Kini hadir layanan yang memudahkan urusan tiket dan hotel di Indonesia dan dunia

Atasi Masalah Anda Bersama Kami

Atasi Masalah Anda Bersama Kami
Silakan konsultasikan kesulitan Anda di: 081388662585

Friday, May 6, 2016

Contoh Penelitian Biblika

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Martin Kahler menjuluki Kitab-kitab Injil sebagai “narasi-narasi penderitaan dengan pendahuluan yang panjang” (“passion narratives with extended introductions”).(Joel B. Green, 2006:139). Penilaian Kahler memang demikian. Artinya dari sisi ontologinya dan epistemologinya, kitab-kitab Injil berisi narasi penderitaan Yesus dan kemenangannya atas maut (kebangkitan). Bahkan dalam I Korintus 15:3-4, Paulus menyebutnya sebagai inti dari Injil Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1Kor. 15:3-4). Akan tetapi penilaian di atas tidak berarti di Injil-Injil hanya terdiri dari narasi penderitaan. Narasi penderitaan yang dimaksud yaitu sesuatu yang dialami oleh Yesus dan dinarasikan oleh saksi mata yaitu murid-murid Yesus. Di sisi lain, walau julukan dari Kahler di atas mengungkap dengan tepat fokus penulisan Kitab-kitab Injil, khususnya Markus, namun secara keseluruhanpenilaian Kahler sangat menolong dalam memahami sentralitas salib Kristus dalam Injil Markus dan menarik perhatian pada fakta bahwa narasi Markus mengenai masuknya Yesus ke Yerusalem hingga kubur kosong menempati satu per tiga bagian Injil ini”. Namun bila diamati secara mendalam maka penilaian Kahler tersebut masih memiliki celah. Artinya terlampau bersifat menyederhanaka epistemologi isi Injil Markus. Dikatakan demikian karena ada pasal-pasal lain dalam Markus yang tidak memuat narasi-narasi ilahi tentang penderitaan jasmani berdimensi ilahi (Green, 2006:139) Berdasar pada penilaian Green di atas, kemudian melihat strukur pengisahan narasi Injil Markus 8-10 yang memfokuskan pada tema penderitaan Yesus menjadi tema besar yang dinarasikan dalam bentuk ironi. Hal ini boleh disebut sebagai Ironi karena dalam ketiga pasal ini, tiga kali Yesus memprediksikan mengenai penderitaan-Nya dan tiga kali pula para murid yang adalah orang-orang terdekat-Nya memperlihatkan kesalahpahaman bahkan ketertarikan yang berbeda dari fokus atau tujuan kedatangan Yesus.Lalu diikuti dengan pengajaran mengenai “harga” mengikut Yesus (Douglas J. Moo, 2000:5) Penderitaan Yesus dalam tiga pasal dari Markus yaitu Markus 8:31: Markus 9:30-31: Mar 10:32-34: Kesalahan pahaman terhadap ucapan Yesus: Markus 8:32-33; Markus 9:32-34; Markus 10:35-40: Berdasar pada fakta narasi dalam ayat-ayat di atas terdapat berbagai pandangan, ada yang menganggap “komedi kesalahan-kesalahan” Sementara itu, dari sudut pandang pendekatan naratif, David Rhoads dan Donald Michie menyatakan bahwa bagian dari sebuah alur konflik dalam Injil Markus.Alur konflik ini, dari sudut pandang Yesus, merupakan sesuatu hal yang menimbulkan frustrasi dan kekecewaan karena murid-murid-Nya tidak memahami Diri dan pelayanan-Nya sebagaimana mestinya.Sedangkan dari sudut pandang para murid, perseteruan nilai-nilai baru yang diajarkan Yesus terasa begitu berat dan sulit diikuti.( David Rhoads dan Donald Michie, 2004:110-119). Dengan kata lain secara teologis, muncul pertanyaan mengenai prediksi Yesus di atas yaitu apakah Yesus mengajarkan bahwa kematian-Nya memiliki nilai penebusan atau sekadar sebagai contoh atau teladan dari penderitaan yang harus dialami para pengikut-Nya atau kedua-duanya sekaligus? Jadi bagaimana menyelesaikan masalah di atas? Kiranya menjadi pokok masalah biblika untuk diteliti secara eksegesis.
B. Identifikasi Masalah

1. Apakah tingkat pemahaman akan tinjauan terhadap pandangan para ahli mengenai latar belakang Markus 10:45 dapat menolong menyelesaikan masalah?
2. Apakah pendekatan eksegesis Markus 10:45 dapat menyelesaikan masalah penelitian?
3. Apakah dapat dipergunakan pendekatan teologi sistematika untuk menyelesaikan masalah penelitian ini?
4. Apakah pendekatan biblikal teologi dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah penelitian ini?

B. Batasan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah diatas nampak jelas ada beberapa masalah sehingga perlu dibatasi. Jadi penelitian ini dibatasi pada pada Markus 10:45. Namun tetap memperhatikan konteks paralel yaitu dalam konteks Markus 10:35-45, maka di dalam mengeksegesis ayat tersebut, penelitian dapat memberikan ulasan mengenai konteks naratifnya..
C. Rumusan Masalah

Sebuah pertanyaan pengarah penelitian biblikal-empirikal ini dapat dirumuskan sbb:

1. Bagaimana tinjauan terhadap pandangan para ahli mengenai latar belakang Markus 10:45?
2. Bagaimana eksegesis Markus 10:45?
3. Bagaimana implikasinya bagi para pelayan Tuhan?

D. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tesis ini ditulis untuk memenuhi beberapa tujuan berikut ini:

1. Mengemukakan tinjauan terhadap pandangan para ahli mengenai latar belakang Markus 10:45.
2. Memberikan ulasan eksegetis terhadap Markus 10:45
3. Menjelaskan implikasi dari ulasan eksegetis tersebut bagi para pelayan Tuhan

F. Manfaat Penelitian

Penulisan tesis ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat berikut:
1. Memberikan kontribusi pemikiran studi mengenai teologi PB, khususnyastudi mengenai Kristologi Kitab-kitab Injil, lebih khusus lagi studi mengenai gelar Anak Manusia bagi Yesus.
2. Memberikan kontribusi pemikiran terhadap studi biblika PB, khususnya tafsiran terhadap Injil Markus, lebih khusus lagi tafsiran terhadap Markus 10:45.
3. Memberikan manfaat kepada warga Gereja, dimana tesis ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan acuan dalam pembinaan kepada warga Gereja, baik melalui khotbah, PA, dsb;
4. Memberikan kontribusi kepada Sekolah Tinggi Theologia ...., khususnya untuk pengembangan mata kuliah teologi biblika PB dan tafsir PB.

Wednesday, May 4, 2016

Hendaklah Kamu Sempurna Seperti Bapa

Kesempurnaan merupakan salah satu konsep atau variabel yang didambakan oleh setiap orang. Allah adalah sempurna, dan telah menciptakan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa dalam kesempurnaan yaitu tanpa dosa (kesempurnaan secara moral), kondisi kesempurnaan itu dapat disaksikan dalam narasi Kejadian 1 dan 2. Akan tetapi kesempurnaan moral itu mengalami gangguan yaitu kegagalan manusia dalam dosa sebagaimana muncul dalam deskripsi Kejadian 3. Dalam perkembangannya, manusia yaitu Kain membunuh adiknya. Hal ini menunjukkan penyimpangan kesempurnaan. Seharusnya Kain mengasihi adiknya tetapi justru kain bertindak tidak sempurna. Kondisi demikian berkembang dalam kehidupan umat pilihan-Nya sampai datang-Nya Yesus Kristus. Menurut Lorens Bagus sempurna memiliki beberapa pengertian yakni: (1) lengkap, (2) murni, (3) tidak ada kesalahan. Tidak memiliki kemungkinan untuk cacat atau tidak bercacat. Berdasarkan definisi ini, kata sempurna menunjukkan kualitas moral yaitu tanpa salah. Hal ini berarti sempurna adalah kondisi dimana tidak terjadi pelanggaran atau kesalahan dalam diri seseorang. Salah satu teks dalam Perjanjian Baru yang menjadi perdebatan teologis yaitu Teks Matius 5:48. Teks ini telah menjadi diksusi para ahli, diskusi itu salah satunya adalah pokok yang bersifat teologis. Percakapan teologis berkisar pada doktrin “kesempurnaan Kristen” (Christian Perfection) yang diajarkan John Wesley, Victoria L. Campbell. Mereka menulis artikel berisi pembelaan terhadap doktrin kesempurnaan Kristen yang diajarkan oleh Wesley. Menurut Campbell, Wesley mengajarkan bahwa kesempurnaan Kristen itu merupakan sebuah “sasaran” (goal) atau “tujuan akhir” (ends). Artinya, kesempurnaan Kristen menurut Wesley bukanlah sebuah status kekinian yang dapat dinikmati oleh orang percaya saat ini dan di sini, melainkan sebuah sasaran atau tujuan akhir yang menjadi orientasi dari seluruh kehidupan Kristiani. Wesley mengajarkan tentang kesempurnaan sebagaimana yang dimaksud oleh Yesus tetapi dinilai oleh J. Sidlow Baxter bahwa ajaran kesempurnaan Kristen dari Wesley adalah tidak Alkitabiah dan tidak mungkin tercapai oleh oleh orang percaya dalam kehidupan ini. Menurut Witherington, Wesley memang mengajarkan doktrin kesempurnaan Kristen yang bersifat progresif, bukan status kekinian, namun Wesley memang percaya bahwa progress menuju kesempurnaan Kristen itu dapat tercapai dalam hidup ini. Hal ini disebabkan Wesley mendefinisikan dosa secara terlalu sempit yaitu sebagai “perlawanan secara sengaja terhadap hukum-hukum moral yang telah tercatat dalam Alkitab”. Kritik Witherington terhadap Wesley adalah bahwa Wesley tidak tepat dalam pendefinisiannya mengenai dosa, sementara Witherington sendiri tetap mengakomodasi inti doktrin kesempurnaan Kristen yang diajarkan Wesley. Apa yang diperdebatkan itu ada dalam Matius 5:17-48; 1 Korintus 10:13; 1 Yohanes 1:8-10; 2:2; 3:6-9; dan 4:12, 17-18. Namun apakah Matius 5:48, menegaskan bahwa orang-orang Kristen harus mencapai suatu tingkat kehidupan yang sempurna di dalam segala aspeknya dalam hidup ini? Apakah yang dimaksudkan dengan “sempurna” dalam teks ini?. Sempurna dalam hal apa? Inilah yang menjadi masalah penelitian

Pengaruh Publisher Blog dan Blogspot terhadap Teknologi Informasi Pendidikan Agama Kristen

Para blogger dari berbagai kalangan, entah itu pemula, menengah dan tingkat mahir sudah mengenal apa itu publisher di blog. Publisher dalam dunia blog adalah pemilik blog yang mendaftar pada sebuah website atau beberapa website yang menyediakan program “publisher” atau “penerbit” iklan. Iklan yang diterbitkan di blog merupakan iklan yang disediakan oleh pemilik produk yang hendak mempromosikan produknya secara online melalui pemilik website yang menyediakan program menerbitkan publisher dan Advertizer. Berdasarkan pemilik produk yang mendaftarkan iklan produknya di website penyedia layanan publisher maka pemilik blog yang mendaftar jadi publisher dan telah disetujui permohonannya maka pemilik blog selanjutnya menjadi penerbit iklan di blog dengan cara kopi kode iklan dan menempatkan di salah satu halaman atau bilah blog. Kode iklan tersebut dapat dimasukan dalam javascrip atau halaman blog yang memuat satu atau beberapa postingan. Berdasarkan iklan yang muncul dalam blog dan diklik oleh pengunjung maka hasil dari klik tersebut akan dihargai oleh pemilik website penyedia layanan publisher dengan nominal tertentu yang dijadikan sebagai hadiah. Dari sinilah pemilik blog mendapat uang. Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa ada kerja sama antara pemilik blog dengan penyedia layanan program publisher. Kerja sama ini tentunya saling menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu pemilik produk juga mendapat keuntungan yaitu produknya dipromosikan dan mulai dikenal pengunjung. Bila terjadi pembelian maka tiga pihak saling menguntungkan. Jadi, publisher di blog adalah pemilik blog yang telah mendaftar menjadi publisher pada penyedia layanan program publisher atau penerbit iklan yang menyetujui untuk pemilik blog dapat menerbitkan iklan di blognya. Bila terjadi klik oleh pengunjung maka terjadi keuntungan bagi pemilik blog, penyedia program publisher dan pemilik produk. Disini mulai terjadi pengaruh. Pengaruhnya yaitu pengunjung mengklik iklan dan pemilik blog mendapat keuntungan, demikian pula penyedia layanan publisher dan pemilik produk. Blogspot. Blogspot adalah salah satu blog gratis yang pengaruhnya sudah mendunia. Semua kalangan sudah, sedang dan akan menggunakan blogspot. Blogspot sangat mudah untuk digunakan, tidak terlalu sulit dalam memanfaatkan blogspot untuk publikasi tulisan maupun produk-produk tertentu. Keunggulan blogspot adalah sudah menyatu dengan google. Selain itu fasilitas lain seperti email dari gmail.com juga sudah terintegrasi dengan google. Google adalah mesin pencari online yang sudah mempengaruhi dunia. Google tidak asing lagi.Oleh karena popularitasnya maka postingan melalui blogspot cepat terindeks oleh google. Terlebih lagi jika memakai fasilitas google+ Kehadiran blogspot yang ditunjang dengan berbagai fasilitas membuat blogspot punya pengaruh dalam dunia online, khususnya dalam teknologi informasi. Blogspot adalah salah satu alat teknologi. Melalui blogspot, komunitas Pendidikan Agama Kristen dapat menyampaikan pesan yang berupa pelajaran-pelajaran keagamaan maupun informasi-informasi lainnya yang bersifat positif. Informasi yang disampaikan melalui blogspot dengan cepat diketahui di seluruh dunia. Kemudahan ini karena internet. Internet adalah terkoneksinya satu komputer dengan komputer lain diseluruh dunia melalui koneksi internet. Jadi teknologi informasi PAK dalam pembahasan ini yakni berbagai alat yang dapat dijadikan sebagai media menyampaikan informasi. Dengan kata lain alat yang menyampaikan informasi. Alat itu antara lain: blogspot, email, jaringan sinyal dan lain-lain. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara publisher Blog, Blogspot terhadap Teknologi Informasi Pendidikan Agama Kristen. Semakin sukses menjadi publisher di blogspot maka semakin baik pula peningkatan informasi PAK melalui teknologi blogspot. Demikian juga dengan blogspot. Semakin baik menguasai blogspot dan menggunakannya untuk menyampaikan informasi Pendidikan Kristen maka semakin berkembang informasi Pendidikan Kristen. Semoga berguna bagi yang mencari masalah penelitian mahasiswa

Monday, May 2, 2016

Teori Kompetensi Mengajar

Salah satu teori kompetensi mengajar adalah Kompetensi Paedagogik. Postingan ini diambil dari disertasi Yonas Muanley tentang efektivitas proses pembelajaran. Salah satu variabel bebas adalah kompetensi Paedagogi. Apa itu kompetensi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kompetensi diartikan kewenangan atau kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu. Pengertian dasar dari kata kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan. Dalam teori kompetensi mengajar, kata kompetensi mempunyai banyak makna sebagaimana teori-teori kompetensi mengajar yang dikutip oleh Moh Uzer Uzman dengan memaparkan beberapa definisi kompetensi dari tokoh-tokoh pendidik seperti: (1) Broke dan Stone: Descriptitive of qualitive nature or teacher behavior appears to be entirely meaningful (kompetensi adalah perwujudan/gambaran hakikat mutu dari perilaku guru/dosen yang tampak sangat berarti. (2) Charles E. Johnson: Competensi as a rational performance wich satisfactorily meets the objective for a desired condition (Kompetensi adalah perilaku rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan); (3) Mc. Leod: State of legally competent or cualified (keadaan berwewenang atau memenuhi syarat menuntut ketentuan hukum). Selain itu kompetensi mengajar dosen dapat juga diartikan kemampuan seorang dosen dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggungjawab dan layak. Dengan demikian dapat disimpulkan, kompetensi adalah kemampuan dan kewenangan dosen dalam melaksanakan profesi (keahlian) kependidikan. Searah dengan pembahasan di atas, menurut Spencer kompetensi adalah sejumlah karakteristik tersembunyi dari seorang dosen yang berhubungan secara kausal dengan acuan kriteria efektifitas atau kinerja unggul dalam sebuah pekerjaan atau situasi. “Karakteristik tersembunyi” dalam definisi ini mempunyai makna kompetensi merupakan kepribadian seseorang yang secara internal terletak dalam dan terus menerus hadir dalam diri setiap orang sehingga dapat memprediksi perilakunya dalam beragam situasi dan pelaksanaan tugas. Sedangkan istilah “berhubungan secara kausal” dapat diartikan, kompetensi menyebabkan atau memprediksi perilaku atau kinerja. Sementara istilah “acuan criteria” berarti kompetensi dapat memprediksi siapa yang akan berhasil atau gagal jika diukur dengan standar tertentu dalam sebuah pekerjaan atau situasi. Mengajar. Di atas telah dijelaskan tentang kompetensi. Kompetensi itu tentunya dalam hubungannya dengan konteks mengajar. Penegasan ini penting karena kata kompetensi dapat dikenakan pada kegiatan terstruktur lainnya di luar bidang pendidikan. Dengan demikian pemaknaan kata mengajar perlulah diutarakan disini. Kata mengajar dalam teori mengajar juga diartikan secara beragam. Keragaman definisi itu telah dibahas dalam pembahasan terdahulu (lihat variable terikat). Disini hanya dikemukakan suatu definisi yang merupakan kesimpulan dari berbagai definisi tentang mengajar. Mengajar adalah mengorganisasi dan melaksanakan pembelajaran kepada nara didik untuk mencapai perubahan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan definisi ini, kata kompetensi mengajar dosen dapat dirumuskan sebagai berikut. Kompetensi mengajar dosen adalah sejumlah atau seperangkat pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan atau relasi pribadi dengan Tuhan yang dimiliki dosen yang dapat membawanya kepada situasi pengajaran. Jadi menurut definisi ini, kompetensi yang harus dimiliki dosen yaitu sejumlah kemampuan pengetahuan yang akan diajarkan; kemampuan untuk mentransfer pengetahuan tersebut dan intensitas relasi pribadi dengan Tuhan yang menopang dalam situasi pembelajaran. Konsekwensi logis dari pemahaman ini mengisyaratkan bahwa seorang dosen di STT adalah: (1) seorang yang menguasai materi kuliah yang diajarkannya; (2) mengerti atau menguasai metode dan tehnik atau strategi pembelajaran. Dengan kata lain seorang dosen harus menguasai penggunaan prosedur pembelajaran yang dipakainya.; dan (3) memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk memberikan pelajaran yang akan diajarkan dalam pola-pola tertentu; (4) memiliki relasi yang harmonis dengan Tuhan yang olehnya memberi dorongan yang bermanfaat untuk melaksanakan tugas pembelajaran. Bagian keempat ini sebenarnya harus menjadi bagian utama dalam kompetensi mengajar dosen. Sebab tanpa relasi yang harmonis dengan Tuhan maka pembelajaran tidak dilaksanakan secara baik. Selain itu kata kompetensi mengajar dosen diartikan kemampuan seorang dosen dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggungjawab dan layak. Selanjutnya Menurut Moh Uzer Uzman, kompetensi mengajar dosen meliputi: (1) kemampuan menyiapkan lingkungan belajar yang jelas dan dapat saling memahami; (2) mengusahakan keterlibatan mahasiswa secara aktif; (3) memperhatikan perbedaan belajar mahasiswa; (4) membantu mahasiswa untuk mengetahui hasil belajarnya; (5) melibatkan diri dalam pengembangan diri. Lima kategori kompetensi mengajar dosen sebagaimana yang dijelskan di atas, kompetensi pertama terdiri atas: (1) mengetahui isi pelajaran dan hubungannya dengan tujuan pendidikan; (2) memahami hubungan antara proses mendapatkan dan isi pengetahuan; (3) memahami bagaimana mahasiswa memahami perkembangan belajar; (4) aktif dalam mengembangkan dan menerapkan pengetahuan profesional; (5) melaksanakan tugas berdasarkan nilai-nilai etika lingkungan; (6) melaksanakan tugas berdasarkan kerangka acuan hukum dan peraturan; (7) menghargai keberagaman semua mahasiswa memiliki hak untuk belajar. Kompetensi kedua terdiri atas: (1) berkomunikasi secara efektif dengan mahasiswa; (2) mengembangkan hubungan pelajaran; 3) memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran ; (4) memilih dan mengembangkan media pembelajaran yang sesuai; (5) memilih dan memanfaatkan sumber belajar. Kompetensi ketiga yaitu melaksanakan program pengajaran terbagi atas atas: (1) menciptakan iklim belajar-mengajar yang tepat ; (2) mengatur atau memanejemen ruang belajar; (3) mengelola interaksi belajar-mengajar. Kompetensi terakhir yaitu kompetensi menilai hasil dan proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan dapat diuraikan kedalam : (1) menilai prestasi mahasiswa untuk kepentingan pengajaran dan (2) menilai proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan . Selain pemaparan kompetensi di atas, Gulo mengutip 10 profil kompetensi mengajar dari pedoman pelaksanaan pola pembaharuan sistem pendidikan tenaga kependidikan (P4PTK). Kesepuluh profil kompetensi mengajar dosen yang dimaksudkan itu adalah: (1) Seorang dosen harus menguasai bahan pengajaran; (2) mampu mengelola program belajar-mngajar; (3) mampu mengelola kelas; (4) mampu menggunakan media/sumber belajar; (5) menguasai landasan-landasan kependidikan; (6) (mengelola interaksi belajar-mengajar; (7) menilai prestasi nara didik untuk kepentingan pengajaran.; (8) mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan (9) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah; Memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian; (10) memahami dan menafsirkan hasil-hasil dari penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. Kompetensi menguasai pengelolaan program belajar-mengajar menyangkut kemampuan dosen merumuskan tujuan pembelajaran (Instruksional), menguasai dan menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut, memilih dan menyusun prosedur pembelajaran yang tepat, melaksanakan program belajar-mengajar, mengenal kemampuan awal (entering behavior) anak didik, merencanakan dan melaksana program remedial. Kompetensi pelaksanaan di dalam kelas atau kompetensi mengelola kelas yaitu kemampuan dosen menata ruang kelas untuk pengajaran dan menciptakan iklim belajar-mengajar yang kondusif. Setelah terpenuhi bagian kompetensi ini, selanjutnya kompetensi menggunakan media pembelajaran, yaitu dosen mampu: (1) mengenal, memilih, dan menggunakan media pembelajaran, menggunakan alat bantu pelajaran yang sederhana seperti: Atlas, Globe, dan media lain; (2) membuat alat-alat bantu pengajaran yang sederhana; (3) menggunakan perpustakaan dalam proses pembelajaran; (4) menggunakan microteaching untuk meningkatkan pengalaman dosen dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran (belajar-mengajar). Kompetensi berikutnya yaitu menguasai landasan-landasan kependidikan, terikat dengan pemahaman tentang psikologi kependidikan agar proses informasi yang disampaikan kepada mahasiswa dapat ditransfer secara lebih efektif. Kompetensi mengelola interaksi belajar-mengajar merupakan kompetensi mengorganisasi lingkungan belajar agar interaksi yang terjalin antara dosen dan mahasiswa berlangsung dengan baik. Kompetensi menilai prestasi mahasiswa untuk pengajaran merupakan kompetensi untuk mengukur dan menafsirkan pencapaian mahasiswa terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Menurut Lorin W. Anderson, kompetensi menguasai landasan pendidikan terdiri atas: (1) mengenal tujuan pendidikan demi mencapai tujuan pendidikan nasional; (2) mengenal fungsi sekolah dan masyarakat; (3) mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Selanjutnya menguasai bahan pelajaran dapat diukur dari: (1) penguasaan bahan pengajaran kurikulum standar Nasional; (2) penguasaan bahan pengayaan. Sedangkan penyusunan program pengajaran mencakup: (1) menetapkan tujuan pembelajaran; (2) memilih dan mengembangkan bahan durasi penanganan kelas; (3) tujuan kurikulum serta cakupan dan uraiannya; (4) memiliki buku teks; (5) persyaratan untuk melalui seperangkat tes yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga pendidikan pemberi kerja mengajar bahan pengayaan. (3) Menyusun program tujuan pengajaran yaitu menetapkan tujuan pembelajaran, memilih dan mengembangkan bahan durasi penanganan kelas, tujuan kurikulum, cakupan dan uraiannya, buku teks, persyaratan untuk melalui seperangkat tes yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga pendidikan swasta. Seperangkat kemampuan mengajar dosen yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh dosen dalam melaksanakan tugas mengajar. Kemampuan ini diperoleh melalui studi formal. Selanjutnya diperlukan kemampuan beradaptasi dengan birokrasi yang ada dalam rangka pembinaan karin dosen.

Tuesday, April 26, 2016

Korelasi sebelas variabel yang berkontribusi bagi efektivitas proses pembelajaran PAK

Saya memposting topik ini tidak hanya sifat pribadi semata tetapi ingin berkontribusi dalam memberi masukan kepada Sekolah Tinggi Teologi di Indonesia dalam hal Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Inilah motivasi saya. Berdasar pada motivasi mulia itu, siang ini saya mendisain 11 variabel bebas atau (X) yang memberi pengaruh terhadap proses Pendidikan Agama Kristen yang dilaksanakan secara formal di sekolah dan di Perguruan Tinggi. Berikut Disain variabel tersebut. PENGARUH X1 Pendekatan Pembelajaran Kontekstual. X2 Pendekatan Pembelajaran Rekonstruksi. X3 Pendekatan Pembelajaran Nativisme. X4 Pendekatan Pembelajaran Empiris. X5 Pendekatan Pembelajaran Konfergensi. X6 Pendekatan Pembelajaran “Kogito Ergo Sum". X7 Pendekatan Pembelajaran “Aku Tahu Baru Percaya” X8 Pendekatan Pembelajaran “Aku Percaya Baru Mengerti” X9 Pendekatan Pembelajaran “Aku Menerima Perasaan maka Aku Ada” X10 Pendekatan Pembelajaran “Dimana ada sinyal Internet” X 11GoBlog Mobile Hp Terhadap Efektivitas Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Jadi bila disain di atas disusun dalam bentuk rumusan judul penelitian Disertasi maka hasil rumusannya menjadi seperti ini: PENGARUH Pendekatan Pembelajaran Kontekstual,Pendekatan Pembelajaran Rekonstruksi, Pendekatan Pembelajaran Nativisme, Pendekatan Pembelajaran Empiris, Pendekatan Pembelajaran Konfergensi, Pendekatan Pembelajaran “Kogito Ergo Sum”, Pendekatan Pembelajaran “Aku Tahu Baru Percaya”, Pendekatan Pembelajaran “Aku Percaya Baru Mengerti”, Pendekatan Pembelajaran “Aku Menerima Perasaan maka Aku Ada”, Pendekatan Pembelajaran “Dimana ada sinyal Internet”, Go-Blog Mobile Hp Terhadap Efektivitas Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di SMP Sola Gratia, SMP Zion, SMP Harapan Bunda,Harapan Kekekalan. Selanjunta penelitian di atas dapat dilakukan dalam pendekatan Metodologi Kuantitatif dan Kualitatif dengan Krangka penelitian sbb: Krangka Kuantitatif BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah. B. Identifikasi Masalah. C. Batasan Masalah. D. Rumusan Masalah. E. Tujuan Penelitian. F. Pentingnya Penelitian.
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. A. Kajian Teoritis 1. Hakikat Variabel Y 2. Hakikat Variabel X1 3. Hakikat Variabel X2 4. Hakikat Variabel X3 5. Hakikat Variabel X4 6. Hakikat Variabel X5 7. Hakikat Varibel X6 8. Hakikat Variabel X7 9. Hakikat Varibel X8 10. Hakikat Variabel X9 11. Hakikat Variabel X10 12. Hakikat Variabel X11 B. Kerangka Berpiki. 1. Uraian dari rumusan masalah pertama. 2. Uraian dari rumusan masalah kedua. 3. Uraian dari rumusan masalah ketiga. 4. Uraian dari rumusan masalah keempat. 5. Uraian dari rumusan masalah kelima. 6. Uraian dari rumusan masalah keenam. 7. Uraian dari rumusan masalah ketujuh. 8. Uraian dari rumusan masalah kedelapan. 9. Uraian dari rumusan masalah kesembilan. 10. Uraian dari rumusan masalah kesepuluh. 11. Uraian dari rumusan masalah kesebelas. C. Hipotesis BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan lokasi penelitian B. Jenis Penelitian C. Populasi D. Tehnik Sampling E. Besar Sampel F. Variabel Penelitian G. Hubungan antar varibel atau disain variabel penelitian H. Teknik pengumpulan data I.Instrumen Penelitian J. Teknik Analisa Data BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Deskripsi Data 1. Variabel Y 2. Variabel X1 3. Variabel X2 4. Variabel X3 5. Variabel X4 6. Variabel X5 7. Varibel X6 8. Variabel X7 9. Varibel X8 10. Variabel X9 11. Variabel X10 12. Variabel X11 B. Uji Persyaratan Analisis C. Uji Hipotesis BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan B. Implikasi C. Saran 1. Saran Praktis 2. Saran Penelitian Lanjutan 3. dll
KRANGKA PENELITIAN KUALITATIF (Penelitian menemukan teori) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Fokus Penelitian D. Rumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Pentingnya Penelitian
BAB II KAJIAN TEORI
A. Efektifvitas Proses Pembelajaran PAK B. Pembelajaran Kontekstual C. Pendekatan Pembelajaran Rekonstruksi D. Pendekatan Pembelajaran Nativisme E. Pendekatan Pembelajaran Empiris F. Pendekatan Pembelajaran Konfergensi G. Pendekatan Pembelajaran “Kogito Ergo Sum” H. Pendekatan Pembelajaran “Aku Tahu Baru Percaya” I. Pendekatan Pembelajaran “Aku Percaya Baru Mengerti” K. Pendekatan Pembelajaran “Aku Menerima Perasaan maka Aku Ada” L. Pendekatan Pembelajaran “Dimana ada sinyal Internet” BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode penelitian B. Langkah-langkah Penelitian C. Tempat Penelitian D. Informan dan Sampel D. Tehnik Pengumpulan Data E. Analisa Data Kualitatif F. Pengujian Kredibilitas Data G. Temuan Hipotesis H. Teknik pengumpulan data I. Instrumen Penelitian J. Teknik Analisa Data BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Hasil Penelitian B. Pembahasan BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan B. Implikasi C. Saran 1. Saran Praktis 2. Saran Penelitian Lanjutan 3. dll Beberapa penjelasan: Penelitian Kuantitatif bertujuan menuji teori maka dalam kerangka penelitian kualitatif terdapat Hipotesis, sedangkan penelitian kualitatif bertujuan menemukan teori. Oleh karena itu maka dalam kerangka Bab III tidak ada Hipotesis, penelitian kualitatif berusaha menemukan teori. Pengertian Kerangka Berpikir.
Pengertian Kerangka Berpikir adalah penjelasan sementara terhadap suatu gejala yang menjadi objek permasalahan yang diteliti. Kerangka berpikir iini disusun dengan berdasarkan pada tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan atau terkait. Kerangka berpikir ini merupakan suatu argumentasi penulis yang akan menghantar pada perumuskan hipotesis. Dalam merumuskan suatu hipotesis, argumentasi kerangka berpikir menggunakan logika deduktif (untuk metode kuantitatif) dengan memakai pengetahuan ilmiah sebagai premis premis dasarnya.
Kerangka berpikir merupakan buatan penulis, bukan dari pendapat orang lain. Dalam hal ini, bagaimana cara kita berargumentasi dalam merumuskan hipotesis. Argumentasi itu harus membangun kerangka berpikir yang merujuk pada pernyataan-pernyataan yang disusun sebelumnya. Dalam hal menyusun suatu kerangka berpikir, sangat diperlukan argumentasi ilmiah yang dipilih dari teori-teori yang relevan atau saling terkait. Agar argumentasi kita diterima oleh sesama ilmuwan, kerangka berpikir harus disusun secara logis dan sistematis. Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan peda kerangka berpikir Kerangka berpikir yang meyakinkan hendaklah memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut.

1. Teori yang digunakan dalam berargumentasi hendaknya dikuasai sepenuhnya serta mengikuti perkembangan teori yang muktahir.
2. Analisis filsafat dari teori-teori keilmuan yang diarahkan kepada cara berpikir keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut harus disebutkan secara tersurat semua asumsi, prinsip atau postulat yang mendasarinya.
Penyusunan kerangka berpikir dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan ini akhirnya melahirkan suatu kesimpulan. Kesimpulan tersebut yang menjadi rumusan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap pemecahan masalah penelitian kita.

Contoh Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika (Y). Kerangka logis hubungan antara variable-variabel tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen dengan Efektivitas Proses Pembelajaran kelompok Mata Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari tesis Yonas Muanley)

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kompetensi mengajar dosen merupakan bagian integral yang menyatu dalam diri dosen untuk melaksanakan tugas mengajar sehingga kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif.
Jika ditarik ke dalam konteks penelitian ini, para dosen yang menghendaki terjadinya proses pembelajaran yang efektif hendaknya memiliki sejumlah kompetensi yang dipersyaratkan. Dalam hal ini kompetensi mengajar dosen merupakan seperangkat karakteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya mencapai tujuan pembelajaran yang dialami mahasiswa. Karakteristik tersebut cendrung tidak tampak secara nyata, namun dapat diamati secara berkesinambungan. Sesuai dengan persyaratan atau ketetapan yang telah dinyatakan sebelumnya, terdapat 10 karakteristik kompetensi mengajar dosen. Dengan memiliki karakteristik-karakteristik kompetensi mengajar tersebut, besar kemungkinan dosen akan dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif. Alasannya adalah bahwa karakteristik-karakteristik ini merupakan modal dasar yang memungkinkan seorang dosen akan melaksanakan tugas mengajar secara efektif.
Jika faktor kompetensi ini dikaitkan dengan efektifitas proses pembelajaran maka kemampuan tersebut akan membuat seorang dosen mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa makin tinggi kompetensi yang dimiliki dosen maka besar pula kecendrungan untuk mencapai efektifitas proses pembelajaran. Jadi semakin baik kompetensi yang dimiliki dosen semakin baik pula mencapai tujuan pembelajaran
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas proses pembelajaran (pencapai tujuan pembelajaran). Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektivitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.

1. Hubungan Motivasi Berprestasi Dosen dengan Efektifitas Proses Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari tesis Yonas Muanley)

Motivasi berprestasi merupakan keinginan dan kecendrungan seorang dosen untuk melaksanakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, baik oleh dosen itu sendiri maupun oleh lembaga atau pihak lain. Dorongan ini terjadi secara internal dan merupakan dinamika atau daya pendorong bagi setiap dosen, secara khusus dosen historika untuk mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan yang bersifat material yang akan diterimanya atau diberikan oleh lingkungan di mana ia bekerja.
Apa yang dikatakan di atas menegaskan bahwa dosen historika yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain, memilih tugas yang tingkat kesulitannya cukup menantang atau cukup moderat dan lebih tertarik kepada pencapaian pribadi atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin berhasil dalam situasi persaingan. Dengan kata lain semakin tinggi motivasi berprestasi, semakin tinggi hasrat dan kecendrungan seorang dosen mengerjakan pekerjaan mengajar sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, motivasi berprestasi merupakan daya pendorong yang mendasar bagi setiap dosen untuk melaksanakan tugas mengajar sebaikmungkin, tanpa mengharapkan imbalan-imbalan eksternal yang mungkin akan diperolehnya jika berhasil.
Dosen yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cendrung untuk selalu berusaha unggul, memiliki kecendrungan memilih tugas mengajar yang tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dari pada imbalan yang diperoleh atas keberhasilannya, lebih tertarik pada situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin. Ingin lebih berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianngap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik.
2. Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen, Motivasi Berprestasi Secara Bersama-sama dengan Efektifitas Proses Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah Historika di Sekolah Tinggi Theologia .......... (diambil dari Tesis Yonas Muanley)

Kompetensi mengajar diartikan seperangkat karekteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya melakukan transfer pengetahuan kepada para mahasiswa dan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki mahasiswa tersebut secara lebih optimal dalam arti untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Karakteristik tersebut terkait erat dengan kemampuan mentransfer pengetahuan dan membimbing peserta didik sehingga peserta didik dapat memahami fenomena dirinya dan lingkungannya. Dengan memiliki karakteristik-karakteristik ini, maka diyakini seorang dosen akan dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar dan sekaligus pendidik karena karakteristik-karakteristik tersebut merupakan modal dasar yang mutlak dimiliki seorang dosen agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Seperti yang diuraikan sebelumnya, untuk melaksanakan tugas mengajar maka seorang dosen harus memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam kompetensi mengajar dosen atau persyaratan profesionalisme dosen. Salah satu dari persyaratan tersebut adalah memiliki ijazah pendidikan keguruan yang formal atau memiliki akta mengajar. Dengan demikian orang yang menjadi dosen telah dipersiapkan terlebih dahulu melalui pendidikan formal. Selain itu dosen harus terus menerus belajar melalui literature atau sumber-sumber yang terkini tentang aspek-aspek pengajaran sehingga ia terus menerus melengkapi diri dengan kemampuan mengajar. Inilah yang disebut kompetensi menghajar dosen.
Pernyataan terakhir menegaskan bahwa upaya peningkatan kompetensi mengajar dosen setelah melakukan tugas mengajar pada dasarnya terletak pada diri dosen yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena ketika dosen melakukan tugas mengajar mungkin ia tidak ada yang membimbingnya dalam arti ia harus berusaha mengajar tanpa ada dosen senior yang mendampinginya oleh karena itu pengembangan kemampuan mengajar dosen berpulang pada diri dosen tersebut. Jadi salah satu alternatif yang dinilai efektif meningkatkan kompetensi mengajar dosen ini terletak pada diri dosen.
Selain kompetensi yang diuraikan diatas, motivasi berprestasi merupakan hasrat dan kecendrungan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh individu itu sendiri maupun oleh orang lain. Ini terjadi secara internal dan merupakan daya pendorong bagi setiap individu untuk mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan yang bersifat material yang mungkin diberikan oleh lingkungan eksternalnya.
Orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain sehingga tugas yang dipilihnya tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dan situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin lebih berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianggap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik.
Sementara efektifitas proses pembelajaran adalah kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan.
Efektifitas proses pembelajaran tidak lain adalah membandingkan antara hasil atau prestasi yang diperoleh dengan tujuan atau pencapaian tujuan. Ini berarti efektifitas menitikberatkan pada pencapaian tujuan atau hasil yaitu membuat sesuatu yang benar didalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Disini efektifitas proses pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran.
Efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen menolong mahasiswa dengan prosedur pembelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan.
Pencapaian tujuan pembelajaran dalam diri mahasiswa meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), perubahan kemauan (konatif) dan ketrampilan (psikomorik) serta psikospritual (= kemapuan rohani/relasi dengan Tuhan/pertumbuhan rohani. Psikospritual = tambahan untuk perubahan yang diharapkan dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi Teologi Jurusan Teologi dan PAK Teologi Jurusan Teologi dan jurusan lainnya yang dikenal dalam lingkungan Sekolah Tinggi Teologi).
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan yang positif antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dan motivasi berprestasi dosen, maka makin tinggi pula efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
Penilaian terhadap efektifitas proses pembelajaran dalam penilitian ini dapat dilakukan oleh mahasiswa, dan untuk menjaga objektivitas data yang diberikan maka dalam penelitian ini juga akan diterapkan tehnik penilaian hal yang sama. Dan untuk membantu mahasiswa dalam memberikan penilaiannya, instrumen pengukur yang digunakan dalam penelitian ini disusun dalam bentuk angket dengan tehnik skala berjenjang (ranting scale)

Contoh Perumusan Hipotesis Penelitian (dari tesis Yonas Muanley)

Sesuai dengan kerangka pikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
(1) Terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
(2) Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dosen dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi motivasi berprestasi dosen, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
(3) Terdapat hubungan positif kompetensi mengajar dosen, dan motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, semakin tinggi kompetensi mengajar dosen dan motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.

Efektivitas Proses Pembelajaran Agama Kristen

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu dari frasa “effective” yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata efektifitas mempunyai beberapa pengertian yaitu, akibatnya, pengaruh dan kesan, manjur, dapat membawa hasil.(KBI) Sedangkan dalam kamus Ilmiah Populer, efektivitas adalah ketepat gunaan, hasil guna, menunjang tujuan.
Bemard menyatakan bahwa efektivitas organisasi merupakan kemahiran dalam sasaran spesifik dari organisasi yang bersifat objektif (“if it accomplished its specific objective aim”). Selanjutnya Schein dalam bukunya “organizational Psychology mendefinisikan efektivitas organisasi sebagai kemampuan untuk bertahan, menyesuaikan diri, memelihara diri dan juga bertumbuh, lepas dari fungsi-fungsi tertentu yang dimiliki oleh organisasi tersebut.(Widodo, 2002)
Frasa efektivitas dapat dipahami dalam pengertian tercapainya sebuah keberhasilan atau pencapaian tujuan. Efektivitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas (hasil) yaitu mengarah pada pencapaian unjuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah dicapai. Di mana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Menurut Yusufhadi Miarso, efektivitas pembelajaran adalah yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para peserta didik atau siswa, melalui prosedur pembelajaran yang tepat. Jadi, menurut definisi ini efektivitas pembelajaran dikenali dari tercapainya tujuan pembelajaran. (Yusufhadi Miarso, 2004)
Selain itu, Astim Riyanto menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran diartikan berhasil guna atau tepat guna, Definisi ini menegaskan efektifitas pembelajaran dalam dua indicator penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan guru. Menurut Gaff dalam Miarso pembelajaran yang efektif meliputi bagaimana membantu peserta didik atau siswa-siswi untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dalam hal ini efektivitas adalah membandingkan antara hasil belajar yang diperoleh dengan tujuan yang telah ditetapkan. Jika tujuan tercapai maka tercapai pula efektivitas. Efektivitas pembelajaran ditandai dengan indikator:

Pertama, kemampuan mengorganisir bahan pelajaran secara baik. Bagian penting yang perlu ada dalam mengorganisasi materi pelajaran adalah merumusan tujuan pembelajaran. Tujuan ini kini disebut dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, pemilihan bahan pelajaran, kegiatan kelas, pemberian tugas, dan penilaian. Pokok-pokok inilah yang mesti ada dalam komponen proses pembelajaran yang efektif. Pengorganisasian bahan pelajaran adalah kewenangan guru. Maka yang dapat menilai baik atau tidaknya pengorganisasian materi pelajaran adalah para sejawat dalam bidang studi yang bersangkutan, atau ketua program studi, dan siswa. Siswa yang mengikuti pelajaran guru dapat menilai guru dengan cukup tepat. Misalnya siswa dapat menilai: apakah guru menyajikan bahan pelajaran di dalam cara teratur; apakah guru telah mempersiapkan diri untuk kelasnya, apakah guru telah menjelaskan pokok yang perlu dipelajari, dan apakahbahan ajar itu memungkinkan untuk dapat diikuti dengan baik.
Kedua Kemampuan berkomunikasi secara efektif. Aspek-aspek yang berkait dengan komunikasi secara efektif dalam pembelajaran pada bagian ini meliputi: strategi dan metode mengajar, pemakaian media untuk menarik perhatian mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Selain itu penyajian yang jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh, kemampuan wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi guru), dan kemampuan untuk mendengarkan siswa.
Ketiga, Kemampuan dalam Penguasaan dan antusiasme dalam mata pelajaran. Seorang guru dituntut mengetahui materi pelajarannya dengan baik, agar mudah mengorganisirnya secara sistematis dan logis. Guru mampu menghubungkan isi pelajarannya dengan apa yang telah diketahui siswa.
Keempat, kemampuan dalam bersikap positif terhadap peserta didik. Sikap positif terhadap siswa dilakukan melalui cara-cara seperti: Apakah guru memberi bantuan jika siswa mengalami kesulitan dengan bahan pelajaran. Apakah guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan atau memberi pendapat, Apakah guru dapat dihubungi siswa di luar kelas, Apakah guru peduli terhadap apa yang dipelajari oleh siswa.
Kelima, Kemampuan memberi ujian dan nilai yang adil. Sejak awal pelajaran siswa harus mendapat informasi tentang: sistem penilaian yang akan mereka peroleh, seperti: kehadiran mereka dalam kelas, tugas-tugas yang akan dikerjakan, ujian tengah semester dan akhir semester.
Keenam, Kemampuan dalam kesesuaian soal ujian dengan bahan pelajaran yaitu pembuatan soal yang konsisten dengan indicator-indikator dari setiap kompetensi dasar yang telah dibuatnya sebagaimana yang ada dalam kontrak dan silabus serta satuan acara pembelajaran. Kesesuaian soal ujian dengan bahan pelajaran yang diberikan merupakan salah satu indicator keadilan dalam ujian.
Ketujuh, Hasil belajar siswa yang yang baik. Pelajaran yang diberi kepada siswa diarahkan untuk tercapainya perubahan pada tiga ranah yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pedoman yang harus dipegang adalah hasil belajar mahasiswa harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dimaksud dapat berupa perubahan tiga ranah di atas.

Monday, April 25, 2016

Pemanfaatan Free Weblog Sebagai Bahan Ajar Online Pendidikan Agama Kristen

Postingan ini merupakan variabel bebas ke 4 (X4) dari penelitian disertasi Yonas Muanley. Untuk keperluan postingan ini maka saya sederhanakan. Penyederhanaan ini dimaksudkan untuk tidak membosankan pengunjung blog dalam berinteraksi dengan isi postingan yang terlampau panjang. Berdasarkan pemahaman ini saya masuk dalam pembahasan singkat tentang judul postingan di atas. Zaman Yesus dan zaman kini berbeda, teknologi pada zaman Yesus dengan teknologi pada zaman kini berbeda. Yesus pada waktu melaksanakan tugas mengajar tidak mengabaikan teknologi, walaupun teknologinya sederhana yaitu perahu. Yesus memakai perahu untuk mengajar. Yesus Kristus diutus oleh Bapa untuk misi menyelamatan manusia berdosa. Dalam menjalankan tugas misi itu, Yesus menempuhnya dengan mengajar. Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama dengan memperkenalkan tujuan instruksional pengajaran, yaitu “mampu menjadi penjala manusia” (Mat. 4: 19…). Berdasarkan tujuan instruksional itu, Yesus juga memilih setting instruksional, seperti memilih bahan instruksional (misalnya ucapan atau isi bahagia yang disampaikan melalui khotbah Yesus di Bukit) tempat instruksional (misalnya mengajar di bukit), menggunakan media instruksional, yaitu Yesus mengajar orang banyak di atas perahu(Luk. 5:3), melakukan doa instruksional (salah satunya adalah doa Bapa Kami), dan aspek lain yang berkaitan dengan mengajar. Berdasarkan informasi awal ini jelas menunjukkan bahwa ada disain instruksional pengajaran dengan berbagai komponen yang menunjang untuk tercapai tujuan instrusional yang telah Yesus tetapkan seperti dalam Injil Matius 4:19. Salah satu komponen yang Yesus pakai untuk mencapai tujuan instruksional adalah media instruksional, khususnya pada peristiwa Yesus mengajar orang banyak dari atas perahu. Perahu hanyalah sebuah media atau alat untuk menyampaikan informasi (pengajaran). Pada media yang sama, murid-murid-Nya dapat memakainya untuk menangkap ikan. Jadi, satu media dapat dipakai untuk banyak tujuan instruksional. Hal yang menarik penulis untuk mengadakan penelitian ini, yakni perkembangan alat teknologi pada zaman Yesus dengan zaman sekarang tentunya sangat berbeda. Bila pada zaman dulu, Yesus memilih perahu untuk mengajar orang banyak maka sekarang ada banyak fasilitas teknologi, mulai dari sederhana sampai teknologi informasi canggih, khususnya internet dengan berbagai fasilitas yang tersedia pada internet untuk kepentingan informasi. Perkembangan ilmu dan teknologi yang merupakan hasil dari pendidikan terhadap manusia muda, membawa dampak perubahan yang sangat besar, salah satunya adalah ditemukannya internet oleh Departemen Pertahanan Amerika pada tahun 1969..Penemuan ini membawa perkembangan baru. Sejak ditemukan internet, internet hanya terbatas pada negara-negara tertentu dan untuk bidang-bidang tertentu. Akan tetapi sesuai perkembangan zaman maka internet mulai dibutuhkan di berbagai bidang kehidupan manusia. Salah satunya yaitu dalam dunia Pendidikan. Internet merupakan koneksi antara satu komputer dengan komputer lain di seluruh dunia. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1.000 komputer. Pada tahun 1987, jumlah computer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat menjadi 10.000 lebih. Pada tahun 1988, jarko Oikarinen dari Finlandia menemukan dan memperkenalkan IRC (Internet Relay Chat). Tahun 1989 jumlah computer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat, sehingga diperkirakan pada tahun 1989, sudah tercapai 100.000 komputer yang saling terhubung atau membentuk jaringan. Tahun 1990 merupakan tahun yang bersejarah, yaitu ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu computer dengan computer lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program ini kemudian disebut www (world wide web). Pada tahun 1992, computer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta computer dan di tahun yang sama muncul istilah surving the internet. Tahun 1994, situs internet telah berkembang menjadi 3.000 alamat halaman dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia langsung berubah. Di tahun 1994, Yahoo! Didirikan, yang juga sekaligus kelahiran Netscape Navigator 1.0 Perkembangan Tehnologi Informasi dan Internet sebagaimana yang dimaksud di atas, membuat masyarakat tidak dibatasi oleh jarak antara dua orang atau lebih yang ingin berkomunikasi secara langsung, hal ini disebabkan karena salah satu fungsi internet adalah untuk menghilangkan jarak antara dua orang atau lebih yang ingin berkomunikasi secara langsung secara online. Orang dapat berkomunikasi dari satu Negara ke Negara lain yang jaraknya terlampau jauh tetapi dapat diatasi melalui internet. Berkomunikasi di telepon bisa saja dilakukan antara satu dengan lain melalui jarak yang jauh tetapi membutuhkan biaya yang sangat mahal, internet mengatasi kendala tersebut.
Bila dikatakan internet mengatasi factor hambatan jarak antara satu individu dengan yang lainnya maka hal ini dapat dimungkinkan karena internet memiliki fasilitas-fasilitas berkomunikasi seperti: electronic mail (e-mail), discussion group, maling list (milis), newsgroups, FTP (file transfer protocol), Telnet, Gopher, dan world wide web (www). Bagian terakhir ini akan menjadi focus pembahasan penulis dalam disertasi. World wide web adalah layanan internet yang paling banyak dikenal orang dan perkembangan teknologinya paling cepat. Layanan ini menggunakan link hypertext yang disebut hyperlink untuk merujuk dan mengambil halaman-halaman web dari server. Halaman web baik yang profesional maupun Free dapat digunakan untuk menyimpan suara, gambar, animasi, teks, dan yang kemudian dapat diakses secara online. Akses itu terlaksana karena adanya skrip halaman web atau program html. Dalam web tersebut kita kenal istilah world wide web. Aplikasi dari world wide web adalah domain (alamat web) dan hosting (tempat meletakkan produk yang berupa informasi dalam bentuk teks, gambar, suara) yang berbayar dan gratis. Bagian yang terakhir ini seperti: www.blogspot.com, www.wordpress.com, www.multiply.com dan lain-lain. Fasilitas internet yang terakhir ini memberi peluang yang sangat besar dalam komunikasi di dunia pendidikan atau dalam proses pembelajaran, khususnya penyediaan layanan weblog atau blog berbayar maupun yang gratis, seperti: www.blogger.com (blogspot.com), www.wordpress.com dapat dipakai untuk proses pembelajaran. Di dunia pendidikan umum sudah banyak yang memanfaatkan untuk kepentingan proses pembelajaran setiap mata kuliah. Di perguruan tinggi mulai dikenal blog dosen, baik yang dikelola oleh lembaga (fakultas) maupun oleh pribadi dosen. Perkembangan yang lebih signifikan adalah ternyata guru-guru di SMA atau SMK telah memiliki blog yang dikelola untuk mata pelajaran yang diasuh. Fakta ini (paparan di atas) tidak diikuti oleh warga pembelajar, khususnya para dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi. Para dosen Teologi, baik yang di bidang Teologi maupun Pendidikan Agama Kristen sedikit yang memiliki blog, demikian pula mahasiswa Teologi. Kalaupun ada, jarang ada yang merancang blog gratis seperti Blogspot dan wordpress sebagai media instruksional. Oleh karena itu maka perlu dibahas memanfaatkan blog gratis sebagai media instruksional pembelajaran untuk setiap mata kuliah yang diasuh oleh dosen di Sekolah Teologi. Memang benar bahwa internet ketika ditemukan dan dalam perkembangannya hanya terbatas pemakaiannya oleh orang-orang dari golongan menengah ke atas dan perusahan-perusahan besar. Akan tetapi seiring perkembangan tehnologi informasi yang semakin canggih (era revolusi internet) mempengaruhi perkembangan internet ke seluruh pelosok dunia, mulai dari perkotaan sampai pedesaan, perkembangan internet yang demikian pesat dan canggih tentu menguntungkan masyarakat. Seiring dengan itu, terjadi persaingan tehnologi informasi dari perusahan-perusahan besar, khususnya tehnologi informasi seperti Komputer, Laptop, notebook, netbook, hp-hp murah dan lain sebagainya yang merupakan produk-produk dari perusahan-perusahan besar, seperti produk Cina dan Korea membuat masyarakat semakin diuntungkan, karena tehnologi informasi yang dulunya mahal sekarang menjadi semakin terjangkau oleh masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah . Perkembangan teknologi yang demikian semakin lama semakin membawa pada persaingan harga, harga berbagai teknologi informasi seperti lap top, notebook, netbook, hp mulai relative murah. Perangkat tehnologi informatika seperti computer, pocket pc, notebook, netbook, dan telepon selular yang semuanya bisa digunakan untuk browsing internet dengan mudah. Dengan demikian internet bukan lagi sebagai barang mewah, melainkan sebuah kebutuhan yang bagi sebagian orang sudah keharusan. Tidak heran perkembangan demikian membuat internet dijadikan sebagai media yang sangat potensial untuk berbisnis, sarana media pendidikan dan lain-lain. Hal ini membuat penulis surving di internet untuk mencari seberapa banyak dosen teologi, baik jurusan teologi maupun pendidikan agama Kristen yang memiliki blog yang dipakai untuk proses pembelajaran, ternyata hasilnya tidak terlalu banyak. Kalaupun ada, isi blognya tidak diatur dalam format disain isntruksional yang menjadikan weblog atau blog yang dikelola sebagai media instruksional pengajaran. Padahal di blog terdapat banyak peluang untuk disain instruksional pengajaran, khususnya untuk mata kuliah yang diasuh. Tidak hanya untuk tujuan instruksional pengajaran tetapi tujuan instruksional lembaga pendidikanpun dapat disampaikan dalam blog. Blog sangat efektif dan efisien untuk dijadikan sebagai media instruksional pengajaran. Dikatakan demikian karena weblog atau blog adalah salah satu fasilitas internet. Sebagai bagian dari fasilitas internet maka isi blog memiliki jangkauan yang sangat luas atau mendunia. Perkembangan blog yang sedemikian pesat mesti dipergunakan secara baik untuk pendidikan Kristen. Kini koneksi internet sudah mulai diterapkan dalam pendidikan, yaitu ada koneksi dari satu computer ke computer lain yang berada di dunia yang terkoneksi dengan dunia pendidikan. Itu berarti fasilitas internet dipakai untuk kebutuhan pendidikan. Dalam dunia pendidikan tidak dapat mengabaikan komunikasi, komunikasi demikian dapat diwujudkan melalui internet. Perwujudan sebagaimana yang dimaksud di atas dapat tercapai karena internet. Internet adalah kumpulan dari jutaan computer di seluruh dunia yang terkoneksi satu sama lainnya. Media koneksi yang digunakan bisa melalui sambungan telepon, serat optic (fiber optic), kabel koaksial (coaxial cable), satelit, atau dengan koneksi wireless. Ketika Anda log on (terhubung) dengan internet, Anda diberikan hak akses ke computer lain di seluruh dunia yang terhubung juga dengan internet. Dengan kemajuan tehnologi yang semakin pesat, internet dapat diakses dengan koneksi wireless dari handheld PC atau dari sebuah computer notebook. Setelah terhubung dengan internet, Anda dapat mengirim dan menerima e-mail (surat elektornik), chatting dengan media teks atau suara, berselancar (surfing) di world wide web, atau hal-hal lain dengan suatu software aplikasi tertentu. Penjelasan di atas menegaskan bahwa internet memerlukan perangkat-perangkat seperti: computer, Satelit dan lain-lain yang saling terkoneksi. Dengan demikian kemajuan teknologi Informasi (kemajuan berbagai merek computer sampai pada netbook), persaingan perusahan-perusahan dalam tehnologi informasi yang canggih menyebabkan persaingan harga dari terbatas terjangkau menjadi terjangkau oleh semua pihak. Perangkat tehnologi informatika seperti: computer, pocket pc, notebook, netbook, dan telepon seluler yang semuanya bisa digunakan untuk browsing internet dengan mudah, membuat masyarakat semakin dimanjakan. Sehingga saat ini internet bukan lagi sebagai barang mewah, melainkan sebuah kebutuhan yang bagi sebagian orang adalah suatu keharusan. Tak heran lagi internet dijadikan tempat yang sangat potensial untuk berbagai kegiatan, seperti: berbisnis (bisnis online), pendidikan (pendidikan online), dan lain-lain. Salah satu fungsi internet adalah untuk menghilangkan jarak antara dua orang atau lebih yang ingin bersosialisasi secara langsung. Kita ingin tulisan kita dibaca oleh orang banyak di berbagai tempat (dunia), melalui bukupun bisa tapi sangat terbatas, internet mengatasi kesulitan tersebut. Punya email namun hanya dipakai untuk facebook, berkirim surat dll. Ada banyak fasilitas gratis di internet, seperti weblog dll. Tersedianya weblog gratis, seperti blogspot, wordpress, multiply. Blogspot dalam praktik penggunaannya sangat mudah. Dengan kemudahan dalam penggunaan dan pengelolaan, membuat blog (blogspot) lebih banyak diminati para penulis dibandingkan dengan website lainnya. Semakin banyak orang mengunjungi blog dan mengapreasi tulisan Anda secara positif, Anda akan semakin dikenal khalayak ramai. Secara umum, blog memiliki cirri sebagai berikut:
1. Isi utama biasanya berupa informasi yang bersifat kronologis dan terbagi menjadi beberapa kategori 2. Terdapat arsip untuk berita atau informasi lama 3. Ada tempat buat orang lain meninggalkan pesan atau memberi komentar 4. Biasanya terdapat link ke web/blog favorit atau yang sering dikunjungi, yang disebut blogroll
Membuat blog tidak harus menyewa domain atau hosting. Seorang dosen bisa memanfaatkan penyedia layanan blog, seperti: blogspot, wordpress, multiply. Blogger atau yang lebih dikenal dengan sebutan blogspot merupakan salah satu layanan blog gratis yang popular saat ini. Dalam penggunaan blogspot, dikenal Istilah Blogger dan Blogspot, kedua istilah ini sama saja, istilah blogger digunakan untuk membuat akun, membuat artikel, memodifikasi tampilan, dan lain-lain. Bisa dibilang, blogger sebagai halaman administratornya, sedangkan blogspot alamat url dari blog yang kita buat. Misalnya, http://yonas-muanley.blogspot.com Penggunaan Blog sebagai media jurnal pribadi online oleh semua kalangan membuatnya semakin popular, ditambah dukungan penyedia layanan Blog popular Blogger.com. Diperkirakan pengguna blog di Indonesia menempati peringkat antara 3-4. Hal menunjukkan budaya NgeBlog sudah tidak asing lagi di Indonesia. Walaupun demikian sedikit sekali dosen teologi yang memakai weblog untuk dijadikan sebagai media pembelajaran untuk mata kuliah yang diasuhnya. Padahal bahan kuliah dapat dimuat secara online di blog. Terlebih lagi dosen dapat menjadikan blog sebagai papan tulis online, buku online, bahan ajar online. Namun kenyataannya tidak banyak dosen teologi yang menulis di blog. Khususnya memanfaatkan blog sebagai media instruksional pengajaran dan menjadikannya sebagai multimedia untuk pengajaran sehingga terjadi pembelajaran yang menyenangkan (pembelajaran yang menyapa belahan otak kiri dan kanan) peserta didik. Penggunaan media pembelajaran memungkinkan hal tersebut. Pengalaman dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa ketersediaan media dan pemanfaatannya sangat terbatas. Media yang sering digunakan adalah media cetak seperti: diktat, modul, hand out, buku teks, bahan ajar, majalah, surat kabar, dan sebagainya. Dan didukung oleh alat bantu sederhana yang masih dipergunakan seperti: papan tulis, whiteboard, kapur tulis/spidol. Sedangkan media audio, siaran TV/Radio, overhead transparency, video/film, dan media elektronik (computer, internet, khususnya blog) masih belum secara intensif dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran. Selain masalah di atas, fakta menunjukkan bahwa setiap dosen dan mahasiswa punya email namun hanya dipakai untuk facebook, berkirim surat dll. Sedikit yang memakai email untuk membuka account weblog gratis. Sekaligus belajar memanfaatkan teknologi internet, khususnya halaman-halaman website sebagai media eksistensi dosen. Ada banyak fasilitas gratis di internet, seperti weblog dll. Tersedianya weblog gratis, seperti blogspot, wordpress, multiply, dapat dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat. Salah satunya adalah dapat dipakai oleh dosen untuk mengonlinekan bahan kuliahnya, silabus, RPP dan kontrak pembelajaran, dll. Blogspot dalam praktik penggunaannya sangat mudah. Dengan kemudahan dalam penggunaan dan pengelolaan, membuat blog (blogspot) lebih banyak diminati para penulis dibandingkan dengan website lainnya. Membuat blog tidak harus menyewa domain atau hosting. Anda bisa memanfaatkan penyedia layanan blog, seperti: blogspot, wordpress, multiply. Blogger atau yang lebih dikenal dengan sebutan blogspot merupakan salah satu layanan blog gratis yang popular saat ini. Dalam penggunaan blogspot, dikenal Istilah Blogger dan Blogspot, kedua istilah ini sama saja, istilah blogger digunakan untuk membuat akun, membuat artikel, memodifikasi tampilan, dan lain-lain. Bisa dibilang, blogger sebagai halaman administratornya, sedangkan blogspot alamat url dari blog yang kita buat. Misalnya, http://yonas-muanley.blogspot.com Blog merupakan jurnal pribadi seseorang yang berisi tulisan-tulisan yang dimuat sebagai posting, tulisan-tulisan tersebut bisa berupa gagasan, ide bahkan sesuatu yang pernah dilakukan oleh pemilik blog tersebut. Seiring dengan berkembangnya dunia jaringan internet membuat tehnologi tak terdiam begitu saja, penggunaan jaringan internet dari tahun ke tahun semakin bertambah pesat mendorong tehnologi tersebut melangkah seperti roket. Penggunaan Blog sebagai media jurnal pribadi online oleh semua kalangan membuatnya semakin popular, ditambah dukungan penyedia layanan Blog popular Blogger.com. Cara memanfaatkan weblog sebagai bahan ajar online atau media pembelajaran/sumber pembelajaran teologi dan pendidikan agama Kristen. Ada beberapa pilihan, menjadi blogger (orang yang memanfaatkan blog untuk berbagai keperluan) yaitu: (1) tingkat pemula, (2) tingkat menengah, (3) tingkat mahir. Berdasarkan riset sederhana di internet dengan memakai google, blogspot (blogger) memiliki peringkat terbaik di mesin pencari google dan peringkat berikutnya adalah wordpress. Artinya bila seorang dosen memanfaatkan blogspot untuk memposting bahan ajarnya maka dalam beberapa waktu cepat sekali terindeks oleh google dan dibaca oleh banyak orang di seluruh dunia. Di atas telah ditegaskan bahwa dalam menggunakan free weblog seperti Blogspot.com dan wordpress.com, ada kategorinya yaitu mulai dari pemula sampai pada tingkat mahil dalam memanfaatkan blog. Untuk dosen teologi bisa dimulai dari tingkat pemula. Menjadi Tingkat Pemula dalam memakai blog Blogger.Com. Syaratnya sebagai berikut.
a. Punya email/membuat email
1. Yahoo
2. Ymail
3. Gmail
b.Pengertian Blog
c. Membuat Blog
d. Membuat Entri (Posting Materi Kuliah)
e. Tampilan Blog
a. Template blog
b. Template Dinamis
c. Template dari pihak ketiga (Blogger)
c. Membuat Tombol Navigasi untuk:
a. Silabus
b. Tugas
c. Sistem Penilaian
d. Kontak dengan dosen
e. Standar Kompetensi
f. Kompetensi Dasar
g. Indikator
h. dll (sesuai kebutuhan)
Contoh-contoh Pemanfaatan Free Weblog berbasis blogspot untuk bahan Ajar Online dengan sejumlah tugas. Contoh untuk Mahasiswa di STT .......

Jadi, dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pemanfaatan free weblog adalah kemampuan dosen memanfaatkan blog gratis untuk mendukung tercapainya efektivitas proses pembelajaran dengan indicator:Blog Dosen (1) membuat blog, (2) menata blog, (3) memposting Standar Kompetensi dan (4) Kompetensi Dasar, (5) memposting bahan Ajar Secara Online, (4) Kontrak Pembelajaran, (5) silabus, (6) RPP/SAP, (6) membuat tombol navigasi, (7) tugas online (8) UTS Online (9) UAS online Blog Mahasiswa: Mahasiswa Paper Online/Makalah Online/Hasil Diskusi Online (Bahan ini adalah variabel Bebas atau X4 dari Disertasi Yonas Muanley). Mohon tidak dikopi paste.

Artikel Blog

Angpao Apakah penelitian teologi dapat diukur? Arti filsafat Asuransi mobil dari asuransi88.com Atanaya Kuta Bali Hotel Beberapa judul penelitian mahasiswa Belajar bahasa asing Berani mewujudkan Bab I Disertasi Secara Kualitatif Berbelanja di toko Softlens online Berita Paska 2016 Berkreativitas dan berinovasi Booking hotel di Indonesia dan luar negeri Cara membuat definisi konseptual dan definisi operasional Cara Mendapat File Cara menyusun variabel Contoh Bab I Disertasi Contoh Bab I Pendahuluan Contoh Bab I Skripsi dan Tesis Contoh Bab I Tesis Contoh Penelitian Biblika contoh skripsi PAK Cost per Action dengan rejeki secukupnya Daftar jadi publisher dalam waktu singkat bersama adzmarket dan blogspot terhadap dapat dijadikan sebagai masalah penelitian mahasiswa dengan sukacita Disertasi disertasi PAK disertasi Pendidikan Kristen Efektivitas Proses Pembelajaran Agama Kristen Ekklesia Ester seorang Perempuan yang dihormati Februari 2106 FINDITQUICK Formulate Research Go Indonesia Hendaklah Kamu Sempurna Seperti Bapa Hubungan Hubungi Kami Imlek 2016 Istilah-istilah di dunia bisnis online Judul Disertasi Judul Karya Ilmiah Judul Karya Ilmiah Filsafat PAK Judul Penelitian yang berhungan dengan kearifan lokal Judul Skripsi dan Tesis 2014 Judul skripsi dan Tesis dicopi paste Blog lain Judul skripsi dan Tesis Jurusan Teologi Kabar Gembira Kajian Teori Dasar Pernikahan Kristen kata kata kunci isi blog Keberhasilan Proses Pembelajaran PAK Kebutuhan akan Keahlian di MEA 2016 Kebutuhan Pria Muda di Maskool.in klik saya.Com Konsultasi Skripsi Konsultasi Skripsi dan Tesis Konsultasi Skripsi dan Tesis Teologi Korelasi sebelas variabel kumpulan contoh Skripsi Laptop dan note book untuk penelitian mahasiswa Layanan produk otomotif secara online Mari belajar Bab I tentang tempramen peserta didik Masalah penelitian Masalah Penelitian Skripsi Mau jadi reseller di Supplier.id? Menambah rekan baru dalam kekaryaan online dengan Yllix Mencari Hotel dan harga kamar hotel Mencari masalah penelitian Mengenal Bank Menghasilkan dollar melalui publisher popcashnet Menjadi publisher PAK yang berimbang Pemanfaatan Free Weblog dalam PAK Penawaran judul skripsi dan tesis Pendidikan Agama Kristen “langsung” dan “melalui” Penelitian tentang Pluralisme Agama Pengalaman diterima Adsense Pengaruh publisher Pengertian Variabel Perjuangan itu melelahkan tetapi menghiburkan Pertemuan teragung Produk Pakaian dari Bambu Bandung Publisher Yesadvertising Ramalan Shio Monyet Api 2016 rekening Salam 2565: Selamat Tahun Baru Imlek 2565 Sembilan judul penelitian mahasiswa skripsi Skripsi dan Tesis Teologi Skripsi/tesis teologi Teknologi Informasi PAK Tempat Berteduh Bagi Peneliti di Kota Temuan Bab IV Disertasi memakai metode kualitatif Teologi Teori Kompetensi Mengajar Teori Masalah penelitian tesis Tesis dan Disertasi Tesis Pendidikan Agama Kristen The Panel Station Title of research Students to "Empirical Variables" Trivago Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek Variabel PAK dicopipaste blog lain Variabel Pendidikan Agama Kristen Variabel Penelitian Misiologi dan Teologi variables based on the Bible

Teori Masalah Penelitian

Teori Penyusunan Penelitian Mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi)

Penelitian ilmiah pada taraf skripsi, tesis dan disertasi selalu dimulai dengan masalah. Bila tidak ada masalah maka tidak perlu ada penelitian. Jadi masalah mendorong seorang mahasiswa untuk melaksanakan penelitian. Dalam hal ini, seorang mahasiswa di perguruan tinggi pada akhir studinya disyaratkan untuk meneliti. Penelitian tersebut mulai dari penelitian untuk sarja yang disebut dengan Skripsi, Magister untuk tesis, Doktoral untuk disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa dapat memakai penelitian kuantitatif maupun kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan dengan kombinasi kebenaran rasional dan empiris, maupun penelitian yang hanya bersifat penemuan kebenaran rasional.

Penelitian dengan metode apapun perlu memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan Bab I, II, III, IV dan V (atau bisa dikembangkan lebih dari lima Bab). Hal yang ingin saya sampaikan disini yakni beberapa teori yang berhubungan dengan pokok-pokok dalam bab I dan II serta Bab III.

Baiklah kita mulai dengan Bab I.

Dalam Bab I penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, Disertasi) pokok pertama yang mesti disampaiakan yakni: Latar Belakang Masalah. Dalam mengemukakan/menarasikan latar belakang masalah perlu didasarkan atas teori-teori tentang “masalah penelitian”. Sering terjadi yakni ketika mahasiswa menarasikan masalah penelitian tidak didasarkan pada teori tentang “masalah penelitian”. Mahasiswa hanya asal-asalan membuat latar belakang masalah. Akhirnya mahasiswa tidak punya arah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah tentu ditopang oleh kajian teori (kebenaran rasional) yang relevan dengan variabel (konsep yang dapat diukur) yang diteliti dan analisis data serta kesimpulan yang diambil. Oleh karena itu perlu memperhatikan teori tentang “masalah penelitian”.

Beberapa teori tentang “masalah penelitian”.

Teori 1

Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan. Perbedaan antara yang tertulis dengan yang dipraktikkan/perbedaan antara teori dan praktik.

Contoh 1:

Kucing pada umumnya tidak bertanduk namun ditempat tertentu didapati kucing bertanduk. Ini masalah karena yang diketahui umum yakni kucing tidak bertanduk, maka pokok ini dirumuskan menjadi suatu variabel untuk diteliti. Dengan mengemukakan masalah dengan mendeskripsikan di Latar Belakang Masalah tentang kucing. Mulailah mendeskripsikan tentang kucing sebagaimana yang dikenal umum (diinformasikan dalam buku) kemudian akhiri dengan kucing yang bertanduk.

Contoh 2:

Secara psikologi ditemukan bahwa tingkat perhatian orang terhadap pembicaraan/ceramah/khotbah dll hanya berlangsung 45 menit. Oleh karena itu khotbah jangan terlampau lama karena bila terlampau lama maka konsentrasi pendengar khotbah akan berubah. Dengan demikian kotbah selanjutnya tidak diperhatikan secara baik. Akan tetapi di suatu tempat/gereja, jemaat mampu mendengar khotbah secara baik dalam durasi waktu 1,5 Jam. Ini menjadi masalah yang baik untuk diteliti. Dalam teknis pemaparan di Latar Belakang Masalah dikemukakan tentang lamanya waktu tentang tingkat perhatian orang terhadap ceramah/khotbah kemudian akhiri dengan fakta bahwa di tempat tertentu jemaat mampu mendengar khotbah dalam waktu 1,5 jam. Namun perlu didukung dengan bukti, yakni apakah ini pengalaman langsung atau kesaksian orang lain.

Teori 2

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitif, Kualitatif dan R&D” mengemukakan bahwa masalah penelitian adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi ( Sugiyono, 2008:52)

Berdasarkan definisi tentang masalah tersebut di atas, masalah penelitian yang harus dikemukakan dalam Latar Belakang Masalah yaitu:

Penyimpangan antara yang seharusnya (saya sengaja bold dan italic untuk menegaskan inti masalah penelitian) dengan apa yang benar-benar terjadi.

Misalnya:

Yang seharusnya

Apa yang benar-benar terjadi

Penyimpangan/masalah

Deskripsi Masalah

Jemaat rajin beribadah

Jemaat malas beribadah

Jadi, penyimpangannya yakni: jemaat malas beribadah

Contoh deskripsi Masalah:

Jemaat Kristen adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu maka jemaat rajin beribadah ke Gereja dan ibadah-ibadah rumah tangga. Kerajinan jemaat dalam beribadah bukan untuk mendapat keselamatan tetapi membuktikan bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah diselamatkan. Namun masalah yang terjadi yakni anggota jemaat malas beribadah pada hari Minggu dan ibadah-ibadah keluarga.

Teori 3:

Locke, Spirduso, dan Silverman dalam Andreas B. Subagyo dengan judul buku “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan menyatakan: maslah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. SItuasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga dirasakan sebagai masalah. Pengalaman itu bukan hanya pengalaman dalam praktik, tetapi juga dalam mengamati dua teori (pandangan/pendapat/penfsiran teks kita suci, dll) yang bertentangan. (Andreas B. Subagyo, 2004:180)

Contoh

Dalam buku-buku Teologi Calvinis diperoleh informasi akan pernyataan: Sekali selamat tetap selamat, sementara dalam buku-buku Teologi Armenian diperoleh pernyataan teologis: Keselamatan bisa hilang. Jadi tidak ada kepastian keselamatan. Dalam contoh ini ada dua pandangan teologi yang berbeda: Teologi Calvinis memastikan bahwa keselamatan itu pasti atau “Kepastian Keselamatan” sedangkan Teologi Armenian menyatakan: Keselamatan bisa hilang.

Berdasarkan masalah ini, kita dapat rumuskan variabel penelitian (konsep yang dapat diukur), yakni: “Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”. Bila mau dijadikan dua variabel maka judul (variabel) ini dapat dirumuskan: Pengaruh Khotbah Eksegesis Terhadap Tingkat Keyakinan warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan” atau

Pengaruh Khotbah Pendeta Terhadap “Tingkat Pemahaman warga Jemaat Gereja …. Terhadap Kepastian Keselamatan”

Untuk judul tentang Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kepastian keselamatan dapat memakai skala pengkuran sikap dengan opsi berikut ini.

Sangat mengerti (5)

Mengerti (4)

Cukup Mengerti (3)

Kurang Mengerti (2)

Tidak mengerti (1)

Atau

Untuk Variabel tentang Tingkat keyakinan terhadap kepastian keselamatan dapat memakai skala sikap dengan opsi sebagai berikut:

Sangat yakin (5)

Yakin (4)
Cukup yakin (3)
Kurang yakin 2)

Tidak Yakin (1)

Masih banyak teori tentang “masalah penelitian”, namun tiga teori di atas kiranya menjadi bahan refrensi yang menolong peserta penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis dan Disertasi) dalam mewujudkan masalah penelitian di

Bab I untuk poin: Latar Belakang Masalah

Demikian informasi ini semoga menjadi berguna.