9. Kecerdasan lapangan
10. Kehidupan mental

Seperti apa maksud dari setiap karakter di atas maka segeralah memiliki judul buku tersebut di atas. Carilah di Gramedia atau toko-toko buku terdekat. Buku ini sangat baik untuk para guru. Membaca isi buku ini membuat kita tergugah, dan boleh jadi meneteskan air mata. Sering orang mengajar sekadarnya saja. Ayo baca dan terapkan 10 karakter dalam mengajar Semoga bermanfaat. Silakan Anda mencari buku ini dan usahakan memilikinya dan membaca secara mendalam, pasti akan menemukan mutiara-mutiara yang sangat berharga dalam mengajar. Anda bisa mencarinya di Toko Buku Gramedia

Beberapa Variabel Penting dalam Pendidikan Kristen


1. Kelahiran Kembali Bagi Seorang Pendidik Kristen

Seorang Pendidik Kristen harus mengalami kelahiran kembali (proses pembaharuan hidup dalam Yesus Kristus). Kelahiran kembali sebagaimana yang dimaksud disini dapat diperhatikan dalam narasi percakapan Yesus dengan Nikodemus. Pada watu Nikodemus menemui Tuhan Yesus pada watu malam, Nikodemus menanyakan apa yang ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Maka Yesus menjawabnya sampai tiga kali untuk dilahirkan kembali (Yoh. 3:1-11). Nikodemus seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi yang berpendidikan tetapi datang kepada Yesus untuk mendapatkan hidup yang kekal. Syarat yang harus dimiliki untuk meneriama hidup yang kekal adalah kelahiran kembali oleh kuasa Roh Kudus.
Kelahiran kembali sebagaimana yang dimaksud di atas menjadi suatu syarat yang mesti dipenuhi oleh seorang yang hendak menjadi guru Pendidikan Kristen. Seorang Pendidik Kristen seyogyanya sudah mengalami kelahiran kembali dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat secara pribadi. Stephen Tong menyatakan, “Kalau seorang pendidik memiliki kepribadian yang belum beres, atau tidak sesuai dengan kedudukan atau kewajiban sebagai pendidik, maka pribadinya yang tidak baik akan merusak orang lain”.(Mary Setiawani dan Stephen Tong, 1995:38). Hal senada Mary Go Setawani yang menandaskan, “Seorang yang tidak memiliki hidup Kristus, tentu tak sanggup membina, hidup apalagi mempengaruhi orang lain” (Mary Setiawani, t.th: 7)
Kelahiran kembali merupakan suatu proses ilahi yang harus teralami dalam diri guru Pendidik Kristen . Pada saat seseorang mengalami pengalaman spiritual yaitu dijamah Roh Kudus maka orang tersebut akan mengakui dan meninggalkan segala dosa, dan bersedia untuk hidup kudus sehingga ia disebut manusia baru atau ciptaan baru di dalam Kristus (II Kor. 5:17). Pendidik Kristen yang telah mengalami kelahiran kembali akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan peserta didik. Dalam hal ini benarlah perkataan Stephen Tong, yaitu: Seorang guru agama Kristen haruslah seorang yang sudah mengalami diperanakan pula (dilahirkan kembali). Ini menjadi faktor utama yang penting. Jika ada orang yang sudah betul-betul diperanakan pula, berjanji bersekutu dan berdoa, berani untuk menggarap sistem pendidikan, masa depan akan sangat berbeda dan akan terbentuk pemuda-pemuda yang baik yang berbeda dengan guru-guru sekarang yang tidak memiliki sasaran.(Stephen Tong, 1995:23)
Dari uraian di atas, jelas bahwa seorang guru PAK harus menerima kelahiran baru dari Roh Kudus, sehingga saran dan tujuan hidup seorang guru menjadi dasar untuk mengajarkan kebenaran Firman Allah kepada peserta didik.
Jadi, kelahiran kembali merupakan syarat yang mutlak bagi setiap Pendidik Kristen dalam melaksanakan proses pendidikan Kristen bagi peserta didik sehingga peserta didik diarahkan mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus.

2. Terpanggil sebagai Pengajar

Setiap orang mempunyai panggilan yang berbeda-beda untuk melakukan pelayanan yang dipercayakan Tuhan bagi umat-Nya. Untuk mengerti dan memahami panggilan Tuhan sebagai pengajar merupakan pergumulan pribadi yang membutuhkan penyerahan diri secara total untuk dipakai Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Allahlah yang memanggil umat-Nya untuk melakukan tugas pengajaran dan melalui iman setiap orang percaya memahami bahwa Allah memanggil setiap guru PAK untuk mengajarkan Firman Allah. Hal ini ditegaskan oleh Samuel Sidjabat yang menyatakan, Ada dua hal penting yang perlu kita tahu tentang kehendak Allah berkaitan dengan tugas dan panggilan keguruan: Pertama; Allah memanggil kita untuk menjadi umat kepunyaan-Nya serta untuk mengasihi Dia dengan segenap kepribadian (I Ptr. 2:9; Mrk. 12:29-30) Allah menghendaki agar kita hidup memuliakan Dia dalam atau lewat apa yang kita kerjakan (Kol. 3:23; I Kor. 10:31). Kedua; Allah memanggil kita sejak semula untuk menjadi kawan sekerja-Nya. Hal ini telah dinyatakan kepada Adam dan Hawa, nenek moyang manusia pertama kali dahulu (Kej. 1:28). (Sidjabat, 1996:334-335)
Untuk meresponi panggilan Tuhan, diperlukan pengabdian dengan menyerahkan segenap hidup bagi pekerjaan-Nya (Rm. 12:1-2). Panggilan Allah secara khusus ditujukan kepada setiap guru PAK. Homrighausen dan Enklaar menyatakan bahwa para pendidik itu telah mendapat panggilan yang khusus untuk pekerjaan yang khusus. Oleh sebab itu, mereka juga memerlukan tenaga pendorong yang khusus pula untuk dapat melaksanakan pekerjaan yang suci mulia dan hati yang menyala-nyala. (E.G. Homrighausen dan I.H. Enklaar, 13)
Hal senada dinyatakan Mary Go Setiawani:

Bila guru memahami bahwa pekerjaan pendidikan di sekolah adalah panggilan khusus dari Allah, dan yakin bahwa dirinnya sedang melayani Allah, maka seharusnya ia dapat setia dan bertanggung jawab kepada Allah. Sehingga dalam kesucian yang bagaimanapun, ia tetap teguh dalam iman, sabar dan setia sampai mati.
Pendidik Kristen telah mendapat panggilan yang khusus untuk mengajar sehingga bertanggung jawab atas pangilan tersebut. Panggilan dari Allah untuk tetap hidup suci, kudus, teguh dalam iman dan tetap setia mengikuti panggilan Tuhan. Yohanes calvin memberikan syarat yang harus ditaati atau dipatuhi oleh setiap pelayan yang benar dan sesuai dengan kehendak Allah. Pertama, para pengajar haruslah orang yang dipanggil Tuhan untuk melakukan pelayanan tersebut. Kedua, mereka yang dipanggil untuk mengajar, harus menjawab panggilan itu. Mereka harus dengan tekun dan rela memikul serta melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya (Yohanes Calvin, 2000:246)
Dalam surat Yakobus 3:1 tertulis, “Saudara-saudara janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat”. Dalam hal ini tidak semua orang dipanggil menjadi guru. Kata “jangan banyak” memiliki arti yang terbatas pada jumlah orang, sehingga panggilan untuk mengajar jelas dari Tuhan dan menjalankan panggilan tersebut untuk kemuliaan Tuhan saja. Istilah ini juga menjadi suatu peringatan serius bagi setiap pengajar, agar melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas.
Dalam hal ini panggilan untuk mengajar dengan jelas dari Tuhan dan melaksanakan panggilan itu dengan penuh tanggung jawab sebagai anugerah Allah. Oleh karena itu, seorang pengajar harus tetap mengabdi atau setia sampai mati (bnd. Why. 2:10).

3. Dewasa dalam iman

Kelahiran baru dan keterpanggilan menjadi pengajar adalah hal yang mendasar menuju kedewasaan iman di dalam Kristus. Kedewasaan iman guru Pendidik Kristen akan memberikan pengaruh positif bagi setiap peserta didik dalam keteladanan mentaati Firman Allah.
Samuel Sidjabat menyatakan, “Guru terpanggil untuk bertumbuh ke arah pengenalan yang semakin mendalam dan lengkap tentang pribadi Yesus Kristus (bnd. Kol. 2:6-7; Gal. 2:19-20)” (Sidjabat, 36). Pengenalan yang semakin mendalam yang dimaksud adalah terus-menerus memperkaya diri dengan belajar firman Allah.
Dalam Kolose 2:6-7 tertulis, “Kamu telah meneima Kristus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Kedewasaan iman hanya bisa terjadi jika seseorang tetap berada di dalam Kristus, berakar di dalam Dia dan memiliki iman yang teguh di dalam Kristus. Guru PAK yang tidak memiliki kedewasaan iman akan membuat kehidupan rohani peserta didik tidak bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus.
Mary Go Setiawani menyatakan,
Seorang Kristen yang suam-suam kuku dan tidak mempunyai kerinduan untuk maju dalam kehidupan rohaninya, tak mungkin memiliki gairah untuk memperhatikan kehidupan rohani orang lain; bila guru sendiri tidak mempunyai kerinduan dan kurang berlatih dalam hal-hal rohani, ia tidak dapat melatih atau membina muridnya. Hanyalah orang Kristen memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam Kristus layak menjadi guru (Mary Go Setiawani, Op. Cit. hlm. 7)

Dewasa dalam iman menjadikan guru PAK bertahan dalam penderitaan, tantangan dan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar, karena iman merupakan dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat (Ibr. 11:1). Iman yang kokoh di dalam Kristus memberikan pengaruh yang baik bagi peserta didik untuk menerima dan mendengar setiap pengajaran firman Allah yang menimbulkan atau menumbuhkan iman (bnd. Rm. 10:17).