Senin, 28 November 2016

Variabel-variabel Pendidikan Agama Kristen


Berikut ini beberapa variabel Penjelasan tentang beberapa variabel Pendidikan AGama Kristen.

1. Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keteladanan atau teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh. Keteladan itu berupa perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya.(KBBI, 2007: 1427). Bila dihubungkan dengan Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen maka yang dimaksudkan dengan Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen adalah sejumlah karakter unggul dalam diri seorang guru Agama Kristen yang patut ditiru oleh peserta didik. Ini berarti seorang Guru Pendidikan Agama Kristen perlu memiliki sifat-sifat mulia dalam dirinya. Hal ini disebabkan karena seorang guru adalah orang yang patut menjadi teladan.
Keteladan guru Pebdidikan Agama Kristen sedemikian penting karena guru Pendidikan Agama Kristen adalah seorang pribadi yang bertindak sebagai pendidik dan pengajar (pemberi instruksi edukatif dalam nilai-nilai Kristiani yang bersumber dari Alkitab). Dalam kapasitas Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai pendidik dan pengajar, ia harus menunjukkan keteladanan yang patut dicontohi peserta didik. Sebagai pendidik, guru Pendidikan Agama Kristen menginternalisasi nilai-nilai edukasi Kristen dalam wujud perilaku positif, sedangkan dalam perannya sebagai pengajar, seorang guru Pendidikan Agama Kristen harus bertindak profesional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar dan dimaknai sebagai tugas profesi”.(KBBI, 2007:377). Dalam penegasan yang terakhir, yaitu guru sebagai tenaga profesional maka ia mesti melakukan apa yang dikatakan oleh Ornstein dan Levine sebagaimana dikutip dalam judul buku “Profesi Keguruan” yang ditulis oleh Soetjipto berikut ini:
Jabatan yang sesuai dengan pengertian sebagai profesi adalah sebagai berikut: memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khalayak ramai, memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang, menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan” (Soetjipto, 2007:15-16).
Selain itu, profesi dapat pula diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis secara insentif. Searah dengan pengertian ini patut dikemukakan suatu pendapat dari Andar Gultom tentang pengertian profesi Guru Pendidikan Agama Kristen seperti yang dinyatakan dalam judul buku: Profesionalisme, Standar Kompetensi dan Pengembangan Profesi Guru PAK. Menurut Gultom, “Guru PAK memang dianggap sebagai suatu profesi atau jabatan, karena pekerjaan ini memerlukan keahlian khusus, dan profesi atau jabatan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak memiliki keahlian sebagai guru PAK”.(Andar Gultom, 2007:15). Dalam pengertian bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian khusus. Oleh karena itu suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi, membutuhkan kualifikasi khusus melalui pendidikan dan pelatihan secara khusus.
Mengenai kualifikasi guru yang merupakan jabatan profesional Soetjipto mengatakan bahwa : “Jabatan guru merupakan jabatan fungsional yang membutuhkan kualifikasi khusus yang melibatkan intelektual, spesifikasi pendidikan yang khusus, memerlukan latihan dan jabatan yang berkesinambungan, memerlukan karier hidup dan keanggotaan yang permanen, menentukan baku perilakunya, mementingkan layanannya, mempunyai organisasi profesional dan mempunyai kode etik yang ditaati oleh anggotanya” (Soetjipto, 2007: 37).

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru dalam kapasitasnya sebagai pengajar profesional mesti memiliki pengalaman dalam apa yang disebut: guru yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya kemudian diharapkan menjadi teladan yang baik terhadap peserta didiknya. Proses ini telah berlangsung, sedang dan akan berlangsung dalam diri seorang guru yang bertindak sebagai pengajar profesional. Dalam konteks pembahasan Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai teladan bagi peserta didik maka berlakulan prinsip kebenaran ini. Seorang Guru Pendidikan Agama Kristen adalah seorang yang dapat diandalkan dalam memberi layanan edukasi kepada peserta didik, layanan edukasi tersebut dilakukan dengan kesediaan guru Pendidikan Agama Kristen menguasai materi Pendidikan Agama Kristen yang diajarkannya, serta berusaha untuk memiliki citra yang baik di masyarakat, menunjukkan karakter (sifat/kebiasaan) yang positif yang menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat yang ada disekelilingnya. Dalam pemahaman ini, seorang guru Pendidikan Agama Kristen penting memperhatikan apa yang disampaikan oleh Mary Setiawani dan Stephen Tong. Menurut Mary dan Stephen Tong, “Seandainya seorang mengajar sesuatu sedemikian muluk, tetapi kemudian apa yang ia lakukan di masyarakat sama sekali bertentangan dengan apa yang ia ajarkan, itu hanya ucapan kosong belaka” (Mary Setiawani & S. Tong: 2008, 41). Pernyataan Mary dan Stephen Tong menegaskan pentingnya seorang guru menunjukkan keteladanannya sehingga patut dicontohi.

2.Pembentukan Karakter Kristiani

Karakter mulia itu bersumber dari karakter yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan. Seorang guru PAK selain harus mempunyai kualifikasi dan kompetensi khusus dalam pendidikan agama kristen, juga dituntut untuk mencerminkan hidup dan karakter Tuhan Yesus Kristus dalam hidup dan tugas panggilannya sebagai pengajar Kristen. Tujuannya ialah agar selain memperoleh informasi dan pencerahan, para peserta didik memiliki hidup dan karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus Kristus.
Karakter mulia yang perlu dimiliki oleh peserta didik yang beragama Kristen karena pengaruh keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen itu seperti: peserta didik Kristen memiliki karakter mencintai Tuhan dan segenap ciptaan-Nya. Kecintaan terhadap Tuhan yang dimaksud disini adalah Allah Tritunggal. Allah Bapa, Anak yaitu Yesus Kristus dan Rohulkudus, memiliki karakter mandiri dan tanggungjawab melaksanakan tugas, memiliki karakter jujur, karakter hormat dan santun terhadap orang lain, dermawan, suka menolong dan kierja keras, karakter memimpin dan keadilan, karakter baik dan kerendahan hati sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus: berbahagialah orang yang miskin atau rendah hati di hadapan Allah (Bnd. Mat. 5), karakter toleransi yaitu menghargai perbedaan, mencintai kedamaian, dan kesantunan. Dan masih banyak karakter mulia yang perlu terbentuk dalam diri peserta didik. Untuk itulah maka berbagai bentuk pendidikan karakter dilakukan, salah satunya pendidikan karakter melalui keteladanan kehidupan Guru Pendidikan Agama Kristen. Memang mesti disadari bahwa Pendidikan Agama Kristen di sekolah mengajarkan tentang nilai-nilai pendidikan Agama yang berhubungan dengan karakter tetapi perlu juga penerapan yaitu melalui pemodelan yang dilakukan oleh Guru Pendidikan Agama Kristen.
Keteladanan guru PAK yang mampu mempengaruhi para peserta didik untuk meneladani kehidupannya adalah karena adanya kuasa dan karakter Tuhan Yesus Kristus didalam hidupnya. Sangat mustahil bagi seorang guru PAK untuk mampu mempengaruhi para peserta didik lewat materi pengajarannya tanpa kuasa dan karakter Tuhan Yesus Kristus didalam kehidupan pribadinya. Keteladanan Guru PAK itu memiliki pengaruh bagi pembentukan karakter peserta didik maka penulisan menyarankan kepada para guru PAK dan para calon guru PAK, agar tidak hanya memperlengkapi diri dengan pengetahuan Alkitab, tetapi harus menghidupi hidup dan karakter yang mulia yang bersumber dari Tuhan Yesus Kristus sebagaimana yang ada dalam Alkitab. Keteladanan hidup merupakan faktor terpenting dalam pembentukan karakter peserta didik maka disarankan kepada sekolah atau lembaga pendidikan agar mempersiapkan calon guru dengan kemampuan Kognitif, psikomotorik (ketrampilan) dan kemampuan karakter (Afektif), agar kelak Guru Pendidikan Agama Kristen adalah pribadi-pribadi yang memiliki karakter unggul.

3.Meyakini Tuhan Memanggil Menjadi seorang Guru

Pekerjaan menjadi guru merupakan sebuah pekerjaan yang mulia. Pekerjaan ini tidak akan dikerjakan secara serius bila seseorang tidak mempunyai panggilan Tuhan atau karunia dalam dirinya untuk mengajar. Panggilan Tuhan atau karunia Tuhan dalam diri seseorang sebagai pengajar akan menggairahkan seseorang untuk mengajar. Jadi guru yang merasakan panggilan dalam dirinya akan terdorong oleh visi dan misi mengajar.
Dalam Efesus rasul Paulus berbicara tentang adanya jabatan-jabatan dan karunia-karunia dalam pelayanan yang dikaruniakan Allah. Diantaranya ada jabatan dan karunia sebagai pengajar (Roma 12:6-8; Efesus, 4:11-13;1 Korintus 12:28).
Merujuk pada pemaparan di atas maka seorang yang memutuskan untuk memilih pekerjaan sebagai seorang guru harus meyakini bahwa Tuhan memanggil dirinya untuk melakukan tugas mengajar. Dengan kata lain meyakini bahwa mengajar adalah panggilan ilahi yang harus dilakukan seseorang dengan penuh keiklasan. Mengajar bukan kegiatan sekadar mendapat penghasilan tetapi mengajar adalah menghidupi panggilan Tuhan sebagai seorang pangajar.

Bersambung !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Minggu, 09 Oktober 2016

Bab I Skripsi S.Pd.K

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan Tuhan segambar dan serupa dengan Allah. Ada pada manusia potensi yaitu kreativitas dan inovasi. Berdasarkan kemampuan inilah maka manusia memiliki peluang untuk mengembangkan potensinya menjadi sosok kreatif yaitu memiliki daya cipta. Kreativitas muncul dari kemampuan menggunakan belahan otak kanan. Hal ini mesti diperhatikan secara baik dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Intinya ada pada manusia kemampuan logis dan estetis. Oleh karena itu perlu diberdayakan secara baik dalam proses pembelajaran. Pernyataan di atas menegaskan bahwa guru perlu memberi perhatian terhadap peserta didik dalam aspek: kecerdasan, latar belakang keluarganya, gaya belajar, kepribadian, dan kemampuan belajarnya. Namun masalah yang terjadi yakni guru kurang memberi perhatian terhadap perbedaan tersebut. Akibatnya guru melakukan pendekatan yang sama terhadap semua pembelajar, akibatnya proses pembelajaran tidak memberi jawaban bagi perbedaan setiap pembelajar tersebut. Pembelajaran yang terjadi hanya bersifat mentransfer informasi sehingga menjadikan siswa pasif dan hanya duduk, diam, dengar, mencatat dan menghafal. Pembelajaran seperti ini tidak menumbuhkan kemampuan dan ide pembelajar. Sementara perkembangan masa kini membutuhkan cara belajar-mengajar yang membuat siswa menjadi pihak yang lebih aktif karena mampu menemukan, membentuk dan mengembangkan pengetahuan sendiri.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan paparan masalah tersebut di atas, identifikasi masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

Pertama, Seperti apa metode pembelajaran yang relevan untuk setiap peserta didik

Kedua, Guru merasa nyaman dengan salah satu metode pembelajaran

Ketiga, sejauh mana guru menerapkan pembelajaran kreatif

C. Batasan Masalah

Penelitian ini difokuskan pada penerapan pembelajaran kreatif

D. Rumusan Masalah

Bagaimana penerapan pembelajaran Kreatif
Teori Pembelajaran Kreatif
Pengertian Pembelajaran Kreatif (Creative learning)

Pembelajaran kreatif artinya kemampuan mengelola pembelajaran secara menarik. Daya tarik itu disebabkan karena dalam pembelajaran kreatif selalu ada peluang untuk mengembangkan daya cipta/kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Sesuatu disini berhubungan dengan belajar dan mengajar. Dalam pembelajaran kreatif, siswa mengkonstruksikan pengetahuan atau menciptakan makna sebagai hasil dari pemikiran dan berinteraksi dalam suatu konteks sosial. Teori belajar ini merupakan teori tentang penciptaan makna.
Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat keerajinan tangan, mempraktekkan kesenian, dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Kreativitas merupakan tahap paling tinggi dalam pengembangan kemampuan berpikir kreatif pada diri siswa. Guru sebagai fasilitator pun.
Pembelajaran kreatif selalu erhubungan dengan belahan otak. Menurut penelitian, manusia memiliki belahan otak kiri dan kanan. Kedua belahan otak berkaitan dengan aktivitas yang berbeda pula. Pembagian kerja otak secara garis besar adalah sebagai berikut: Otak kiri menyimpan dan mengoperasikan: kata-kata, logika, angka, urutan. Linear, analisis. Sedangkan belahan otak kanan berfungsi untuk: Irama, keasadara spasial, dimnesi, imajinasi, melamun, warna, kesadaran holistik.
Sedangkan belahan otak kiri menampung dan melaksanakan hal-hal berupa: masalah-masalah logika dan matematika, serta memproses secara berurutan. Otak kiri menangani rincian, mengatur data, dan mengendalikan pembicaraan serta kemampuan menulis. Otak kanan bekerja dengan cara lebih acak, kurang teratur. Otak kanan menangani kreativitas, interpretasi serta metafora dan sebagainya dan bekerja dengan perasaan dan intuisi seseorang.

Kreativitas muncul dari interaksi yang luar biasa antara kedua belahan otak. Misalnya dalam hal menulis, tulisan yang baik memanfaatkan kedua belahan otak. Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Untuk itu, perlu menerapkan teknik belajar yang melibatkan kedua belahan otak dan mendahulukan penggunaan otak kanan (emosi) supaya belajar lebih berhasil dan menyenangkan.

Kamis, 06 Oktober 2016

Bacaan yang menginspirasi Anda


Bagi Anda yang mencari inspirasi tentang judul Skripsi, Tesis dan Disertasi dalam bidang Pendidikan Kristen, Teologi Kristen, dan hendak berkonsultasi, silakan baca beberapa link berikut ini:

1. Format Skripsi dan Tesis Pendidikan Kristen (Kuantitatif dan Kualitatif)

2. Motivasi Berprestasi Dosen

3. Daftar Isi tentang Skripsi dan Tesis Serta Disertasi

4. Judul Skripsi dan Tesis dan Konsultasi
5. Judul Skripsi dan Tesis Pendidikan Kristen

Dan masih banyak lagi. Silakan Anda kunjungi dan baca isi weblog tersebut. Semoga menginspirasi.

Salam Inspirasi

Rabu, 24 Agustus 2016

Dasar Teologis Pendidikan Agama Kristen

Dasar Teologis Pendidikan Agama Kristen. Ikuti contoh skripsi dan tesis serta disertasi di blog yang mengalami perubahan alamat url: KLIK DISINI
Dasar teologis Pendidikan Agama Kristen yang dimaksud disini yakni pelaksanaan pendidikan Agama Kristen didasarkan pada firman Tuhan yaitu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Baru. Dalam Perjanjian Lama, perintah mengajar dapat diperhatikan dalam Ulangan 6:1-7. Dalam ayat ini para orang tua mendapat amanat untuk mengajar anak. Menurut Nuhamara, sebagai orang Kristen, anak adalah karunia Tuhan yang dipercayakan kepada orangtua dalam pemeliharaan maupun pendidikannya.Oleh karena itu orang tua mempunyai keutamaan dalam hak dan kewajiban untuk mendidik anak-anaknya.(Daniel Nuhamara, 2007:58). Hak dan kewajiban ini ditopang oleh kehendak Tuhan sebagaimana dinyatakan di dalam Perjanjian Lama, yakni Tuhan mewajibkan orangtua mendidik anak-anaknya dalam iman dan kasih kepada Tuhan dan sesama (Ul. 6:1-7). Jadi kewajiban mendidik dilakukan melalui ucapan-ucapan verbal (pengajaran) tetapi juga melalui contoh hidup (pendidikan) dalam kehidupan sehari-hari melalui orangtua.
Selain kitab Ulangan, firman Tuhan dalam Amsal 1:8 juga dapat dipakai sebagai landasan teologis tentang PAK dalam keluarga Kristen. Firman Tuhan dalam Amsal 1:8 menyatakan bahwa anak patut mendengar didikan orangtua (ayah dan ibu). Dalam Perjanjian Baru juga ditemukan bukti-bukti tentang PAK dalam keluarga Kristen. Dalam Efesus 6:1-4 Paulus menegaskan kepada para orang tua Kristen untuk mendidik anak dalam ajaran dan nasehat Tuhan.
2. Pendidikan Agama Kristen di Gereja Pendidikan Kristen di Gereja dilaksanakan dalam berbagai kategori seperti Sekolah Minggu dan katekisasi. Selain itu melalui khotbah-khotbah yang berbentuk pengajaran doktrin seperti Allah Tritunggal, Yesus Kristus, Roh Kudus, Gereja, Akhir zaman, pengajaran tentang malaikat, pengajaran tentang iblis dan cara kerjanya. Pengajaran tentang ajaran-ajaran sesat. Pengajaran tentang Alkitab adalah firman Allah yang memiliki otoritas untuk mengukur doktrin dan perilaku orang Kristen. Intinya Gereja berperan dalam pendidikan Kristen, baik itu melalui pengajaran maupun keteladanan hidup anggota jemaat yang dapat memberi didikan kepada siswa atau orang yang membutuhkan pendidikan Kristen. Gereja tidak hanya mendidik melalui pengajaran Kristen tetapi juga melalui kehidupan nyata. Iris V. Cully menyatakan “sejak permulaan gereja telah menjadi masyarakat yang mengajar”. Hal ini menegaskan bahwa dimanapun dan kapan saja Gereja merupakan masyarakat yang tetap meneruskan pengajaran. Gereja tidak hanya mengajar tetapi juga melalui keteladanan hidup, baik melalui pendeta atau gembala-gembala sidang, majelis dan anggota jemaat juga dapat menolong siswa dalam nilai-nilai Kristiani. Jadi, Gereja menjadi tempat kedua para siswa mendapat pendidikan Kristen. Pendidikan Kristen yang dilakukan di Gereja adalah pendidikan yang berporos pada Yesus Kristus. Yesus dalam pelayanan-Nya tidak mengabaikan tugas mengajar. Penulis Injil Matius mencatat 9 kali kata mengajar yang menunjuk pada kegiatan Yesus. Injil Markus mencatat 15 kali, dan Lukas 8 kali. Maka mengajar itu merupakan bagian yang amat penting dalam pelayanan Yesus. Tempat mengajar Yesus itu berfariasi, yaitu di bait Allah, di rumah ibadat (sinagoge), di pantai danau atau perahu nelayan, di bukit dan di tempat yang datar. Tempat tidak menjadi kendala Yesus melakukan tugas pendidikan. Salah satu tugas pendidikan itu yakni mengajar. Pemahaman ini sesuai dengan pandangan Clementus. Menurut Clementus, pendidikan adalah kata yang dipakai dengan cara yang bermacam-macam. Ada pendidikan dalam arti kata seorang yang sedang dibimbing dan diajar, pendidikan juga merangkum tindakan yang berhubungan dengan tugas membimbing dan mengajar.Selain itu pendidikan menyangkut proses bimbingan dan hal-hal apa saja yang diajarkan. Pendidikan yang diberikan Tuhan merupakan tindakan menyampaikan kebenaran yang akan menuntun seseorang secara benar kepada suatu relasi dengan Tuhan dan kepada usaha mengaplikasikan perilaku suci dalam kehidupan setiap orang.

Pendidikan Agama Kristen di Sekolah

Pendidikan Krisaten di sekolah menurut pendidikan Kristen dimaksud disini yakni teori dan konsep para pendidik Kristen. Para pendidik Kristen disini adalah pendidik Kristen yang ditemukan dalam beberapa literatur Pendidikan Kristen. Pembahasan ini tidak bermaksud membahas seluruh pendapat dari pendidik-pendidik Kristen yang ditemukan dalam literatur maupun penulis buku pendidikan Kristen. Dengan demikian maka penulis hanya mengambil beberapa pendapat dari pendidik-pendidik Kristen tentang pandangan mereka akan pendidikan Kristen di sekolah. Setalah menjelaskan bagian ini, penulis akan mengemukakan pendidikan Kristen berdasarkan kurikulum Pendidikan Kristen atau sering disebut dengan Pendidikan Agama Kristen yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia.
Usaha di atas bermaksud untuk menemukan berbabagai pendapat tentang pendidikan Kristen di sekolah dan pendidikan Kristen di sekolah yang didasarkan pada kurikulum yang didalamnya telah ditentukan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator-indikatornya. Dan apakah pendidikan Kristen di sekolah memiliki pengaruh yang kuat atas diri siswa di sekolah karena para siswa telah, sedang dan akan menghadapi berbagai pengaruh gerakan yang pada satu sisi dapat menggoyahkan iman, tetapi sisi yang lain dapat memperkaya. Salah satu gerekan yang mempengaruhi dunia pendidikan adalah Gerakan Zaman Baru.
Berdasarkan pemahaman demikian maka penting memahami Pendidikan Kristen yang diselenggarakan di sekolah berdasarkan pendapat-pendapat pendidik Kristen yang diambil dari beberapa literatur Kristen. Ada banyak pendidik Kristen, misalnya dalam buku Robert R. Boehlke Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek PAK Jilid 1 dan 2 dikemukakan banyak pendidik Kristen yang memiliki kontribus besar dalam pendidikan Kristen, namun dalam penjelasan ini hanya mendeskripsikan pendapat-pendapat pendidik Kreisten yang langsung berhubungan dengan pendidikan di sekolah. Berikut ini para pendidik Kristen tentang pendidikan Kristen di sekolah.
Menurut Iris V. Cully ((1995) “sekolah adalah lingkungan di mana anak-anak dari setiap generasi diajarkan tentang apa yang diharapkan dan dituntut oleh suatu kebudayaan”. dapat dilakukan melalui kegiatan mengajar dan memberi teladan (sikap hidup atau perilaku guru yang sesuai dengan ajaran Kristen). Keteladanan adalah cara mendidik melalui perilaku yang baik dari setiap pendidik Kristen atau guru di sekolah yang akan mempengaruhi peserta didik atau siswa di sekolah. Sedangkan mengajar melibatkan pemberdayaan intelek individu untuk meningkatkan tubuh, pikiran dan jiwa. Hal ini tidak berarti bahwa keteladanan tidak melibatkan pikiran dan jiwa. Pikiran sangat diperlukan dalam kehidupan karena dengan pikiran itulah kemudian setiap orang mengaplikasikan apa yang diketahuinya dalam perilaku hidupnya.
Berdasarkan paparan di atas menjadi jelas bahwa dalam pendidikan terdapat dua interaksi yaitu orang dewasa yang dalam konteks sekolah disebut guru dan orang belum dewasa yang dalam konteks sekolah formal disebut peserta didik. Dalam pendidikan Kristen di sekolah dibutuhkan peran guru-guru. Secara keyakinan, peserta didik membutuhkan guru-guru Kristen yang dapat memberi pengajaran dan keteladanan yang baik. Guru adalah mereka yang memiliki tekad dan kemauan tidak pernah berakhir untuk memastikan bahwa semua siswa mengambil kendali dari belajar mereka sendiri dan mencapai potensi maksimum mereka, sambil terus berusaha untuk 'mencapai dan mengajarkan' setiap siswa di bawah perawatan mereka. Guru Kristen mengajar dengan pandangan untuk membuat siswa berkembang menjadi individu yang yang lebih baik. Untuk memahami pokok-pokok pengajaran dalam pendidikan Kristen maka deskripsi berikut ini akan memaparkan pengajaran-pengajaran Kristen dalam berbagai teori tentang Pendidikan Kristen di sekolah.
Menurut E.G.Homrighausen dan I.H. Enklaar. Kedua ahli Pendidikan Kristen di atas dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Agama Kristen” menjelaskan tentang pendidikan Kristen atau istilah yang dipakai oleh kedua ahli ini yakni Pendidikan Agama Kristen di Sekolah-sekolah. Kedua ahli ini menyatakan bahwa ada negara-negara lain yang bersikap toleran terhadap agama tetapi pemerintah tidak mengakomodir pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Ada pula negara-negara komunis seperti Cekoslovakia dan Hongaria, pemerintahnya mengizinkan pengajaran agama Kristen di sekolah-sekolah negara, guru-guru dibiayai oleh negara.
Sementara di Indonesia, kedua ahli di atas menyatakan: Ada pula negara seperti Indonesia, pemerintahnya bersifat demokratis, tidak mau menganakmaskan agama tertentu. Setiap agama mendapat kesempatan untuk mengajarkan pendidikan keagamaan kepada peserta didik sesuai dengann agamanya. Artinya pemerintah Indonesia mengizinkan pendidikan keagamaan di sekolah-sekolah dan membiayai gaji guru-guru agama.
Adanya Pendidikan Kristen atau pendidikan yang bernafaskan keyakinan Kristen di sekolah memberi faedah-faedah yang berarti. Menurut E. G. Homrighausen dan I.H. Enklaar, faedah pendidikan keagamaan Kristen di sekolah yaitu:

(1) Gereja dapat menyampaikan Injil kepada anak-anak dan pemuda-pemuda yang sukar dikumpulkan dalam PAK gereja sendiri, seperti Sekolah Minggu dan Katekisasi.
(2) Anak-anak yang menerima pendidikan Kristen di sekolah akan merasa bahwa pendidikan umum dan keagamaan ada hubungannya
(3) Meringankan beban biaya Gereja yang harus dikeluarkan untuk pendidikan Kristen di sekolah
(4) Agama mulai menjadi bagian kebudayaan setiap rakyat.

Dalam konteks pendidikan Agama Kristen di sekolah, seorang guru PAK adalah seorang pelayan firman Allah atau seorang penafsir isi Alkitab dan menerapkannya secara praktis kepada siswa. Kualitas Pendidikan Agama Kristen di sekolah berhubungan dengan kemampuan guru PAK membaca komentar atau tafsiran-tafsiran Alkitab, khususnya yang berhubungan dengan nilai-nilai Kristiani seperti kasih dengan beberapa indikator kasih sebagaimana dalam I Korintus 13:4. Indikator kasih itum yakni:

a. Murah hati
b. Tidak cemburu
c. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong
d. Tidak melakukan yang tidak sopan
e. Tidak mencari keuntungan diri sendiri
f. Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (tidak bersedia memaafkan orang yang bersalah padanya)
g. Tidak bersukacita karena ketidak adilan tetapi karena kebenaran
h. Sabar menanggung segala sesuatu

Silakan baca Skripsi, Tesis, Disertasi dalam bidang Teologi dan Pendidikan Kristen di weblog melalui Link KUMPULAN CONTOH SKRIPSI DAN TESIS SERTA DISERTASI PAK

Selasa, 23 Agustus 2016

Google dan Blogspot luar biasa

Google dan Blogspot luar biasa. Blog saya dengan alamat: http://contohskripsi-tesis.blogspot.com yang mengalami masalah karena kesalahan yang saya lakukan yaitu mengganti url: http ke https secara berulang beberapa kali yang berdampak pada blog saya mengalami masalah yaitu di halaman dasbord muncul gambar malware.
Saya kemudian mengganti alamat blog menjadi: https://contoh-skripsitesisdisertasi.blogspot.com atau menjadi co.id. Selanjutnya alamat blog saya dinyatakan dihapus dan tidak dapat digunakan lagi. Namun malam ini saya mencoba mendaftarkan alamat blog yang pertama dan ternyata berhasil. Saya sangat berterimakasih kepada blogspot dan google. Sebelum terjadi kesalahan ini, saya sudah mendaftarkan kepemilikan blog saya ke google webmaster. Mungkin karena hal inilah maka alamat blog saya yang telah dinyatakan dihapus dan tidak bisa digunakan lagi dapat digunakan kembali. Silakan Anda mengunjungi blog saya yang telah mengalami perubahan alamat disini. Blogbaru
Berdasarkan pengalaman ini saya menyadari betapa pentingnya mendaftarkan kepemilikan blog kita ke webmastergoogle. Saya katakan demikian karena bisa saja kita lakukan sesuatu yang dianggap google sebagai praktik malware sebagaimana yang saya alamai. Mohoh tidak mengganti alamat url blog kita dari http ke https:// secara berulang ulang. Yang pernah terjadi dalam diri saya yaitu saya mengganti alamat blog saya dari http ke https dua kali dalam waktu yang berbeda. Namun kali yang ketiga ketika saya menggantikan dari https ke http kemudian keblai lagi ke https maka dalam hitungan menit dasbor saya nampak gambar yang bertuliskan malware. Artinya tindakan saya dianggap google tidakan yang tidak patut. Sejak saat itu saya sangat berhati-hati supaya google masih mengizinkan saya untuk menggunakan fasilitas google dan blogspot. Silakan Anda mengunjungi blog saya dengan cara KLIK DISINI
Kunjungi disini